Loading...
SAINS
Penulis: Sotyati 14:57 WIB | Sabtu, 05 September 2015

Darurat Asap, Presiden Panggil Plt Gubernur Riau

Deretan kereta dorong tidak terpakai karena aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, Kamis (3/9), terhenti. Aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru beberapa hari terakhir lumpuh akibat pekatnya kabut asap kebakaran lahan dan hutan yang dinilai membahayakan karena jarak pandang sangat terbatas. (Foto: Dok satuharapan.com/FB Anggoro)

PEKANBARU, SATUHARAPAN.COM - Presiden Joko Widodo langsung memanggil Pelaksana Tugas Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman, untuk membahas masalah tanggap darurat asap untuk penanggulangan kebakaran lahan dan hutan di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta.

"Pembahasan tentang darurat asap dan kepastian rencana kedatangan Presiden ke Riau," kata Kepala Biro Humas Setdaprov Riau Darusman, kepada Antara di Pekanbaru, Sabtu (5/9).

Ia mengatakan, Plt Gubernur Riau langsung bertolak dari Pekanbaru pada Jumat (4/9) malam ke Jakarta. Namun, karena penerbangan di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru lumpuh, Plt Gubernur Riau terpaksa menempuh jalan darat sekitar lima jam terlebih dulu ke Padang, Sumatera Barat.

"Karena tidak ada penerbangan di Bandara Pekanbaru kemarin malam, Plt Gubernur Riau berangkat dari Padang dengan pesawat pagi ini," ujarnya.

Sebelumnya, Plt Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman menyatakan belum perlu meningkatkan status siaga darurat kebakaran di Riau menjadi bencana nasional.

Padahal, faktanya kondisi kebakaran di Riau makin memburuk karena polusi asap sudah meningkat ke level berbahaya. Aktivitas sekolah diliburkan dan puluhan penerbangan dibatalkan di Bandara Pekanbaru akibat jarak pandang berbahaya bagi penerbangan.

Kondisi asap yang memburuk plus lemahnya kinerja pemerintah daerah ternyata mulai membuat gerah pemerintah di Jakarta. Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun langsung menggelar rapat terbatas penanganan kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan di Istana Presiden pada Jumat (4/9) pukul 13.00 WIB.

Rapat itu dihadiri oleh Kepala BNPB Syamsul Maarif, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Sekjen Kementerian LHK dan pejabat terkait.

"Ratas (rapat terbatas) dilakukan untuk merespons bencana asap yang makin meluas. Presiden sangat concern (peduli) dengan masalah kebakaran hutan dan lahan. Perlu dicarikan solusi permanen agar tidak berulang terus," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Ia mengatakan dalam rapat itu dipaparkan hampir 80 persen wilayah Sumatera terdampak langsung oleh asap.

Aktivitas Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru lumpuh total akibat jarak pandang hanya sekitar 500 meter, Kota Pekanbaru 500 meter, Rengat dan Pelalawan 800 meter, Bandara Sultan Thaha Jambi 600 meter.

"Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Pekanbaru, Rumbai, Siak, Bangko, Rohul, Kampar, dan Jambi lebih dari 300. Artinya sudah level sangat berbahaya," tukasnya.

"Arahan Presiden, penanganan agar diteruskan dengan operasi darurat asap," lanjut Sutopo.

Ia mengatakan Presiden Jokowi menginstruksikan agar Kementerian LHK berperan sebagai koordinator dalam penanganan kebakaran lahan dan hutan, didukung penuh oleh BNPB, TNI dan Polri. BNPB diminta terus menggelar hujan buatan dan pemadaman api dari udara.

Kemudian, TNI diminta mengerahkan personel untuk membantu pemadaman dan menjaga daerah agar tidak dibakar, sedangkan Polri meningkatkan penegakan hukum bersama Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS).

"Pemadaman di darat oleh BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, MPA dilakukan terus. Posko agar didirikan di delapan provinsi. Kepala Daerah tetap bertanggung jawab mengendalikan kebakaran hutan dan lahan di daerahnya. Target pada September 2015 teratasi," kata Sutopo.(Ant)

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home