Loading...
LAYANAN PUBLIK
Penulis: Kartika Virgianti 14:22 WIB | Rabu, 28 Mei 2014

Alih Fungsi Bawah Jalan Layang Akan Ditertibkan Pemprov DKI

Alih Fungsi Bawah Jalan Layang Akan Ditertibkan Pemprov DKI
Tempat olah raga di bawah jalan layang, diharapkan Pemrov DKI bisa mewujudkannya untuk warga Jakarta. (Foto: bandungkita.net)
Alih Fungsi Bawah Jalan Layang Akan Ditertibkan Pemprov DKI
Pasar tradisional di Gading Serpong. (Foto: paramountserpong.com)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama menyesalkan hampir di semua tempat di DKI masih terjadi pelanggaran fungsi termasuk di bawah jalan layang yang dia pastikan akan segera diselesaikan.

“Nanti semua mau kita selesaikan, di bawah jalan layang ada toko juga, itu akan disikat semua, tapi kan kita butuh waktu,” kata pria yang akrab disapa Ahok di Balai Kota, Rabu (28/5).  

Menurut perhitungannya, pihak yang akan dihadapi Pemprov DKI dalam penertiban tersebut akan ada 100-an orang bahkan lebih. Tetapi kemungkinan Pemprov DKI tidak tega menertibkan langsung semuanya sekaligus, sehingga sedikit demi sediki akan diselesaikan

“Kalau lawan 100 orang sekaligus tidak sanggup, kita kurangi 50. Kalau tidak sanggup dikurangi 25, sampai10, seperti itu ilmunya.

Nantinya, bawah jembatan itu apabila sudah ditertibkan akan dibangun fasilitas sosial, bisa berupa ruang terbuka hijau (RTH), tempat olah raga, sampai tempat pedagang kaki lima (PKL) yang resmi dari Pemprov DKI. Tidak hanya itu saja, Basuki juga ingin memasangkan CCTV demi alasan keamanan.

“Seperti jembatan di Tanjung Barat, padahal di bawahnya malah ada polisi,” tutur Basuki.

“Bukan cuma itu, malah sekarang di dekat rumah saya di jalan Ekor Kuning (Pluit, Jakarta Utara) semua pasar tradisional dibikin kayak mall, ditulis punya tentara. Ya kita sih tidak takut, cuma saya bilang tadi, kalau kamu tidak bisa melawan 100 orang, dikurangi dulu lawannya,” selorohnya.

Lebih lanjut Basuki menuturkan bahwa selama ini konsep pembangunan mall dan pasar tradisional sudah salah, di mana diatur jaraknya harus ratusan meter.

“Yang benar harus simbiosis mutualisme. Kamu lihat mall Gading Serpong, ada yang datang ke mall, ada juga pasar untuk kelas dua yang lokasinya berdekatan. Itu harus digabung, yang penting bukan soal jaraknya, tapi yang pasar tradisional juga jangan pungut pembayaran dua tahun di muka seperti di mall. Kalau dua tahun di muka, orang kecil tidak sanggup, tapi kalau bikin bulanan ya sanggup,” tukasnya.

 

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home