Loading...
RELIGI
Penulis: Sotyati 10:28 WIB | Rabu, 23 Desember 2015

Ekonomi Sulit, Suka Cita Natal Tetap Naungi Warga Sangihe Talaud

Ekonomi Sulit, Suka Cita Natal Tetap Naungi Warga Sangihe Talaud
Ilustrasi: Pemuda Gereja Masehi Injili di Talaud (Germita) membentuk Garda Anti Narkoba-Miras, sebagai bentuk komitmen, yang dideklarasikan pada Mei 2015. (Foto: talaudkab.go.id)
Ekonomi Sulit, Suka Cita Natal Tetap Naungi Warga Sangihe Talaud
Ilustrasi: Melonguane, kota di ujung utara Talaud. (Foto: indohoy/jakpost.travel)

SATUHARAPAN.COM – Suka cita menyambut perayaan Natal sudah terasa di Kepulauan Sangihe dan Talaud di Sulawesi Utara begitu memasuki bulan Desember, yang mayoritas penduduknya beragama Kristen.

“Sudah menjadi tradisi, Natal selalu membawa suasana baru, yaitu suasana sukacita, kegembiraan di hati, karena warga dapat memperingati lagi hari besar kelahiran Yesus Kristus, Sang Raja Damai,” kata Pdt Arnold Apolos Abbas dari Gereja Masehi Injili di Talaud (Germita) kepada satuharapan.com, belum lama ini.

Namun, ada yang sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dalam menyambut perayaan Natal tahun ini bagi warga Kepulauan Sangihe dan Talaud. Pengaruh musim kemarau selama kurang lebih lima-enam bulan selama Mei-Oktober, menurut Pdt Abbas, sangat berpengaruh pada kondisi ekonomi masyarakat.

Akibat kemarau panjang tersebut, banyak tanaman produksi andalan warga seperti pala dan cengkih, rusak, kering, dan mati. “Diperkirakan mencapai sekitar 50 persen yang menjadi kering dan mati, padahal tanaman-tanaman tersebut menjadi andalan masyarakat di samping kelapa,” Pdt Abbas menambahkan.

Laut yang tidak bersahabat pada bulan-bulan antara bulan Agustus sampai Oktober, dan juga Desember, juga menyulitkan nelayan untuk melaut. “Pendeknya kondisi kemarau dan juga laut yang kurang bersahabat, mempersulit kondisi ekonomi masyarakat dalam menyambut dan merayakan natal Yesus Kristus,” katanya.

Karena itu, perayaan Natal tahun ini, menurut Pdt Abbas, dirayakan secara sangat sederhana. Sekalipun kesulitan ekonomi  melanda, masyarakat dan warga gereja tetap antusias dan berusaha agar dapat merayakan Natal dengan penuh kegembiraan.

Memasuki Desember warga membersihkan rumah, memperbaiki pagar-pagar yang rusak dan mengecatnya. Beberapa desa membuat lampion natal untuk menerangi kampung dan juga memasang umbul-umbul di depan rumah. Gereja-gereja dihias dengan pohon natal beragam bentuk.

Jemaat juga tetap menyiapkan kue natal sekalipun sederhana, untuk menyambut keluarga atau sahabat-sahabat yang datang berkunjung di hari Natal dan Tahun Baru. Lagu-lagu natal sudah terdengar sejak awal Desember ini.

“Satu hal yang selalu ditekankan di daerah Sangihe dan Talaud, bahkan Sulawesi Utara pada umumnya, baik oleh pemerintah dan juga pemimpin gereja adalah agar perayaan tahun ini dirayakan secara sedehana, dan tanpa minuman keras,” Pdt Abbas menegaskan.

Isu-isu dalam Sidang Tahunan Sinode Gereja Masehi Injili Talaud

“Natal tahun ini, terutama, menjadi momentum untuk melakukan perenungan akan besarnya kasih sayang Tuhan Allah yang tetap setiap memelihara masyarakat Sangihe dan Talaud, sehingga pada bulan November hujan mulai turun. Sampai sekarang, bulan Desember, hujan turun cukup banyak. Bahkan warga sudah mengantisipasi jangan sampai terjadi banjir,” Pdt Abbas menjelaskan.

Dampak kemarau panjang tersebut, menurut Pdt Abbas, juga menjadi pergumulan Germita dan menjadi pembahasan dalam Sidang Tahunan Sinode Gereja Masehi Injili Talaud di Manado, Sulawesi Utara, 27 – 30 November lalu.

Dalam menyusun program-program baru 2016, beberapa isu yang diangkat dan digumuli di antaranya tentang tanggung jawab gereja untuk membantu warga dalam usaha memulihkan kondisi ekonomi akibat kemarau panjang yang mengakibatkan banyak tanaman produksi seperti pala dan cengkih mati kekeringan. Germita memrogramkan usaha-usaha penyediaan bibit pala dan cengkih bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan pemerintah daerah.

Dalam kaitan dengan rencana pemekaran Kabupaten Talaud Selatan, gereja turut mendorong agar pemerintah pusat dapat merealisasikan rencana pembentukan Kabupaten Talaud Selatan, sebagai salah satu daerah otonomi baru, dalam rangka percepatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah perbatasan tersebut.

Isu lain, gereja siap memerangi radikalisme, seperti munculnya berbagai bentuk terorisme yang mungkin akan muncul dan mengganggu masyarakat di daerah perbatasan. “Germita juga membahas pentingnya perhatian gereja terhadap masalah  kelestarian lingkungan hidup,” kata Pdt Abbas.

Sidang Tahunan Sinode Germita bertema”Tuhan Mengangkat Kita dari Samudera Raya (Mazmur 71:20b)”, dihadiri lebih kurang 300 peserta terdiri atas pendeta, penatua, dan ketua-ketua jemaat.

Sekum PGI Pdt Gomar Gultom hadir dalam acara pembukaan sidang, memberikan sambutan sekaligus memberi materi ceramah.

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home