Loading...
INDONESIA
Penulis: Endang Saputra 15:54 WIB | Senin, 23 Januari 2017

DPR Dukung Donald Trump Perang Lawan E‎kstremisme

Presiden Donald Trump berpidato saat pelantikannya di Armed Services Ball pada 20 Januari 2017 di Washington, DC. (Foto: AFP)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Sodik ‎Mudjahid menyambut baik terkait pidato Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang akan menjadikan perang melawan ekstremisme sebagai kebijakan asing utamanya saat menerima jabatan pada hari Jumat (20/1).‎

“Kita sambut baik komitmen AS tumpas terorisme. Dan AS‎ diminta konsisten menumpas terorisme jangan membuat standar ganda dan tidak secara tidak langsung merekayasa terorisme," kata Sodik di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, hari Senin (23/1).‎

Politisi Partai Gerindra ini meminta Donald Trump jangan menjadikan teroris baru dengan pernyataannya kepada kaum muslimin dan kepada kelompok lain yang bukan terorisme.

“Kualifikasi terorisme jangan dikhususkan dan embel-embel Islam radikal. Tapi katakan saja dengan semua teroris," kata dia.

Sebelumnya Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan menjadikan perang melawan ekstremisme sebagai kebijakan asing utamanya saat menerima jabatan pada Jumat (20/1), ‎berjanji akan bekerja dengan sekutu untuk menghancurkan ancaman ekstremis.

“Kami akan memperkuat aliansi lama dan membentuk yang baru dan menyatukan dunia yang beradab dalam melawan terorisme radikal, yang akan kami basmi seluruhnya dari muka bumi ini,” kata dia.

Pendahulu Trump, George W. Bush - yang menginvasi Afghanistan dan menggulingkan rezim Taliban - dan Barack Obama - yang memerintahkan penyerbuan yang menewaskan Osama bin Laden - juga memerangi ekstremisme.

Namun, Trump memiliki istilah yang lebih baik untuk menegaskan bahwa dia melihat pertempuran itu sebagai perang peradaban antara AS dan ancaman yang muncul dari keyakinan Islam itu sendiri.

Dan dalam pidato pelantikannya, janjinya untuk membentuk aliansi melawan teror menunjukkan bahwa dia berniat untuk bekerja sama dengan Rusia yang dipimpin Vladimir Putin.

Moskow telah mengerahkan pasukan ke Suriah untuk melindungi rezim Bashar al Assad dari pemberontak Islam, tetapi pemerintahan Obama menyatakan bahwa taktik brutal mereka dengan mengasingkan pihak moderat hanya meningkatkan dukungan untuk kelompok ekstremis ISIS.

Editor : Diah Anggraeni Retnaningrum


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home