Loading...
EKONOMI
Penulis: Prasasta Widiadi 12:07 WIB | Kamis, 02 April 2015

Indonesia Membutuhkan Rp 5.619 Triliun Benahi Infrastruktur

Direktur Jenderal Kekayaan Negara Hadiyanto pada diskusi yang digelar PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dan Kompas Gramedia bertajuk “Bank Infrastruktur Perlu Atau Tidak,” yang digelar di West Ballroom, Kempinski Hotel, Jakarta, Kamis (2/4). (Foto: Prasata Widiadi)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Pembenahan infrastruktur di Indonesia saat ini membutuhkan setidaknya Rp 5.619 triliun.

“Indeks infrastruktur  kita (Indonesia)  tidak dapat dibandingkan apple to apple dengan Singapura, kalau kita lihat pembiayaan yang dimuat dalam RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Menengah) apabila kita menerapkan idealnya suatu infrastruktur diperlukan 5.619 triliun rupiah selama lima tahun, ini adalah suatu hal yang harus diraih dari pemda (pemerintah daerah), dan pemerintah pusat,” kata Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan, Hadiyanto, pada diskusi yang digelar PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dan Kompas Gramedia bertajuk “Bank Infrastruktur Perlu Atau Tidak,” yang digelar di West Ballroom, Kempinski Hotel, Jakarta, Kamis (2/4).  

Hadiyanto menjelaskan bahwa saat ini kerja sama pemenuhan dan pembenahan infrastruktur di berbagai bidang di Indonesia dikerjakan dengan sistem Public Private Partnership (PPP) atau Kemitraan Pemerintah dan Swasta.

Hadiyanto merangkum dari berbagai sumber bahwa saat ini Indonesia membutuhkan dana sejumlah tersebut guna memperbaiki jalan raya yang kondisinya 50,8 persen baik (bisa dilalui). Sedangkan kondisi rusak ringan 6,5 persen dari kondisi jalan di seluruh Indonesia, dan rusak berat 4,3 persen, dan berada dalam kondisi sedang  sebesar 38,4 persen.

“Apabila ada jalan raya yang rusak,  akan berpengaruh ke logistics cost dan ini tidak terlepas dari kondisi geografis yang tidak bisa dibandingkan dengan Singapura,” kata Hadiyanto.

“Kami mengakui bahwa saat ini Indonesia dari segi pendaan infrastruktur sangat tertinggal dibanding negara lainnya di Asia Tenggara,” Hadiyanto menambahkan.

Hadiyanto menambahkan bahwa tantangan pembiayaan infrastruktur ke depan memang tidak sedikit, mulai dari yang bersumber faktor risiko janga panjang, modal dan penggalangan kerjasama, serta tingkat suku bunga.

“Dengan adanya pemenuhan kebutuhan di bidang infrastruktur, akan meringankan pembiayaan di sektor logistik sehingga dapat berpengaruh kepada peningkatan daya saing di ekonomi,” Hadiyanto menambahkan.

Editor : Eben Ezer Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home