Loading...
RELIGI
Penulis: Bayu Probo 12:39 WIB | Selasa, 31 Desember 2013

Apa yang Terjadi Jika Timur Tengah Tanpa Orang Kristen? (3)

Para pendeta Mesir berkumpul di depan Gereja Biara Perawan Maria & St Abraam di Dalga, Provinsi Minya, Mesir, yang dirusak kaum Islamis, 3 September 2013. (Foto: Roger Anis/El Shorouk Newspaper/AP)

SATUHARAPAN.COM – Namun, melihat semua masalah tadi, kondisi saat ini bukan yang paling gelap dalam sejarah orang Kristen di Timur Tengah. Barbara Roggema, pakar hubungan Kristen-Muslim di King College London, mencatat bahwa ada banyak siklus penganiayaan dan kemakmuran orang Kristen di kawasan itu selama berabad-abad.

Di bawah penguasa Islam seperti kesultanan Mamluk Mesir 1250-1517, orang-orang Kristen—terutama mereka yang pernah menduduki jabatan pemerintah—menjadi korban kekerasan dan diskriminasi. Kekaisaran Ottoman (Utsmaniyah) selanjutnya memberikan komunitas Kristen otonomi yang lebih dan itu memungkinkan mereka untuk berkembang di banyak daerah, meskipun ada pengecualian mengerikan seperti pada 1915 saat terjadi genosida Armenia yang menewaskan sedikitnya sejuta orang Kristen Armenia tewas.

Orang Kristen Arab memainkan peran kunci dalam Nahda, atau kebangkitan Arab, dari abad ke-19, yang membantu untuk mendorong Timur Tengah ke depan setelah berabad-abad kemunduran di bawah kekuasaan dinasti Ottoman. Orang-orang Kristen pada saat itu memeluk gagasan identitas Arab yang didasarkan pada bahasa dan budaya bersama dan bukan agama. Mereka menjadi ujung tombak munculnya sekolah-sekolah baru dan sangat dikenal dalam lingkaran sastra. Mereka juga pedagang yang sangat sukses.

Tapi kolonialisme Eropa merumitkan dinamika tersebut. Sebab, beberapa kaum Muslim membenci apa yang mereka lihat sebagai perlakuan istimewa pihak Barat kepada orang Kristen. Hal ini memicu ketidakpercayaan dan persepsi bahwa orang Kristen adalah impor Barat daripada masyarakat asli setempat—stereotip yang terus dilawan orang Kristen Arab hingga hari ini. Kecurigaan makin memburuk sejak 2011 pemberontakan meletus di seluruh dunia Arab.

Dr Roggema melihat tiga perbedaan utama antara masalah yang dihadapi umat Kristiani hari ini dan orang-orang dari masa lalu: kelompok jihad memiliki akses ke senjata pada skala yang tidak diketahui dalam sejarah, propaganda dapat lebih mudah menyebar dari sebelumnya, dan karena keterlibatan Barat di Timur Tengah, komunitas Kristen setempat lebih mudah dituduh loyal ke Barat daripada kepada masyarakat mereka sendiri.

“Ini adalah kesalahan umum sejarah dan logika jika mengklaim bahwa menjadi Kristen sama dengan pro-Barat, tapi kesalahan itu menguntungkan bagi jihadis. Sebab mereka mudah  menuduh orang-orang Kristen Timur Tengah tidak milik atas tanah mereka sendiri,” katanya.

Nasief Awwad baru berusia tujuh tahun ketika ibunya meninggal, jadi ayahnya—seorang buruh Muslim—memutuskan untuk mendaftarkan dirinya di sebuah sekolah asrama yang dijalankan kaum Kristen Mennonite  di kota Hebron, Tepi Barat. Kemudian, Nasief dipindahkan ke Sekolah Menengah Hope Secondary School dekat Bethlehem, sehingga ia tidak hanya menerima pendidikan model Kristen, tetapi juga pengasuhan.

Hari ini,  Awwad adalah kepala sebuah perusahaan konstruksi jalan raya utama dan melayani di banyak pemerintah daerah. Pada satu titik, ia menawarkan sebanyak 20 beasiswa universitas setiap tahun untuk mahasiswa berprestasi. Dia memuji pendidikan Kristen sebagai batu fondasi kesuksesannya dan mengatakan ia menikmati mengoreksi kesalahpahaman tentang agama Kristen di antara sesama muslimnya.

