Loading...
RELIGI
Penulis: Sabar Subekti 19:45 WIB | Sabtu, 05 Juni 2021

Gereja Serbia Yang Dibangun Secara Ilegal di Tanah Milik Perempuan Bosnia Dirobohkan

Sebuah bangunan gereja ortodoks dihancurkan di Konjevic Polje, desa di sebelah Srebrenica di Bosnia, hari Sabtu (5/6). Pihak berwenang Bosnia telah menghancurkan sebuah gereja Ortodoks Serbia yang dibangun secara ilegal di atas tanah milik seorang wanita Bosnia setelah proses hukum selama 20 tahun. Sengketa ini sampai di Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa. Pekerja dan mesin konstruksi tiba di halaman Fata Orlovic di desa Konjevic Polje hari Sabtu pagi. (Foto: AP/Sladjan Vasic)

SARAJEVO, SATUHARAPAN.COM-Pihak berwenang Bosnia pada hari Sabtu (5/6) menghancurkan sebuah bangunan gereja Ortodoks Serbia yang dibangun secara ilegal di atas tanah milik seorang perempuan Bosnia. Ini sebuah langkah setelah pertempuran hukum selama 20 tahun yang membuat kasus tersebut mencapai Pengadilan Hak asasi Manusia Eropa.

Pekerja dan mesin konstruksi tiba di halaman Fata Orlovic di desa Konjevic Polje, hari Sabtu pagi. Menggunakan derek, mereka merobohkan gereja berwarna putih dan menara loncengnya.

Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa memutuskan pada bulan Oktober 2019 bahwa pihak berwenang harus merobohkan gereja dan membayar ganti rugi kepada keluarga Orlovic dengan total 31.000 euro (sekitar Rp 518 juta).

Gereja itu dibangun tak lama setelah Orlovic dan keluarganya diusir dari desa, 20 kilometer timur Srebrenica selama Perang Bosnia 1992-1995. Keluarga itu adalah orang Bosnia, yang sebagian besar Muslim, dan desa itu diambil oleh orang Serbia Bosnia, yang sebagian besar beragama Kristen Ortodoks.

“Alhamdulillah akhirnya kami melihat ini terjadi,” kata Orlovic, yang berusia akhir 70-an. "Saya lelah setelah 20 tahun."

“Sekarang, akhirnya, saya bisa duduk dan menikmati secangkir kopi di halaman rumah saya tanpa diusir. Saya tidak pernah melakukan kesalahan apapun pada mereka," tambahnya.

Suami Orlovic termasuk di antara sekitar 8.000 pria dan anak laki-laki Bosnia yang dibunuh oleh pasukan Serbia Bosnia di Srebrenica pada tahun 1995, pembantaian terburuk dalam konflik etnis. Pembantaian Srebrenica telah diakui secara internasional sebagai satu-satunya genosida Eropa sejak Perang Dunia II.

Setelah kembali ke desanya setelah perang, tuntutan Orlovic agar gereja dirobohkan diabaikan. Pada tahun 2000, dia meluncurkan proses hukum untuk memaksa pihak berwenang Republika Srpska, nama entitas pasca perang yang dikelola Serbia di Bosnia, untuk mematuhinya.

Pengacara Orlovic, Rusmir Karkin, mengatakan kepada media Bosnia bahwa dia mengharapkan pemindahan puing-puing dari tanah Orlovic dengan cepat. "Banyak orang bekerja dan cuacanya bagus, jadi saya berharap semuanya akan selesai besok," katanya.

Pemerintah setempat mengatakan mereka akan membangun kembali gereja Ortodoks di pintu masuk desa.

Bosnia tetap terpecah secara etnis, lama setelah perang berakhir pada 1995 dalam perjanjian damai yang ditengahi Amerika Serikat. Lebih dari 100.000 orang tewas dalam konflik dan jutaan orang harus meninggalkan rumah mereka. (AP)

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home