Loading...
RELIGI
Penulis: Febriana Dyah Hardiyanti 07:05 WIB | Selasa, 05 Januari 2016

Dirjen Bimas Kristen: Persahabatan dengan PGI Tak Ikut Pensiun

Ketua Umum PGI, Henriette Lebang, saat memberikan sambutan dalam ibadah syukur awal tahun 2016 PGI, di Grha Oikumene Jakarta, hari Senin (4/1). (Foto: Febriana)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, atau yang lebih dikenal dengan PGI, mengadakan ibadah syukur awal tahunnya di Grha Oikumene Jakarta, hari Senin (4/1). Acara itu dihadiri oleh pendeta dari berbagai denominasi gereja, lembaga mitra PGI, lembaga pemerintahan, organisasi-organisasi kemasyarakatan, serta para anggota lintas agama.

“Kita semua telah bersama-sama melaksanakan program pelayanan pada sepanjang tahun 2015 yang kini telah berlalu. Kini, kita memasuki tahun baru 2016 dengan tetap menjunjung toleransi antar umat beragama, kesatuan hati gereja-gereja di Indonesia, serta ucapan syukur kepada Tuhan,” kata Henriette Lebang, Ketua Umum PGI, mengawali sambutannya.

Ibadah yang sedari awal hingga akhir diikuti oleh perwakilan dari lapisan organisasi masyarakat beragama, instansi pemerintah, dan tokoh agama itu mengambil nats Injil Lukas, Pasal 2 Ayat 36-38, dibawakan oleh Pendeta Daniel Harahap dari HKBP Serpong, yang berarti, Tuhan Allah berkenan menjumpai semua orang yang menanti-nantikan dia dengan tekun dan setia.

Pendeta Daniel Harahap yang membawakan renungan serta pesan-pesan Natal dalam ibadah itu menyatakan Natal bukan hanya untuk sekelompok orang, tetapi juga untuk semua orang, baik itu tua-muda, laki-laki-perempuan, kaya-miskin, dan orang terpelajar-orang sederhana. Semua mendapatkan bagian dalam sukacita kelahiran Kristus Yesus.

Dia menegaskan bahwa gereja-gereja dipanggil untuk menjadi sukacita bagi semua orang yang  terlupakan dan tersisihkan di dunia.

“Di tahun baru 2016 ini, Allah memberikan sukacita itu, mari kita sambut tahun baru 2016 dengan sukacita Ilahi. Ada begitu banyak tantangan, tetapi kebajikan Tuhan masih tersedia di tahun yang baru ini dan oleh karenanya juga kita masih memiliki alasan untuk bersukacita di dalamNya,” tambahnya.

Ibadah awal tahun yang dicanangkan oleh PGI ini selain sebagai bentuk kegiatan ucapan syukur, juga menjadi harapan dalam pembaruan komitmen bagi persekutuan gereja-gereja di Indonesia untuk mendukung kebebasan berbicara, kebebasan berkarya, kebebasan beribadah, pemberantasan korupsi, dan perdamaian.

“Negeri ini adalah rumah bersama, sebagaimana pesan Natal dari PGI, “hidup bersama sebagai keluarga Allah”. Hal itu agar semua elemen anak bangsa berdamai sebagai satu keluarga dan bersama-sama mewarisi masa depan,” ujar Pendeta Daniel menutup kotbahnya.

Odhita R Hutabarat, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen, mengatakan telah bersahabat dengan PGI serta lembaga mitra PGI.

Odhita yang menyatakan di awal sambutannya akan segera memasuki masa purna kerja atau pensiun dalam waktu dekat, berharap teman-teman dari Kementerian Agama melanjutkan persahabatan tersebut. "Saya memang akan pensiun dari jabatan ini, tetapi saya tidak akan pensiun sebagai sahabat PGI," ujarnya.

