Loading...
INSPIRASI
Penulis: Priskila Prima Hevina 10:54 WIB | Sabtu, 21 April 2018

Harmoni

Tidak boleh lagi ada perasaan bahwa hanya laki-laki yang patut mengampu peran strategis.
Foto: istimewa

SATUHARAPAN.COM – Tanggal 21 April setahun lalu saya pergi ke bank dan petugas bank mempertanyakan pakaian yang saya kenakan. ”Mbak kan PNS, kok tidak pakai kebaya? Ini kan hari Kartini.” Waduh, sepertinya Hari Kartini sudah ganti jadi Hari Kebaya. Di media sosial, di televisi, di koran-koran pun tersiar tayangan para perempuan tersenyum bangga berujar selamat hari kartini. Tetapi, apa artinya kalau Hari Kartini hanya dimaknai sebatas pakai kebaya?

Value yang diperjuangkan dan diwariskan Kartini bukan soal kebaya. Kartini menyuarakan emansipasi wanita. Emansipasi wanita menurut KBBI daring didefinisikan sebagai proses pelepasan diri para wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju. Benar, pada zaman Kartini, perempuan adalah warga kelas dua yang menduduki wilayah dapur, sumur, dan kasur.

Ajaran Kartini agar perempuan memberdayakan otaknya sudah tampak pada zaman sekarang. Meski belum seluruhnya, sudah banyak puteri pertiwi yang memiliki daya pikir kritis. Kalau emansipasi perempuan sudah terealisasi, sekarang apa?

”Untuk indonesia sekarang tema emansipasi perempuan sudah lewat. Sekarang zamannya  mencari harmonisasi antara perempuan dan laki-laki.” Begitu wejangan Ibu Dwikorita Karnawati, mantan rektor dari Universitas Gadjah Mada.

Emansipasi diadakan bukan supaya perempuan berbalik menguasai laki-laki. Beranjak dari tugas emansipasi, mari kita lanjutkan ke tahap harmonisasi. Harmonisasi peranan kehidupan, sebab dunia ini dipasrahkan Sang Pencipta kepada dua aktor utama: perempuan dan laki-laki.

Tanpa bermaksud meniadakan budaya timur yang cenderung patriarki, kerjakan bagian masing-masing dengan ikhlas dan menaruh hormat kepada pihak lainnya. Tidak boleh lagi ada sikap mencaci saat perempuan meraih prestasi cemerlang. Tidak boleh lagi ada perasaan bahwa hanya laki-laki yang patut mengampu peran strategis. Tidak boleh lagi ada yang menyalahkan perempuan saat ada kasus perkosaan. Tidak boleh lagi ada yang menggunjingkan laki-laki yang memilih hidup sebagai bapak rumah tangga. Selaras, saling mengisi, saling mendukung, saling menopang: harmoni.

Kalau Kartini susah payah memintal emansipasi, bagaimana bila sekarang kita bersama-sama menenun harmonisasi?

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home