Loading...
INDONESIA
Penulis: Francisca Christy Rosana 15:55 WIB | Selasa, 18 Agustus 2015

DPRD DKI Sahkan Perda Kebudayaan Betawi

Suasana rapat paripurna di Gedung DPRD DKI Jakarta. (Foto: Francisca Christy Rosana)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Setelah pembahasan panjang, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta akhirnya mengesahkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi. Perda tersebut disahkan pada Selasa (18/8) dalam rapat paripurna yang digelar oleh legislatif dan dipimpin oleh Ketua DPRD DKI, Prasetio Edi Marsudi, didampungi Wakil ketua DPRD DKI, M taufik dan Triwisaksana.

Raperda tentang kebudayaan Betawi ini mulai dibahas pada 23 April dan selesai pada 13 Agustus 2015. Pengesahan disaksikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, serta jajaran satuan kerja kerja perangkat daerah (SKPD) di lingkungan Pemprov DKI Jakarta.

Perda tentang kebudayaan Betawi dibuat atas dasar pengembangan prospek pariwisata. Budaya Betawi dipandang sebagai modal besar atau aset yang penting. Perda terdiri atas 10 bab dasar dan 49 pasal yang di dalamnya mengatur pelestarian kebudayaan dan cara meningkatkan pelestarian tersebut.

Anggota DPRD DKI, Hamidi AR yang bertugas membacakan pengesahan Raperda menjadi Perda mengutarakan, pemerintah daerah dalam hal ini telah menetapkan kebijakan untuk melakukan pengawasan, pelaksanaan kegiatan penyelenggaraan kegiatan kebudayaan, dan pembinaan, serta menetapkan kawasan yang dapat digunakan pelaku budaya menampilkan aksinya.

Selain itu, dengan adanya Perda ini, seluruh sekolah di DKI wajib menerapkan kesenian dan kebudayaan Betawi untuk masuk dalam kurikulum pendidikan dasar dan pendidikan menengah, serta memasukkannya dalam muatan.

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengatakan, pengesahan perda dapat menguatkan dan menjadi landasan hukum bagi pemprov untuk melaksanakan kebijakan terhadap pelestarian kebudayaan Betawi. Selain itu, muatan budaya yang dimasukkan dalam muatan lokal dapat membangkitkan kecintaan warga terhadap negaranya.

“Mau kurikulum apapun, budaya apapun, harus menggambarkan kita ini bhineka tunggal ika. Jadi, kita bisa kompak itu karena kita sama-sama ingin mewujudkan keadilan sosial. Nah hampir semua budaya di indonesia menggambarkan itu,” ujar Ahok. 

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home