“Tanpa menjalin persahabatan yang erat, tentulah kita tidak dapat membangun bangsa dan negara kita ini dengan baik, khususnya di bidang keagamaan. Saya juga telah mendengar dalam sambutan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, ketika menghadiri perayaan ulang tahun ke-70 tahun Kementerian Agama, yang menyampaikan bahwa harus terdapat rancangan program yang betul-betul memberikan respons bagi kebutuhan masyarakat Kristen di Indonesia. Kementerian Agama mulai tahun ini menggendakan dua program besar di Bimas Kristen, salah satunya dengan melibatkan semua gereja di Indonesia dalam persiapan Pesparawi yang akan dilaksanakan tahun 2018 di Kalimantan Barat. Selain itu, tentu yang paling urgent bagi masyarakat Kristen yaitu harus merancang kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kerukunan internal maupun antar umat beragama,” terang Odhita.

Pemutaran Video Visi dan Misi PGI

Di tengah ibadah tersebut, PGI menayangkan rangkuman visi dan misi PGI dalam bentuk tayangan video berdurasi kurang lebih 10 menit. Hal itu dimaksudkan agar visi dan misi PGI dapat mendarah daging dan lebih dipahami oleh gereja anggota, segenap lapisan masyarakat lintas agama, serta lembaga pemerintah yang hadir.

Kilas Balik dan Sepak Terjang PGI

PGI hadir sebagai wadah perhimpunan gereja-gereja di seluruh Indonesia dalam menghadapi permasalahan bangsa Indonesia. PGI yang pada mulanya disebut dengan Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (DGI), dan berdiri tanggal 25 Mei 1950 di Jakarta, merupakan wujud dari kerinduan umat Kristen di Indonesia untuk mempersatukan kembali gereja sebagai tubuh Kristus yang terpecah-pecah.Olehkarena itu, PGI menyatakan bahwa tujuan pembentukannya adalah mewujudkan gereja Kristen yang esa di Indonesia.

Dalam perjalanan sejarahnya, nama Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (DGI) diubah menjadi Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) bukan tanpa maksud, melainkan pergantian nama itu mengandung makna khusus, di mana persekutuan adalah lebih bersifat gerejawi yang dapat menyentuh segi eksistensial, internal, dan spiritual dari kebersamaan umat Kristen di Indonesia. Kata persekutuan lebih mengedepankan keterikatan lahir dan batin antar gereja anggota dalam proses menuju keesaan.

Empat Isu Pekerjaan Rumah PGI

PGI dalam melihat keadaan dan situasi bangsa Indonesia saat ini bergerak pada empat isu utama permasalahan bangsa yang sekaligus menjadi target pelayanan PGI, yaitu, pertama, kemiskinan, kedua, ketidakadilan, ketiga, radikalisme, dan keempat, kerusakan lingkungan.

Hingga saat ini, terdapat 89 sinode gereja, dan 28 PGI wilayah.

Kegiatan sehari-hari PGI ditangani oleh majelis pekerja harian, dan dalam menjalankan roda organisasinya, majelis pekerja harian PGI senantiasa dibantu oleh sejumlah departemen dan bidang.

Untuk mencapai target tersebut, PGI mempunyai tiga derap kegiatan utama, yaitu, diakonia (pelayanan keadilan dan perdamaian) berupa legislasi kebijakan, advokasi kasus, penguatan proses demokratisasi, dan penegakan Hak Asasi Manusia (HAM), Koumunia (keesaan dan pembaharuan gereja) berupa pengembangan kader oikumene dan studi pembaharuan gereja, dan Markuria (kesaksian dan keutuhan ciptaan) berupa usaha menyelamatkan lingkungan, mengembangkan dialog umat beragama, penerbitan, dan diseminasi informasi.

PGI dalam visi dan misinya menegaskan tidak bermaksud menyeragamkan gereja-gereja di Indonesia, dan bukan merupakan super-church yang mendominasi gereja-gereja anggota, melainkan keesaan dalam tindakan dan keesaan yang semakin bertumbuh-kembang.

PGI menyatakan dalam mencapai visi dan misinya diperlukan komitmen, kompetensi, dan koordinasi yang konsisten dari gereja-gereja anggota serta berbagai lembaga dan pihak lainnya sehingga mampu menjadi jawaban bagi berbagai masalah bangsa Indonesia.

Editor : Eben E. Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home