Loading...
SAINS
Penulis: Reporter Satuharapan 11:45 WIB | Kamis, 04 Juli 2013

Beda Kebutuhan, Beda Perlakuan Bagi Anak Disleksia dan Autis

Terapi anak disleksia di Magetan, Jawa Timur (Foto: pnpm-support.org)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Belum banyak orangtua yang menyadari cara memberikan pendidikan yang tepat bagi anak berkebutuhan khusus, seperti disleksia dan autis. Terkadang masyarakat justru tidak menyadari adanya kebutuhan khusus tersebut pada diri anak ataupun orang lain di sekitar mereka.

Disleksia menurut Mayo Clinic merupakan gangguan belajar yang dicirikan dengan kesulitan membaca maupun mengingat. Hal ini akibat adanya kelainan pada area otak kiri yang memproses kemampuan berbahasa dan ingatan. Anak-anak disleksia memiliki penglihatan dan kecerdasan normal, terkadang tidak disadari selama bertahun-tahun bahkan sampai dewasa.

Tidak ada obat untuk disleksia, karena merupakan faktor keturunan. Masalah tuntutan sosial adalah permasalahan utamanya. Hal itu misalnya dalam menggunakan teknologi, ketidakmampuan membaca dan menulis, mengingat angka, sulit konsentrasi atau menjawab pertanyaan panjang lebar seperti uraian. Akibatnya, memunculkan stereotip "bodoh" yang akan berdampak pada psikis anak dan kehidupan sosial mereka.

Menurut Robert Langston, penulis dari Psychology Today yang juga salah satu penderita disleksia, anak-anak yang mengalami disleksia sebenarnya ingin mengetahui apa yang terjadi pada mereka. Namun ketidaktahuan masyarakat dapat menghalangi anak untuk sukses. Orangtua penderita bahkan terkadang tidak paham dan tetap menyekolahkan anak di sekolah umum. Mereka memaksakan anak belajar seperti anak normal lainnya. Hal itu bisa menyebabkan anak disleksia tertinggal dalam belajar.

Menurut sebuah penelitian yang dilansir dari BBC, individu dengan autis memiliki kelainan pada amigdala yang berperan dalam memproses emosi pada area otak kanan. Sedangkan area otak yang berkaitan dengan fungsi informasi dan visual sangat berkembang. Hal tersebut menjelaskan mengapa penyandang autis biasanya lebih unggul dalam tugas-tugas visual misalnya menggambar sesuatu secara detail.

Pendidikan Yang Tepat

Pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus telah diatur dalam UU No.20/2003. Baik anak disleksia maupun autis pada dasarnya bisa bersekolah di sekolah umum, namun dengan catatan orangtua harus peka terhadap kebutuhan khusus si anak. Meskipun disleksia dan autis tidak bisa disembuhkan, ada berbagai pendekatan yang bisa membuat anak memaksimalkan potensinya.

Pendekatan disleksia ditujukan untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis, dan mengingat, terutama huruf dan angka. Orangtua bisa mencari bantuan terapis profesional. Selain itu, anak juga harus tetap didampingi dalam belajar seperti terus memotivasi anak, memberikan contoh orang-orang yang juga bisa sukses dengan disleksia agar rasa percaya diri meningkat. Orangtua bisa membangkitkan gairah belajarnya dengan hal-hal yang disukai anak, misalnya bacaan tentang memasak jika anak suka.

Bagi anak autis mungkin berbeda. Orangtua perlu mencari bantuan profesional untuk melakukan terapi pada anak mereka. Saat ini di Indonesia sudah cukup banyak sekolah khusus anak autis, maupun terapis profesional. Berdasarkan situs autis.info ada 10 macam terapi yang bisa digunakan. Salah satunya terapi Analisis Perilaku Terapan (ABA), yaitu terapi yang mengubah serta memodifikasi perilaku dengan memberikan pujian tiap keberhasilan anak. Terapi ini yang paling banyak digunakan di Indonesia.

Pada dasarnya apapun metode yang dipilih untuk kebutuhan anak tersebut, kembali lagi kepada orangtua yang menentukan, karena terkait dengan tingkat pendidikan dan kemampuan mereka menggali informasi.

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home