Loading...
BUDAYA
Penulis: Sotyati 17:04 WIB | Sabtu, 20 Juni 2015

HUT DKI: Pelaku Bisnis Mode Menjawab Tantangan

HUT DKI: Pelaku Bisnis Mode Menjawab Tantangan
Era Soekamto (kanan) dengan koleksinya yang mengangkat kain tradisional. (Foto-foto: JFFF)
HUT DKI: Pelaku Bisnis Mode Menjawab Tantangan
Musa Widyatmodjo dengan koleksinya yang mengangkat kain tradisional.

SATUHARAPAN.COM – Festival Jakarta Great Sale adalah program unggulan dan daya tarik wisata DKI Jakarta, seperti dikemukakan Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta sekaligus Ketua Pelaksana FJGS 2015 Ellen Hidayat.

Diperkenalkan pertama kali pada 1982, tahun ini Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama meresmikan pembukaan pesta belanja tahunan menandai perayaan ulang tahun ke-488 Jakarta itu, pada 6 Juni lalu.

Diikuti 78 mal dan pusat belanja di Jakarta, pesta belanja ini juga menghadirkan pameran produk-produk kerajinan nasional bekerja sama dengan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranasda) DKI Jakarta dan pameran usaha kecil menengah (UKM).

Sebagai program unggulan, ajang festival belanja secara tidak langsung menuntut keterlibatan pelaku usaha mode atau fashion, salah satu unggulan ekonomi kreatif, untuk turut menyukseskannya. Lalu, bagaimana pelaku usaha mode dan fashion menjawab tantangan turut mendongkrak produk lokal ini agar lebih dikenal wisatawan, terutama wisatawan asing?  

“Sebagai pengusaha busana, saya sanggup saja,” kata perancang busana Musa Widyatmodjo, ditanya kesiapan menjawab tantangan menyukseskan program unggulan itu.  

“Apalagi menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asia, Red) di depan mata. Siap tidak siap, harus siap,” kata Musa Widyatmodjo, perancang busana, kepada satuharapan.com melalui pesan BlackBerry.

Salah satu upaya yang dilakukan Musa adalah mempersiapkan sebaik mungkin fondasi bisnisnya, dan menunjukkan karya, seperti ia ikrarkan di ajang Jakarta Fashion and Food Festival 2015, dalam peragaan busana 21 Mei. Ia menampilkan koleksi busana pria berbahan wastra tradisional.

“Jika ingin Indonesia menjadi kiblat fashion di Asia Tenggara, kita harus mewujudkannya menjadi sebuah karya. Ini jawaban saya,” kata perancang busana yang tergabung dalam Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia, dan memiliki counter di beberapa department store terkemuka di Jakarta itu.

Menyemarakkan program wisata belanja melalui Festival Jakarta Great Sale, menurut perancang busana Era Soekamto, tentu diikuti desainer yang memiliki jalur distribusi di department store atau mal. “Kalau traffic (penjualan) naik, kemungkinan dampaknya ada, namun margin kan mengecil. Tapi kalau hanya memiliki butik independen dan tidak ikut program, tentu tidak terasa dampaknya,” kata Era, perancang yang tergabung dalam Ikatan Perancang Mode Indonesia, yang juga dikenal sebagai Direktur Kreatif Iwan Tirta Private Collection itu.

Keberpihakan pada Brand Lokal

Mendukung Jakarta menjadi tujuan wisata belanja menjadi angan-angan banyak kalangan, termasuk pelaku usaha mode dan fashion. Namun, berkaitan dengan Jakarta, Musa pun menyodorkan catatan penting menyangkut  masalah lalu lintas. “Kemacetan dan sarana transportasi di Jakarta ini tidak mendukung,  membuat orang malas pergi berbelanja,” kata Musa.

Soal lain adalah keberpihakan pemerintah atas brand lokal. Era Soekamto berpendapat kemampuan desainer Indonesia tidak perlu diragukan dalam berkreasi, menampilkan koleksi karya dengan mengedepankan bahan-bahan lokal, dalam menunjang promosi Jakarta menjadi tujuan utama belanja di Asia. Namun, ia menggarisbawahi, yang harus digenjot adalah kesadaran semua pihak dalam membangun fondasi bisnis fashion yang kuat untuk dapat bersaing dengan baik.  “Bagaimana menjadi sustain, itu tantangannya,” katanya.

Musa lebih tegas menyatakan kekurangkompakan di antara pemerintah provinsi, mal dan department store, dan pengusaha fashion membuat acara pesta belanja ini kurang optimal dan kurang greget.

“Pelaku usaha fashion yang sudah merintis untuk mengangkat produk berbahan lokal harus diapresiasi dan didukung sebagai fashion brand lokal. Minimal diakui pemerintah dan diproteksi agar bisa tumbuh di negara sendiri,” ia menggarisbawahi.

“Jujur, bingung juga tidak ada keberpihakan pemerintah pada pelaku-pelaku bisnis yang notabene mendukung produk lokal dan membangun branding lokal. Jangan sampai Indonesia hanya jadi surga produk dan brand-brand asing memasarkan produknya,” Musa mengingatkan.

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home