Loading...
OPINI
Penulis: Anil Dawan 13:21 WIB | Kamis, 09 September 2021

Inspirasi Kebangkitan Mental Pemenang Srikandi Bulutangkis RI

Greysia Polii dan Apriyani Rahayu dengan medali emas mereka di Olimpiade Tokyo, Senin (2/8/2021). (Foto: AP)

SATUHARAPAN.COM - Beberapa waktu lalu saya menulis suatu artikel opini mengenai menyoal dukungan psikososial untuk atlet Bulu Tangkis All England Indonesia. Dukungan itu sangat diperlukan sebagai respons karena adanya kabar mengagetkan datang dari tim atlet bulutangkis Indonesia.

Pada Kamis (18/3), seluruh tim yang siap berlaga di All England harus didiskualifikasi, sebelum mereka berlaga di All England. Sportivitas dunia bulu tangkis dunia sekelas All England saat itu di uji. Peristiwa diskualifikasi ini menjadi cerminan dan sekaligus potret dampak Covid-19 terhadap dunia olahraga yang meninggalkan jejak nestapa. Pastilah peristiwa tersebut memukul mental dan menimbulkan rasa gundah dan kecewa menyelimuti selurut atlet, official dan juga pelatih dan seluruh tim rombongan. Tak pelak sebelum bertanding, mereka telah divonis kalah oleh suatu kebijakan yang hingga kini masih dipertanyakan fairness atau keadilannya.

Apakah peristiwa itu memukul mental para atlet hingga patang arang, hilang semangat? Ternyata tidak. Selalu ada daya lenting dan daya lentur menghadapi kejadian-kejadian yang mengejutkan yang bisa saja meluluh lantakan para atlet bermental pemenang. 

Kebangkitan Mental Pemenang

Tak menunggu lama dalam kurun waktu, sekitar 5-6 bulan, kebangkitan mental pemenang terjadi. Ditandai dengan raihan medali emas Olimpiade ganda putri Indonesia oleh Gresysia Polli/Apriyani Rahayu. Pasangan yang berbeda usia 10 tahun ini memecah kebuntuan sektor ganda putri yang sebelumnya selalu gagal meraih emas Olimpiade. Saya sendiri yang menyaksikan laga final itu diwarnai dengan perasaan deg-degan karena lawan yang dihadapi mereka adalah ganda putri China yang kuat. Mengapa saya menyebutkan kebangkitan mental pemenang? Lazimnya suatu peristiwa hidup selalu berhadapan dengan dua sisi gagal dan berhasil, menang atau kalah.

Bagi atlit olahraga kemenangan dan prestasi adalah indikator gabungan antara buah dari kerja keras latihan, strategi cerdas di lapangan pertandingan dan mental pemenang untuk tetap bertarung hingga akhir pertandingan. Prestasi dan medali adalah buah manis dari perjuangan panjang latihan, pengalaman gagal dan kalah dari pertandingan sebelumnya. Sambil terus mempelajari strategi, tiap atlet akan membangun mental pemenang yang pada akhirnya akan membawa mereka pada tangga dan puncak sebagai sang juara.

Dalam wawancara inspirasi di Modul Nusantara, saya menemukan rahasia dibalik mental pemenang. Beberapa ungkapan kalimat dan jawaban dari kedua srikandi Indonesia Gresya dan Apriani mengguratkan jelas mental pemenang itu. Keduanya memiliki perasaan kagum dan bangga karena memenangkan suatu pertandingan karena bisa mencetak sejarah memperoleh hasil terbaik. Namun kekaguman dan kebanggaan itu adalah hasil dari suatu proses berpeluh keringat, doa dan air mata yang cukup panjang.

Support dan dukungan dari orang tua sejak kecil untuk mengembangkan bakat dan kemampuan. Pengalaman terindah saat menjadi juara, moment haru dan bahagia, serta semangat tidak mengenal lelah. Tekanan tidak membuat menyerah karena untuk kebaikan, keluar dari zona nyaman. Beberapa pernyataan yang menggambarkan mental pemenang itu terungkap dari perkataan mereka seperti ini: “Jangan pernah merasa lelah, berjuang sepenuh hati, jangan mengeluh dan ikhlas. Semua tekanan membuat kita dewasa. Teruslah berjuang” Apriani Quote.

Sedangkan senada dengan itu Gresya menyatakan bahwa “Belajar menjadi rendah hati, terus belajar, temukan potensimu dengan menggalinya dan temukan hal baru. Jika punya cita-cita, maka raih dan capailah, tinggalkan zona nyamanmu” Gressia Quote. Pendek kata bahwa mimpi meraih prestasi harus dibayar dengan perjuangan segenap hati. Tuntas dan totalitas. 

Mental Pemenang Selalu Menginspirasi

Pasca gempita dan sorak kemenangan Gresya dan Apriani yang mengharumkan nama Indonesia dan mengibarkan bendera Merah Putih di ajang Olimpiade Tokyo, ternyata menginspirasi ganda putri Paralimpiade Leani Ratri/Khalimatus Sadiyah. Mereka berdua mengakhiri puasa penantian selama 41 tahun untuk memberikan emas pertama untuk kontingen Indonesia di Paralimpiade Tokyo 2020. Kunci sukses selalu dimulai dari sikap mental. Dan para pemenang-pemenang itu telah mengekspresikan nilai-nilai kesetaraan, keberanian, kesatuan, ketekunan, jiwa pantang menyerah, tak gentar kepada lawan dan mampu mengatasi demam panggung yang menuntut ekspektasi tinggi kepada mereka.

Satu sikap yang nampak dan patut diteladani adalah meskipun mereka dibanjiri hadiah dan bonus yang mencengangkan dari uang tunai, rumah, tanah, ternak, gerai usaha, telepon seluler dan liburan gratis sebagai bentuk apresiasi, mereka tetap menjadi pribadi-pribadi rendah hati. Segala bonus tak membuat mereka silau lalu pongah menyombongkan diri. Nampak sekali sikap humble mereka bahwa semuanya karena kerja keras, dukungan semua pihak dan bahwa prestasi kini adalah loncatan untuk meraih prestasi-prestasi berikutnya.

Dalam ekspresi bersahaja mereka kiranya akan terus lahir generasi-generasi muda yang terinspirasi dengan semangat untuk meraih prestasi, memahami keberagaman demi satu tujuan mengharumkan nama bangsa dan keluarga, hingga menorehkan moment pemenang dan bukan saja membangun monument kemenangan sekali saja. Selamat menginspirasi, selamat berprestasi dengan mental pemenang. 


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home