Loading...
BUDAYA
Penulis: Francisca Christy Rosana 19:39 WIB | Selasa, 31 Maret 2015

Garin Petakan Sejarah Politik Lewat Film Tjokroaminoto

Garin Petakan Sejarah Politik Lewat Film Tjokroaminoto
Konferensi Pers film bergenre Drama-Biopic, Guru Bangsa: Tjokroaminoto di Epicentrum Walk, Kuningan, Selasa (31/3) sore. Turut hadir, Garin Nugroho selaku sutradara film, Reza Rahadian sebagai pemain utama, dan beberapa pemain pendukung serta crew film lainnya. (Foto-foto: Francisca Christy Rosana)
Garin Petakan Sejarah Politik Lewat Film Tjokroaminoto

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Bersamaan dengan peringatan ke-65 usia perfilman Tanah Air, sutradara senior Garin Nugroho mempersembahkan sebuah film bergenre Drama-Biopic, Guru Bangsa: Tjokroaminoto. 

Bersama yayasan keluarga besar HOS Tjokroaminoto, rumah produksi Pic[k]lock, dan MHS Films Garin menghadirkan film yang menggandeng aktor dan aktris ternama seperti Reza Rahardian, Christine Hakim, Sujiwo Tedjo, Alm. Alex Komang, Didi Petet, Egi Fredly, sejumlah pemain pendatang baru, teater Garasi, dan Ludruk Jawa Timur.

Film berdurasi kurang lebih 150 menit ini telah mengangkat kisah perjuangan dan kehidupan seorang tokoh pergerakan nasional bangsa Indonesia, Raden Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto di era 1890-1920an. 

Garin sebagai sutradara mencoba mengetengahkan tokoh Tjokroaminoto, tak lepas dari konteks sosial yang membentuk kepribadiannya sebagai seorang pemimpin pergerakan. 

"Film ini sesungguhnya memetakan sejarah politik masa ini. Ini adalah visualisasi sejarah yang lengkap. Film ini tertuju untuk mereka yang berminat memahami negeri ini," ujar Garin saat konferensi pers di Epicentrum Walk, Kuningan, Selasa (31/3) sore. 

Film ini pun telah melalui riset selama dua tahun untuk mewujudkan representasi terhadal masa lalu. Melalui riset, segala citra sendi-sendi kehidupan pada masa itu diwujudkan dalam film yang digarap sutradara yang telah 30 tahun berkarya ini. 

"Film ini sangat penting untuk ditonton. Kalau dilihat,sejarah kita hanya sebatas sejarah formal saja, artinya sejarah hanya menjadi tempat-tempat penting bagi politikus. Tapi lewat film ini, sejarah-sejarah seni, ekonomi, industri justru ditampilkan dan diimajinasikan lewat film," ujar Garin. 

Garin pun menempatkan setiap lakon memiliki porsi yang pas sehingga tak ada satu pun peran yang dilemahkan, baik itu peran utama hingga peran pendukung atau kameo. 

Cindil, pemeran kameo dari Teater Garasi lun mengakui film gubahan Garin menampilkan orkestrasi yang harmonis. 

"Ini adalah suatu capaian yang kuat dalam film ini," katanya. 

Garin juga sukses menampilkan banyak dimensi dalam film biopic itu. Perjuangan yang ditampilkan bukan hanya satu sisi menampilkan perjuangan bangsa Indonesia, namun ia juga telah membukakan mata pada masa itu di Belanda pun tengah terjadi persoalan besar. 
Padahal selama ini masyarakat berpikir Belanda dalam kondisi stabil, bahkan dalam kondisi perekonomian yang kuat saat menjajah Indonesia. 

Sementara itu, Reza Rahadian sebagai pemeran utama mengungkapkan Garin telah membantunya untuk membaca secara sederhana watak Tjokroaminoto melalui foto. 

"Secara sederhana saya mempelajari bahasa tubuh lewat bahasa tubuh. Saya banyak bertanya pada Garin," kata Reza. 

Al Tjokroaminoto, ketua umum yauasan keluarga besar HOS Tjokroaminoto menyampaikan ingin meneruskan gagasan dan semangat pendahulunya melalui film ini. 

"Sebagai keturunan Tjokroaminoto kami ingin meneruskan warisan yang beliau titipkan kepada kami semua. 
Kesadaran untuk persamaan hak, rasa persaudaraan, dan kesadaran untuk kemerdekaan akan membentuk identitas bangsa yang tangguh dan kuat. Lewat film inilah gagasan eyang kami bisa divisualisasikan untuk generasi-generasi baru," ujar dia. 

Film bergenre drama-biopic yang diproduseri Christine Hakim, Dewi Umaya, Sabrang Mowo Damar Panuluh, Nayaka Untara, Didi Petet, dan Alm Ari Syarif akan tayang serentak di seluruh bioskop Tanah Air 9 April.

Sinopsis Film Guru Bangsa: Tjokroaminoto

Setelah lepas dari era tanam paksa di akhir 1800, Indonesia yang kala itu bernama Hindia Belanda memasuki babak baru yang berpengaruh pada kehidupan masyarakat. Melalui gerakan politik etis yang dilakukan oleh pemerintah Belanda, kemiskinan nyatanya masih banyak terjadi. Rakyat masih banyak yang belum mengenyam pendidikan. Kesenjangan juga masih jelas terjadi. 

HOS Tjokroaminoto yang lahir dari kaum bangsawan Jawa dengan latar belakang keislaman kuat tidak diam saja melihat kondisi itu. Walaupun lingkungannya adalah keluarga ningrat yang memiliki hidup yang nyaman dibandingkan dengan rakyat kebanyakan saat itu. Ia berani meninggalkan status kebangsawanannya dan bekerja sebagai kuli pelabuhan. Ia merasakan menjadi rakyat jelata. 

Tjokro berjuang dengan membangun organisasi Sarekat Islam, organisasi resmi bumiputera pertama terbesar sehingga bisa menjapai dua juta anggota. Ia berjuang untuk menyamakan hak dan martabat masyarakat bumiputera di awal 1900 yang terjajah. Perjuangan ini berbenih menjadi awal lahirnya tokoh kebangsaan. 

Tjokro yabg intelektual, pandai bersiasat, mempunyai banyak keahlian, termasuk jago silat, ahli mesin dan hukum, penulis surat kabar yang kritis, orator ulung yang mampu menyihir ribuan orang dari mimbar pidato, membuat pemerintah Hindia menghambat lanu gerak Sarekat Islam yang pesat. 
Perjuangannya lewat organisasi ini memberi penyadaran masyarakat dan mengangkat harkat martabat bersamaan, juga terancam oleh perpecahan dari dalam organisasi itu sendiri. 

Rumah Tjokro di Gang Peneleh, Surabaya terkenal sebagai tempat bertemunya tokoh bangsa Indonesia kelak. Di rumah sederhana itu berfungsi juga sebagai rumah kos yang dibina oleh Suharsikin, istri Tjokro. Salah satu murid Tjokro adalah Soekarno.

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home