“Saya menghargai semua hidup saya... bantuan yang saya terima, pendidikan yang saya dapatkan dari sekolah Mennonite, dari keluarga Mennonite—guru dan [para sponsor di luar negeri] yang membayar untuk pendidikan saya,” kata Awwad, yang mengirim keempat anak-anaknya ke Friends School di Ramallah yang dikelola kaum Kristen Quaker. “Saya tidak melupakannya.”

Keuntungan pendidikan Kristen Awwad menggarisbawahi mengapa banyak yang mengatakan bahwa penting untuk menjaga komunitas Kristen di Timur Tengah. Mereka melihat kualitas sekolah mereka, kontribusi mereka sebagai pengusaha, pedagang, dan konsumen kelas menengah-atas. Dan, pluralitas agama yang mereka bawa sebagai hal penting dan memperkaya masyarakat Arab. Sekarang, sebagai komunitas mereka menyusut atau menjadi makin terpinggirkan, pertanyaan kuncinya adalah apakah pengaruh positif juga akan berkurang?

Di satu sisi, Tepi Barat memberikan contoh bagi masyarakat Arab lainnya yang mungkin terlihat jika emigrasi Kristen terus berlanjut. Di Bethlehem, misalnya, pemilik bisnis Kristen yang pernah mencapai sepertiga yang menggeluti industri batu dan marmer, hari ini mereka tinggal dua persen, kata ekonom Samir Hazboun, yang memimpin Kepala Kamar Dagang Bethlehem. Dalam industri tekstil, mereka pernah mengelola sekitar 80 persen dari bisnis, namun kini sebagian besar telah ditutup.

Orang Kristen juga mengelola lebih baik dalam industri pariwisata. Hari ini, 40 dari 43 hotel di Bethlehem dimiliki oleh orang-orang Kristen, meskipun jarang penuh, dan banyak pemilik toko souvenir juga mengatakan mereka sedang berjuang. Karena tantangan ekonomi, Israel sering disalahkan sebagai penyebabnya, telah membuat banyak orang Kristen—serta Muslim—meninggalkan Bethlehem.

Beberapa mengatakan kualitas pendidikan yang tinggi yang ditawarkan oleh sekolah-sekolah Kristen tanpa disadari memengaruhi eksodus Kristen—dan dengan itu hilanglah elite terdidik.

“Sekolah-sekolah Kristen yang membantu untuk mendidik orang-orang Kristen di Jalur Gaza dan di Tepi Barat secara tidak langsung, tanpa sengaja, telah mendorong diaspora orang Kristen... dan mereka melakukan itu dengan cara memberikan pendidikan yang berkualitas kepada orang Kristen,” kata Alex Awad dari Bethlehem Bible College sembari menekankan bahwa cakrawala yang lebih luas, bahasa-bahasa Eropa, dan keakraban budaya membantu mereka untuk masuk ke masyarakat Barat. “Itu adalah berkat bagi orang-orang ini, tapi memperburuk masyarakat secara keseluruhan.”

Tetapi orang- orang Kristen yang masih tinggal, aktif dalam masyarakat. Menurut Diyar Konsorsium-Lutheran di Bethlehem, hampir setengah dari pegawai sipil Palestina beragama Kristen, dan lembaga-lembaga Kristen (termasuk gereja) adalah salah satu perusahaan terbesar setelah Otoritas Palestina. Gereja menyediakan lapangan pekerjaan bagi 22.000 orang Kristen dan Muslim.

“Anda akan melihat bahwa orang Kristen punya peran sangat penting di organisasi, yayasan, sekolah, rumah sakit. Mereka sangat berkontribusi dalam perkembangan dan kemakmuran di kota,” kata Walikota Bethlehem, Vera Baboun. Ia juga mengatakan bahwa ia dan rekan-rekan Kristen-nya juga mempertahankan pengaruh yang signifikan dalam Otoritas Palestina. Beberapa menjabat sebagai duta besar dan menteri pemerintah. “Kami adalah bagian dari proses pengambilan keputusan di Palestina.”

Sejauh interaksi tersebut hilang—atau diminimalkan dengan penganiayaan, pemisahan, atau tidak adanya orang-orang Kristen—para ahli percaya hal itu akan merugikan masyarakat. “Penyempitan kepercayaan sudah terjadi,” kata Nina Shea, salah satu penulis Persecuted: The Global Assault on Christians. “Ada intoleransi dari penganut  agama ‘yang lain’ dan itu akan terus terjadi. Bahkan ketika semua non-Muslim telah diusir, dorongan untuk penyeragaman akan terus berlanjut, dan sekte-sekte akan berperang satu sama lain.” [seperti Sunni vs Syiah, Red.) (bersambung)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home