Loading...
EKONOMI
Penulis: Melki Pangaribuan 17:22 WIB | Jumat, 01 November 2019

BPS: Makanan - Rokok Sumbang Inflasi Oktober 0,02 Persen

Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto saat menggelar konferensi pers terkait inflasi Oktober 2019 dan pertumbuhan produksi industri manufaktur di Jakarta, Jumat (1/11/2019). (Foto: Antara)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Badan Pusat Statistik mengungkapkan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Oktober 2019 mengalami inflasi 0,02 persen secara bulanan (month-to-month) yang didominasi kenaikan kelompok makanan jadi, minuman, dan rokok.

Kepala BPS Suhariyanto dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (1/11), mengatakan realisasi ini menjadikan inflasi Januari-Oktober 2019 mencapai 2,20 persen (year to date/ytd). Jika dibandingkan dengan Oktober 2018, inflasi tahunan hingga Oktober 2019 sebesar 3,13 persen (year on year/yoy).

"Ini menunjukkan besaran inflasi ini terkendali, sekarang tinggal dua bulan lagi menuju tutup tahun 2019, dan saya yakin target inflasi akan tercapai," ujarnya.

Pemerintah menargetkan inflasi tahunan sepanjang 2019 di 3,5 persen (yoy). Sementara, Otoritas moneter Bank Indonesia menjangkar inflasi tahunan di 2,5-4,5 persen (yoy).

Jika dibandingkan September 2019, inflasi bulanan pada bulan kesepuluh ini menunjukkan penurunan dibanding 0,27 persen (mtm) pada September 2019.

Suhariyanto menjelaskan jika dilihat secara komponen, kelompok bahan makanan jadi, minuman, dan tembakau mengalami inflasi tertinggi sebesar 0,45 persen dengan sumbangan kepada inflasi sebesar 0,08 persen.

Dari komponen ini komoditas yang cukup dominan kepada inflasi adalah nasi dan lauk pauk, rokok kretek dan rokok putih yang menyumbang inflasi masing-masing sebesar 0,01 persen.

Komponen kedua yang megalami inflasi tertinggi adalah kelompok tarif kesehatan dengan tingkat inflasi 0,3 persen. Kelompok tarif kesehatan ini seperti jasa kesehatan inflasi 0,15 persen, obat-obatan inflasi 0,71 persen, perawatan jasmani dan kosemtika inflasi 0,29 persen. Namun, andil kelompok ini relatif kecil terhadap inflasi yakni hanya 0,01 persen.

Di kelompok bahan makanan secara keseluruhan tercatat deflasi 0,41 persen dengan kontribusi deflasi 0,08 persen. Namun terdapat beberapa komoditas yang mengalami kenaikan yakni harga daging ayam ras sebesar 0,05 persen dan bawang merah sebesar 0,02 persen.

"Tetapi karena banyak komoditas yang mengalami penurunan harga seperti cabai, maka bahan makanan mengalami deflasi 0,41 persen," katanya.

Sementara itu, inflasi inti masih bergerak 0,17 persen. Oleh karena itu, Suhariyanto meyakini deflasi di kelompok bahan makanan bukan terjadi karena penurunan daya beli masyarakat.

Berdasarkan data BPS, inflasi terjadi di 43 kota di Indonesia, sedangkan 39 kota lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Manado, Sulawesi Utara, sebesar 1,22 persen dan terendah terjadi di tiga kota yakni Pematang Siantar, Tual, dan Ternate sebesar 0,01 persen.

Produksi Industri Besar dan Sedang Naik 4,35 Persen Triwulan III

BPS melansir produksi industri besar dan sedang (IBS) naik 4,35 persen pada triwulan III 2019 dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

"Jika dibandingkan pertumbuhan IBS triwulan III 2018 sebesar 5,04 persen dan triwulan III 2017 sebesar 5,46 persen, pertumbuhan IBS kuartal III ini mengalami perlambatan," kata Suhariyanto.

Kecuk, sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa perlambatan tersebut terjadi karena beberapa faktor, di antaranya kondisi perekonomian global yang melemah, masih terjadinya perang dagang Amerika Serikat dan China, harga komoditas yang fluktuatif, hingga berbagai kendala di dalam negeri.

Pada periode tersebut, beberapa IBS mengalami pertumbuhan produksi menggembirakan, salah satunya adalah industri makanan yang tumbuh 5,13 persen.

"Industri makanan tumbuh dengan kontribusi yang tertinggi, sehingga apa yang terjadi pada industri makanan akan berpengaruh banyak kepada performa industri secara keseluruhan,” ujat Kecuk.

Selain itu, industri minuman juga mengalami kenaikan 15,19 persen dan industri pakaian naik 15,29 persen. Kenaikan tertinggi terjadi pada industri percetakan dan reproduksi media rekaman yang angkanya naik 19,59 persen.

Namun, beberapa produksi industri mengalami penurunan tajam di antaranya pengolahan tembakau yang turun 12,73 persen dan mesin dan perlengkapan turun 12,75 persen.

Sedangkan, pertumbuhan produksi industri mikro dan kecil (IMK) pada triwulan III 2019 tumbuh menggembirakan, yakni 6,19 persen. Angka tersebut lebih tinggi jika dibandingkan triwulan III 2018 yang sebesar 3,88 persen dan triwulan III 2017 sebesar 5,34 persen.

Kecuk memaparkan kenaikan tertinggi terjadi pada produksi industri komputer, barang elektronika, dan optik yang mencapai 24,36 persen, karena produksi industri tersebut terus mengalami peningkatan.

"Beberapa IMK yang masih tumbuh bagus, di antaranya adalah industri makanan yang tumbuh 9,29 persen. Industri pakaian jadi juga tumbuh 3,67 persen," papar Kecuk.

Namun, beberapa produksi IMK mengalami penurunan terdalam, di antaranya industri peralatan listrik yang turun 32,88 persen, industri logam dasar turun 19,67 persen, dan industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki turun 6,30 persen. (Ant)

 


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home