Loading...
EKONOMI
Penulis: Prasasta Widiadi 08:18 WIB | Rabu, 04 Februari 2015

Amien Sunaryadi: Angka 14 M Recovery Migas Realistis

Amien Sunaryadi: Angka 14 M Recovery Migas  Realistis
Amien Sunaryadi (kanan) memberi penjelasan kepada para anggota Badan Anggaran DPR RI, Selasa (3/2). (Foto: Prasasta Widiadi).
Amien Sunaryadi: Angka 14 M Recovery Migas  Realistis
Ruang Rapat Badan Angggaran.

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Amien Sunaryadi, meyakinkan DPR bahwa angka cost recovery minyak dan gas yang disepakati sebesar  14 miliar dolar AS merupakan angka yang realistis melihat perkembangan realisasi cost recovery yang terjadi pada empat tahun sebelumnya.

"Skenario 14,097 miliar (dolar AS) ini saja sudah sangat berat, di bawah angka tersebut sepertinya tidak mungkin," kata Amien dalam Rapat Kerja Panitia Kerja A Pembahasan Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan 2015 (Raker Panja A) di ruang Badan Anggaran (Banggar), Kompleks Parlemen, DPR RI, Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (3/2).

Amien menjelaskan bahwa dari beberapa tahun sebelumnya angka cost recovery bervariatif dan rata-rata berada pada kisaran 15 miliar dolar AS. Sebagai contoh pada 2011 cost recovery mencapai  15,2 miliar dolar AS, 2012 sebesar Rp15,5 miliar, 2013 mencapai  Rp 15,919 miliar, dan 2014 sebesar  Rp 15,13 miliar.

Pihaknya tidak bisa menurunkan cost recovery lebih rendah dari angka tersebut karena dinilai tak akan realistis. Terlebih, jika diturunkan, maka dirinya khawatir bisa menimbulkan risiko pada produksi migas tahun ini.

"14 miliar (dolar AS) saja kami setengah mati diskusi dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), kalau kurang dari itu pasti ada risiko," kata Amien. Pada rapat kerja SKK Migas dan Banggar DPR RI menyetujui angka cost recovery migas pada 14 miliar dolar AS.

Menteri ESDM Sudirman Said beberapa waktu lalu mengatakan, harga minyak dunia yang cenderung masih rendah akan bertahan cukup lama. Adapun asumsi ICP sebesar  70 dolar AS per barel yang sebelumnya dicanangkan oleh pemerintah tidak lagi memadai lantaran disusun pada November 2014. Sudirman menduga, turunnya harga minyak dunia nampaknya bakal membuat KKKS melakukan antisipasi untuk menurunkan produksi minyak mereka.

Dengan adanya penurunan produksi KKKS tentunya akan memengaruhi lifting minyak Indonesia tahun ini. Namun, hingga saat ini pemerintah masih menaruh asumsi lifting dalam Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2015 sebesar 849 barel per hari (bph).

Editor : Eben Ezer Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home