Loading...
EKONOMI
Penulis: Martha Lusiana 18:46 WIB | Selasa, 26 Mei 2015

AS: Regulasi Hambat Investor Masuk Indonesia

Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia, Robert O. Blake di Universitas Al-Azhar Jakarta, Selasa (26/5).

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Meski Indonesia sering menggaungkan upaya untuk menarik lebih banyak investasi, namun di saat yang sama Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia, Robert O. Blake, menilai Indonesia malah menunjukkan hambatan dalam perdagangan global melalui regulasi dan pembatasan impor.

“Pengalaman di seluruh dunia menunjukkan bahwa regulasi dan pembatasan impor lainnya cenderung menakut-nakuti investor,” ujar Blake, di Universitas Al-Azhar, Jakarta, Selasa (26/5).

Blake mengatakan, investor layaknya konsumen lainnya yang berbelanja atas kesepakatan terbaik. Investor melihat negara mana yang menawarkan pajak terbaik dan insentif lainnya. Mereka melihat tempat yang paling mudah untuk memulai bisnis, mendapatkan tanah dan izin lainnya, serta memastikan kontrak dapat ditegakkan dengan hukum yang kuat.

Menurut catatan Indeks Kemudahan Berbisnis oleh Bank Dunia (World Bank), Blake mengungkapkan, Indonesia menempati urutan di belakang Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina dan Brunei Darussalam.

Keberhasilan Singapura menunjukkan bahwa pendekatan berbasis insentif membuatnya mudah untuk melakukan bisnis. Hal tersebut sekaligus memperlihatkan cara yang paling efektif untuk menarik modal asing.

“Indonesia sebaiknya mempelajari dengan baik insentif apa yang akan ditawarkan dan cocok sehingga dapat menarik investor yang ingin memproduksi di Indonesia untuk pasar ASEAN,” ujar Blake.

Rencana Presiden Joko Widodo yang akan memperbaiki infrastruktur, menjamin pasokan energi yang dapat diandalkan, merampingkan proses perizinan, dan mengurangi biaya logistik dapat mendorong Indonesia menjadi negara yang lebih menarik untuk melakukan bisnis dan ekspor.

Perusahaan-perusahaan manufaktur AS yang sudah beroperasi di Indonesia merupakan alat bisnis bagi ekspor Indonesia, seperti Honeywell di Bintan Kepulauan Riau, perusahaan alat berat Caterpillar, Fluidic Energy, dan Cargill.

Blake mengatakan, permintaan dunia untuk barang-barang manufaktur akan terus meningkat dari waktu ke waktu, melalui kekuatan anak-anak muda Indonesia.

“Indonesia berada di tempat strategis untuk mengembangkan sektor tersebut. Sebab, pekerjaan di bidang ini dapat memberikan upah yang lebih tinggi dan kondisi kerja yang lebih baik. Pada gilirannya akan membantu Indonesia bergerak ke arah pertumbungan ekonomi negara,” ujarnya.

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home