Loading...
EKONOMI
Penulis: Melki Pangaribuan 21:10 WIB | Senin, 02 Mei 2016

BPS: Pertumbuhan Manufaktur Triwulan I 2016 Naik 4,08 persen

Kepala BPS, Suryamin dalam konferensi pers "Angka Inflasi April 2016" di kantor BPS, Jakarta, hari Senin (2/5). (Foto: Melki Pangaribuan)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM -  Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang (IBS) triwulan I 2016 naik sebesar sebesar 4,08 persen (year-on-year) terhadap triwulan I 2015.

“Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional naik 10,50 persen, industri barang galian bukan logam naik 8,58 persen dan industri logam dasar naik 7,61 persen,” kata Kepala BPS, Suryamin dalam konferensi pers "Angka Inflasi April 2016" di kantor BPS, Jakarta, hari Senin (2/5).

“Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia turun 10,85 persen, industri peralatan listrik turun 9,97 persen dan industri pakaian jadi turun 9,97 persen,” dia menambahkan.

Data BPS mencatat juga pertumbuhan produksi IBS triwulan I 2016 turun sebesar 1,41 persen (quarter-to-quarter) terhadap triwulan IV 2015. Jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah industri pengolahan tembakau turun 9,99 persen, industri karet, barang dari karet dan plastic turun 7,66 persen dan industri kertas dan barang dari kertas turun 5,73 persen.

“Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan terbesar adalah industri kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur) dan barang anyaman dari bamboo, rotan dan sejenisnya naik 5,60 persen, industri logam dasar naik 3,76 persen dan industri alat angkutan lainnya naik 3,51 persen,” sebutnya.

Suryamin mengatakan pada tingkat provinsi pertumbuhan produksi (IBS) triwulan I 2016 (y-on-y) yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Sumatera Utara naik 14,11 persen, Provinsi Riau naik 13,66 persen, dan Provinsi DKI Jakarta naik 12,83 persen.

“Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Papua Barat turun 5,93 persen, dan Provinsi Banten turun 0,96 persen,” katanya.

Kemudian pada tingkat provinsi pertumbuhan produksi (IBS) triwulan I 2016 (q-to-q) yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat naik 2,53 persen, Provinsi Papua naik 2,50 persen, dan Provinsi DIY Yogyakarta naik 2,21 persen.

“Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Bali turun 7,32 persen, Provinsi Riau turun 6,69 persen, dan Provinsi Lampung turun 6,25 persen,” kata Kepala BPS.

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home