Loading...
EKONOMI
Penulis: Eben E. Siadari 08:13 WIB | Senin, 14 November 2016

Analis: Tekanan Pelemahan Rupiah Berlanjut

Ilustrasi: Sejumlah orang mengantre untuk menukarkan uang di mobil keliling milik Bank Indonesia di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Jumat (21/10). Peredaran uang kertas maupun uang logam di masyarakat melalui kas yang dikeluarkan Bank Indonesia mencapai Rp 550 triliun hingga Rp 600 triliun. (Foto: Antara)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Tekanan terhadap pelemahan nilai tukar rupiah diperkirakan berpeluang bertahan dalam jangka pendek, paling tidak hingga sidang The Federal Reserve Amerika Serikat pada 16 Desember mendatang.

Meskipun demikian, ruang pelemahan tersebut dapat terbantu dengan kehadiran Bank Indonesia di pasar valuta asing. Saat ini, BI dibekali dengan cadangan devisa sebesar US$ 115,7 miliar.

Ini merupakan analisis dari Samuel Sekuritas pagi ini, didasarkan pada berbagai perkembangan terbaru perekonomian global dan domestik.

Ditingkat global, Samuel Sekuritas menyoroti  Trump yang memenangi pemilu AS berencana menggunakan kebijakan fiskal untuk mendorong ekonomi sehingga memicu spekulasi pelembaran defisit anggaran AS. Imbal hasil US Treasury naik tajam walaupun S&P 500 merespon positif kebijakan Trump tersebut.

Namun, ketidakpastian lain terlihat mereda, kata Samuel Sekuritas; terlihat dari pound sterling dan saham Deutsche Bank menguat tajam.

Sementara itu, harga minyak masih melemah merespon semakin menjauhnya kata sepakat untuk memangkas produksi OPEC.

Dari kancah ekonomi globalm yang sedang ditunggu pagi ini, menurut Samuel Sekuritas, adalah penjualan ritel serta produksi industri Tiongkok yang diperkirakan melambat.

Dari dalam negeri, sorotan utama tertuju pada pertumbuhan ekonomi yang melambat di tengah ketidakpastian global.

Menurut Samuel Sekuritas, fakta ini sudah cukup untuk memicu pelemahan rupiah dan IHSG yang tertular oleh pelemahan tajam harga Surat Utang Negara yang hampir 40 persen kepemilikannya dikuasai oleh investor asing.

"Tekanan pelemahan terhadap rupiah berpeluang bertahan dalam jangka pendek paling tidak hingga FOMC meeting di 16 Desember," demikian analisis harian Samuel Sekuritas.

Penguatan rupiah diperkirakan baru terjadi dalam jangka menengah dipicu oleh membaiknya indikator fundamental seperti defisit neraca transaksi berjalan, inflasi serta prospek perbaikan defisit fiskal.

Fokus pasar dalam waktu dekat, menurut Samuel Sekuritas adalah pada data perdagangan Indonesia yang akan diumumkan pada Selasa siang serta BI RR rate yang akan diumumkan pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada hari Kamis (17/11), yang diperkirakan tidak berubah.

Jumat lalu, nilai tukar rupiah sempat mengalami depresiasi hingga tiga persen ke Rp 13.545 per dolar, menurut data Bloomberg, sebelum BI melakukan intervensi. Rupaih kemudian menguat ke Rp 13.288 per dolar AS.

Pejabat Bank Indonesia mengakui melakukan intervensi setelah rupiah melemah tajam bersama dengan mata uang Asia lainnya. Sentimen terhadap negara-negara emerging market terjadi karena spekulasi bahwa pemerintah Donald Trump akan menjalankan kebijakan ekonomi proteksionistis yang akan memicu pengetatan oleh bank sentral mereka.


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home