Loading...
DUNIA
Penulis: Diah Anggraeni Retnaningrum 04:26 WIB | Minggu, 09 Februari 2014

Angola Masih Didera Bencana Kekeringan

Banyak anak-anak tidak bisa pergi ke sekolah karena terlalu lemah untuk pergi. (Foto: wikipedia.org)

LUANDA, SATUHARAPAN.COM – Seorang wanita dan anaknya menggali lubang di palung kering, berharap ada setetes air mengalir dari dalamnya. Sinar matahari yang terik tanpa ampun menghalangi awan mendung yang akan mendatangkan hujan di tempat ini. Penduduk lokal mengatakan bahwa kekeringan ini telah terjadi di Angola selama lebih dari 30 tahun.

Di desa Oxavikwa, penduduk setempat berkumpul di hari Minggu pagi yang panas untuk menerima ransum makanan dari jagung, kacang, dan minyak sayur. Kaveliunwa Katjipaleke, yang sedang mengandung, datang untuk mengambil bagiannya bersama dengan ibunya, Emilia Katiti.

“Kami sangat berterima kasih untuk pertolongan ini. Saya sedang mengandung dan kelaparan tidak baik untuk bayi yang ada di kandungan saya,” Katjipaleke menjelaskan.

“Terkadang saya tidak bisa menahan rasa lapar ini dan akhirnya saya pergi ke tetangga untuk meminta makanan meskipun mungkin mereka tidak punya makanan juga,” kata Katiti dan menjelaskan bahwa beberapa keluarga makan hanya satu kali atau tidak sama sekali dalam sehari.

Meskipun hujan mulai turun di beberapa bagian Angola, situasi kekeringan masih melanda di beberapa daerah selama kurang lebih tiga tahun. Di daerah selatan provinsi Cunene dan Huila, lebih dari 629 ribu orang (57% dari populasi Angola) masih membutuhkan bantuan darurat.

Merespons kekeringan yang terjadi di Angola, pada Agustus 2013, The Lutheran World Federation (LWF) dan mitra lokal, ACT  yang termasuk dalam program Departemen Pelayanan Dunia LWF (DWS) di Angola dan Gereja Lutheran Evangelis Angola mendistribusikan makanan kepada daerah yang paling parah dilanda kekeringan. Penyaluran tersebut rencananya dilaksanakan hingga April 2014 ketika panen pertama dimulai.

Keluar dari Kelaparan

Di Oxavikwa, sebuah desa terpencil di Provinsi Cunene, hujan yang tidak pernah turun telah membuat munculnya berbagai macam penyakit dan kurang gizi terhadap masyarakat setempat. Ternak dan beberapa hewan terlihat hanya tinggal kulit dan tulang.

Melihat situasi yang menyedihkan tersebut, banyak orang memutuskan untuk meninggalkan rumah mereka dan pindah ke tempat di mana mereka dapat menemukan padang rumput untuk ternak dan ke kota untuk mencari sesuatu demi bertahan hidup.

“Di saat kami selesai menjual kambing, kami pindah. Kemudian kami tidak mempunyai apa-apa. Namun, saya benar-benar berharap hujan akan terus mengguyur tempat ini dan kami tidak harus pindah,” kata Jeremias Munekamba, ayah dari tujuh orang anak.

Sangat sulit mendorong orang untuk tetap tinggal, kata Rev. Salomão Tchoya, pendeta IELA setempat. Dia juga menambahkan bahwa tanpa hujan, masyarakat tidak bisa menanam makanan pokok, mahangu atau jawawut dan memelihara hewan ternak mereka.

“Mereka ingin keluar dari kelaparan. Namun tidak memiliki apa-apa yang tersisa,” kata dia.

Penyakit Kolera Bertambah

Selama bulan Januari, Forum ACT di Angola melaporkan bahwa kekeringan dan krisis pangan sekarang ini telah membuat wabah kolera semakin parah, dengan jumlah penderita penyakit kolera yang terus bertambah dibandingkan tahun lalu. Pada 2013, lebih dari 3.840 orang yang menderita kolera dan 133 orang meninggal dunia di Provinsi Cunene, sedangkan di Huila mencapai angka 1.440 orang dan 46 meninggal dunia.

Meskipun angka yang sangat banyak tercatat di Cunene namun jika dilihat pada tahun 2012 relatif lebih sedikit dengan perbedaan angka 221 orang, sebagian karena mendapat campur tangan langsung dari pemerintah dan kesadaran tentang kebersihan dan sanitasi masih diperlukan untuk mencegah wabah.

Ada kekhawatiran bahwa wabah kolera dapat menyebar jika curah hujan meningkat. Desa-desa terpecil tidak memiliki jamban di rumah mereka, orang-orang dengan bebas menggali lubang untuk membuang kotoran mereka di semak-semak. Dengan hujan lebat, ada risiko tinggi bahwa kotoran manusia yang terkena air hujan tersebut akan meningkatkan penyebaran penyakit.

“Wabah kolera adalah hasil dari kurangnya kesadaran akan kebersihan dan toilet. Ditambah lagi dengan masalah masyarakat minum air dari bendungan buatan. Air yang sama itu digunakan untuk memasak, mencuci pakaian, mandi dan minum ternak. Kami sekarang akan meningkatkan kesadaran kesehatan dengan mendidik masyarakat, itulah tahap kedua dari tanggap darurat,” kata Abrão Mushivi, koordinator darurat untuk program LWF/ DWS di Angola.

Beberapa ratus meter dari titik distribusi makanan, seorang wanita tergeletak di bawah pohon dengan bayinya. Dia telah didiagnosis dengan kolera dan nyaris tidak memiliki energi untuk mengangkat kepalanya.

“Biasanya kolera membutuhhkan waktu 24 jam untuk membuat Anda lemah, tetapi karena dia (wanita) itu sudah begitu lemah karena kelaparan, keadaannya semakin memburuk dalam hitungan beberapa jam begitu saja,”

“Tapi untungnya dia semakin lebih baik sekarang.”

Terlalu Lemah untuk Pergi ke Sekolah

Saat matahari mulai terbenam, beberapa orang masih menunggu bagian mereka masih makan jagung dan kacang-kacangan. Beberapa orang khawatir persediaan makanan akan segera habis sebelum giliran mereka. Tapi Tchoya meyakinkan semua orang bahwa mereka akan menerima makanan, ia sangat menyadari bahwa makan jagung sangat dibutuhkan agar mereka bisa pulang dan memasak.

“Kami tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Kekeringan parah pernah terjadi pada tahun 1981, tapi tidak separang seperti sekarang ini,” kata dia.

Krisis pangan juga menyebabkan masalah-masalah sosial, uskup IELA, Tomás Ndawanapo melihat kekeringan ini menjadi sebuah keprihatinan besar. Menurut banyak orang tua, anak-anak tidak memiliki energi yang cukup untuk makan dan tidak bersekolah karena tidak memiliki energi untuk berjalan jauh dan tetap terjaga di kelas.

“Negara ini tidak akan tumbuh jika anak-anak tidak bersekolah. Kita perlu anak-anak muda yang berpendidikan. Sangat penting bagi kita sebagai masyarakat dan sebuah karya gereja bersama-sama dalam situasi ini,” kata dia.

Sementara beberapa daerah dari Angola saat ini mengalami curah hujan yang cukup tinggi dimana pada tahun-tahun kemarin curah hujan sangat sedikit. Di desa Ovaxikwa, mereka yakin bahwa untuk kembali ke keadaan normal masih jauh dari yang diharapkan. (lwf-assembly2003.org)

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home