Loading...
INDONESIA
Penulis: Dewasasri M Wardani 06:49 WIB | Rabu, 06 Januari 2016

Generasi Z Melangkah Melalui Milenium

Ilustrasi generasi Z , sejak bayi terhubung dengan internet. (Foto; pma-anz.com)

CALIFORNIA, SATUHARAPAN.COM - Sejarah belum mengungkapkan apa yang disebut sebagai kelompok Postmillennial,  yang kini jumlahnya lebih dari 60 juta orang di Amerika Serikat.

Kelompok ini  adalah anak-anak dan remaja tanpa konsep hidup, yang terhubung dengan internet sejauh ini telah disebut App Generation dan Generasi Z.

Mereka telah disebut sebagai homelanders, dibesarkan di bawah momok terorisme. Mereka juga telah diberi label jamak dan keberagaman atau tanpa sekat, setidaknya dinamakan demikian oleh MTV.

Apapun penamaan mereka, para pemasar dan akademisi mulai beralih perhatian mereka ke grup ini, yang memiliki daya beli tinggi dan sudah membentuk budaya.

Generasi ini tumbuh dan benar-benar terhubung dalam jaringan," kata psikolog California State University Larry Rosen.  Ia memiliki kekhawatiran tentang anak-anak ini, yang telah dibentuk oleh google dipupuk dengan harapan bahwa segala sesuatu diperoleh seketika.

Mereka khawatir tentang ketidakmampuan mereka untuk mentoleransi,  bahkan lima detik dari kebosanan. Dan mereka khawatir tentang tuntutan yang datang dengan mempertahankan beberapa identitasnya secara online, dari Facebook ke Instagram untuk snapchat (aplikasi pesan foto) .

"Ada begitu banyak tekanan pada orang-orang muda, yang masih ingin membentuk identitas mereka, untuk tampil dengan identitas  yang sangat ideal secara online," kata Katie Davis universitas Washington.

Walaupun demikian ada juga optimisme dan menegaskan semangat kewirausahaan, dan  menemukan cara untuk tidak selalu terhubung melalui internet. Anak-anak ini uberprotective Gen X tua, yang  bertekad untuk tidak membesarkan anak-anak sebagai anaka-anak yang selalu ada dalam jaringan.

Sementara itu mereka membantu anak-anak melakukan detox digital (rehabilitasi,  melalui liburan tanpa gadget) di kamp-kamp tanpa media televisi dan menggunakan konsep pendidikan Waldorf (pendidikan dilakukan tidak hanya berfokus pada kepala (intelegensia), namun juga melibatkan tangan dan hati. Oleh karena itu membuat karya seni dan kerajinan, menceritakan kisah-kisah yang indah, drama, dan musik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan Waldorf red)

Sejarawan Neil Howe melihat generasi  Z ini,  memiliki kesamaan  dengan generasi diam,yakni selalu dimanjakan, dan menghindari risiko, generasi anak-anak yang tumbuh  dan dibesarkan selama depresi dan perang dunia II.

“Kini  generasi Z adalah pemuda yang tumbuh di  tengah gejolak geopolitik dan ketakutan tentang ekonomi,” katanya.  Ia menduga generasi ini akan  dikenal sebagai berperilaku baik, atau mereka akan bermain aman, dengan menggunakan identitas yang berbeda. (time magazine) 

Editor : Eben E. Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home