Loading...
EKONOMI
Penulis: Melki Pangaribuan 15:49 WIB | Kamis, 18 Februari 2016

BI Rate Turun Jadi 7 Persen

Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla (tengah) bersama dengan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D. Hadad (kiri) dan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo (kanan) saat akan bersiap menutup bursa perdagangan diakhir tahun 2015 di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu (30/12). (Foto: Dedy Istanto).

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia RDG BI memutuskan menurunkan tingkat suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi tujuh persen dari sebelumnya 7,25 persen.

Selain itu, RDG BI juga menetapkan suku bunga Deposit Facility lima persen dan Lending Facility pada level 7,5 persen, serta menurunkan giro wajib minimum (GWM) primer dalam rupiah dari 7,5 persen menjadi 6,5 persen.

"Keputusan ini sejalan dengan pernyataan Bank Indonesia sebelumnya, bahwa ruang pelonggaran kebijakan moneter semakin terbuka dengan terjaganya stabilitas makroekonomi, serta mempertimbangkan pula inflasi yang rendah pada 2016, " kata Gubernur BI Agus Martowardojo saat jumpa pers di Jakarta, hari Kamis (18/2).

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman Hadad mengatakan, penurunan tingkat suku bunga tidak akan merugikan bank tetapi malah akan memperkuat karena bakal memperluas basis kreditur.

"Penurunan suku bunga kredit akan mampu memperluas basis penerima kredit," kata Muliaman Hadad setelah rapat terbatas ekonomi di Kantor Wakil Presiden, Jakarta.

Dengan kata lain, ujar dia, penurunan bunga juga akan membukakan akses yang lebih luas bagi mereka yang ingin mengambil kredit sehingga jumlah nasabah dari bank itu juga bakal bertambah.

Muliaman Hadad mengemukakan, pihaknya juga akan memberikan insentif bagi bank yang bisa meningkatkan efisiensinya.

Sebelumnya, pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Toni Prasetiantono menilai sekarang adalah waktu yang tepat bagi Bank Indonesia untuk menurunkan tingkat suku bunga acuan (BI rate).

"Ini waktu yang tepat turunkan BI rate. Saat ini inflasi rendah, cadangan devisa dalam batas baik, dan rupiah juga stabil," ujar Toni dalam sebuah seminar di Jakarta, hari Senin (15/2).

Saat Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 13-14 Januari 2016, BI memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 7,25 persen, dengan suku bunga Deposit Facility 5,25 persen dan Lending Facility level 7,75 persen.

Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengemukakan, tingkat bunga kredit yang tinggi yang masih dipraktikkan oleh berbagai bank di Indonesia berpotensi membuat orang malas berusaha.

"Dengan bunga yang tinggi, orang senang untuk makan riba dan mengajak orang malas," kata Wapres dalam acara pembukaan Rakernas Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) di Jakarta, hari Rabu (10/2).

Menurut dia, dengan suku bunga yang tinggi maka orang-orang yang memiliki kelebihan uang cenderung untuk hidup menempatkan uang di bank dan mengambil keuntungan bunga yang tinggi.

Namun, lanjut Wapres, hal itu berdampak negatif kepada orang-orang yang ingin bekerja atau membuka lapangan pekerjaan karena ongkosnya yang mahal karena dibebani pinjaman berbunga tinggi.

Untuk itu, ia mengemukakan bahwa pemerintah bakal mendorong agar aktivitas perekonomian dan pembukaan lapangan kerja dapat lebih ditingkatkan.

"Kalau tahun ini bunga kredit sembilan persen, tahun depan insya Allah tujuh persen," kata Jusuf Kalla. (Ant)

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home