Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Sabar Subekti 22:19 WIB | Jumat, 03 Juni 2022

BBKSDA Papua Lepas Liarkan Penyu Lekang

Pelestarian penyu lekang dirintis oleh Karel Indey di Kampung Yewena, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura.
Pelepasliaran penyu lekang di Kampung Yewena, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura. (Foto: KLHK)

JAYAPURA, SATUHARAPAN.COM-Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua bersama kelompok Desa Binaan Konservasi Marekisi Nung dan PLN Unit Induk Pembangunan (UIP) Maluku Papua melepasliarkan 20 ekor penyu lekang (Lepidochelys olivacea).

Kegiatan lepas liar berlokasi di Pantai Marekisi, Kampung Yewena, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura pada hari Sabtu (28/5) pekan lalu. Pantai Marekisi merupakan tempat indukan penyu lekang meletakkan telur pada setiap musim.

Pendamping Desa Binaan Konservasi Marekisi Nung, Taufik, menjelaskan bahwa kegiatan lepas liar ini dilaksanakan untuk memperingati Hari Penyu Sedunia yang jatuh pada tanggal 23 Mei setiap tahun. “Ini merupakan bentuk kepedulian masyarakat terhadap kelestarian keanekaragaman hayati, khususnya penyu lekang,” kata Taufik.

Salah satu keistimewaan penyu lekang dapat dilihat dari status konservasinya, baik di lingkup regional maupun internasional. Di Indonesia, penyu lekang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

Sementara berdasarkan IUCN, status konservasi penyu lekang ialah Vulnerable/VU (rentan). Penyu lekang juga termasuk Appendix I CITES.

Dimulai oleh Karel Indey

Karel Indey mulai melakukan penyelamatan penyu lekang pada tahun 1995 dengan cara yang sangat sederhana. Dia berpikir, tindakan penyelamatan itu sangat perlu bila tak ingin penyu lekang mengalami kepunahan.

Harapan Karel Indey mulai terang ketika BBKSDA Papua membentuk kelompok Desa Binaan Konservasi Marekisi Nung pada 21 April 2021, dengan fokus kegiatan pelestarian penyu, khususnya spesies penyu lekang. Itu terjadi setelah bertahun-tahun Karel Indey bekerja sendiri.

Sampai saat ini Kelompok Desa Binaan Konservasi Marekisi Nung telah memiliki bak penampungan dan pembesaran, serta telah melepasliarkan 96 tukik penyu lekang di Pantai Marekisi pada 3 September 2021. Sementara di bak pembesaran, Kelompok Marekisi Nung saat ini merawat sekitar 200 tukik.

Kepedulian terhadap penyu lekang di Kampung Yewena juga datang dari PLN Unit Induk Pembangunan (UIP) Maluku Papua. Pada momentum pelepasliaran penyu lekang ini, PLN UIP Maluku Papua menyerahkan Bantuan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sebesar 75 juta rupiah kepada Kelompok Desa Binaan Marekisi Nung. Bantuan tersebut dicanangkan untuk membangun lima bak penetasan penyu dengan kapasitas keseluruhan mencapai 800 tukik.

General Manager PLN Unit Induk Pembangunan (UIP) Maluku Papua, Sukahar, menyatakan program bantuan konservasi ini merupakan langkah sinergi PLN bersama BBKSDA dalam memastikan pembangunan yang berkelanjutan.

“Upaya pembangunan infrastruktur kelistrikan, khususnya di daerah kabupaten Jayapura, tentunya PLN tidak dapat bekerja sendiri. Melalui program pelestarian lingkungan bersama masyarakat serta bekerja sama dengan BBKSDA Papua merupakan salah satu upaya kami dalam memastikan pembangunan kelistrikan sudah memenuhi asas berkelanjutan,” kata Sukahar.

Pada saat yang sama, pelaksana tugas (Plt.) Kepala BBKSDA Papua, Abdul Azis Bakry, memberikan apresiasi kepada kelompok Desa Binaan Marekisi Nung, khususnya kepada Karel Indey sebagai pelopor pelestarian penyu di Kampung Yewena.

“Luar biasa menyimak sejarah Pak Karel Indey. Melestarikan penyu ini benar-benar dilandasi jiwa konservasi, berdasarkan kesadaran yang muncul dari dalam diri dia sendiri. Lebih dari itu, hal yang membuat saya takjub adalah kreativitas beliau menafsirkan alam. Proses menetaskan dan membesarkan tukik sampai siap dilepasliarkan dia pelajari dari kebiasaan penyu itu sendiri,” katanya.

Indey melihat bagaimana indukan-indukan penyu menyimpan telur di dalam pasir, dan seterusnya. Dia lakukan itu di rumah, karena kalau telur-telur tetap di pantai, predatornya terlalu banyak, terutama manusia. “Saya rasa tindakan Pak Karel  sangat luar biasa,” kata Azis Bakry.

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home