Loading...
OPINI
Penulis: Anil Dawan 15:40 WIB | Minggu, 08 Agustus 2021

Mengajar Generasi Tentang Toleransi: Sebuah Keniscayaan

Anil Dawan

SATUHARAPAN.COM - Indonesia merupakan negara dengan sejuta keberagaman. Keberagaman yang ada telah menjadi simbol persatuan dan dikemas dalam bingkai Bhinneka Tunggal. Indonesia adalah negara berbagai kepulauan. Dari geografis yang berbeda-beda tersebut, Indonesia memiliki banyak sekali suku dan bahasa, serta budaya, dan agama.

Di Indonesia sendiri, ada enam agama yang diakui oleh negara. Agama-agama yang diakui oleh negara adalah Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan juga Konghucu. Keenam agama harus hidup berdampingan di masyarakat dengan prinsip toleransi antarumat. Selain itu masih banyak aliran kepercayaan yang juga adalah anak bangsa, yang tumbuh di Indonesia yang juga merupakan menjadi bagian dari identitas keberagaman Indonesia sebagai negara yang berbeda-beda, tetapi tetap satu adanya. Mereka semua adalah bagian dari mozaik apik dari keindahan bangsa kita. Siapapun mereka, berapapun jumlah mereka tak boleh ditiadakan atau diabaikan dari keberadaan bangsa Indonesia.

Berdasarkan data menyebutkan bahwa antara tahun 2007-2018 terjadi 2.400 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan (KBB) di Indonesia. Provinsi tertinggi yang terjadi pelanggaran KBB adalah Jawa Barat dengan 269 kasus, Jawa Timur (270 kasus), dan DKI Jakarta (291 kasus). Pada tahun 2019 terjadi 200 peristiwa pelanggaran KBB dengan 327 tindakan. Sementara itu pada tahun 2020 ada 180 peristiwa pelanggaran KBB dengan 422 tindakan (Data Setara Institute). Potret ini bisa menjadi pemantik awal bahwa betapa mendesak dan pentingnya mengajar generasi tentang toleransi. Bukan opsi, melainkan sebuah keniscayaan.

Menguak Masalah

Salah satu persoalan di lingkungan pendidikan yaitu keberagaman, khususnya terkait dengan identitas agama dan kepercayaan. Pendidikan keberagaman tidak bisa ditanamkan dengan cara-cara indoktrinasi, melainkan melalui proses pendekatan yang reflektif. Metode pembelajaran reflektif merupakan bentuk pembelajaran yang mengajak seseorang untuk merefleksikan dirinya atas pengalaman yang dimiliki ataupun tindakan yang dilakukan. Tujuan refleksi tersebut untuk mendapatkan makna dan setiap peristiwa sehingga akan mengubah perspektif konseptualnya dan pada akhirnya akan merubah juga cara berperilaku dan bertindaknya.

Persoalannya lainnya adalah minimnya diskusi-diskusi tentang keberagaman budaya dan agama diruang publik. Coba kita tengok bersama, ruang publik dan dunia maya kita kadang lebih banyak diisi dengan ujaran kebencian, saling hujat ataupun keinginan untuk menonjolkan kelompok, agama, suku atau status sosial dan sebagainya. Meskipun keyakinan agama adalah hak asasi seseorang dan merupakan ranah privat yang tak bisa diganggu gugat oleh siapapun, akan tetapi hal itu tidak sepatutnya menjadikan seseorang berpandangan sempit dan tertutup. Apalagi dengan klaim-klaim kebenaran yang diikuti dengan perilaku menegasikan diri dengan orang yang berbeda agama dan keyakinan, suku, kelompok dan aliran dengan tindakan yang mengolok-olok, mengejek, menghina, merendahkan orang lain. Isu-isu keberagaman harus diupayakan dan didorong untuk dibicarakan di ruang publik, supaya menjadi penyadaran bersama bahwa faktanya memang realitas keberagaman itu ada dan menjadi identitas kebangsaan kita.

Disadari atau tidak benih dan virus terorisme dan radikalisme meskipun tidak ada kaitannya dengan agama apapun, namun ternyata bisa menyusup dalam bentuk paham-paham yang ekstrem, pemahaman intoleran, politisasi agama dan lingkungan keluarga, sekolah dan dunia maya yang tidak memahami keberagaman dan toleransi dengan baik. Pola pengajaran yang radikal secara tidak langsung menjadi pintu masuk tumbuhnya benih-benih radikalisme dan terorisme. Rendahnya literasi digital yang berkelindan dengan kondisi mental yang belum matang menyebabkan kaum muda menjadi sasaran empuk dan target radikalisme dan terorisme (BNPT, 2021). Meskipun kabar menggembirakan dinyatakan bahwa masih terdapat 87% penduduk Indonesia yang berpandangan moderat, namun ada saja oknum ataupun kelompok-kelompok yang menunjukkan pandangan dan ekspresi perilaku yang anti-Pancasila, intoleran, anti-budaya dan juga anti terhadap kearifan.

Penanaman Sejak Dini

Nilai toleransi terhadap keberagaman idealnya memang perlu ditanamkan sejak anak usia dini. Bagaimana caranya? Hal itu bisa dimulai dengan sering membuka ruang diskusi yang aman dan inklusif di rumah dan sekolah. Peran orang tua dan guru serta pemimpin agama yang berwawasan inklusif dan kebangsaan menjadi penting. Maka diperlukan adanya ruang-ruang perjumpaan agar satu dengan yang lain antar kelompok agama yang berbeda, antar suku yang berbeda untuk saling bertemu dan saling mengenal. Pepatah mengatakan bahwa tak kenal, maka tak sayang. Dengan adanya perjumpaan bisa mengurangi kesalahan persepsi dan sekaligus akan mengurangi ketidaktahuan dan meningkatkan kedekatan relasi dalama keberagaman. Laboratorium keberagaman adalah keluarga, sekolah, perguruan tinggi dan lingkungan masyarakat.

Maka perlu dan penting sekali orang tua menanamkan nilai toleransi dan keberagaman ini kepada anak-anaknya sejak dini. Orang tua harus terbiasa mengenalkan kepada anaknya bahwa berbeda itu indah, berbeda itu anugerah. Tuhan menciptakan manusia sebagai mahkluk mulia dengan berbagai macam keragaman yang harus diterima, dihargai dan disayangi. Demikian pula disekolah, guru, dosen harus mampu menanamkan nilai keberagaman dan toleransi sebagai langkah membangun kesadaran kolektif bahwa sebagai warga negara Indonesia yang berbeda-beda, namun diikat dalam kesatuan yang ditujukan untuk pembangunan bangsa.

Rumah, sekolah, perguruan tinggi, lembaga agama sebaiknya dirancang menjadi tempat pembelajaran yang aman untuk mendiskusikan isu-isu tentang keberagaman tersebut. Tentunya orang tua, guru, dosen dan juga pemimpin agama harus mampu menjadi fasilitator yang handal untuk membuka pikiran dan perspektif inklusif, terbuka melalui proses yang bernalar (head), yang berempati (heart) dan berkemauan untuk bertindak (hand). Jika kita ingin melihat generasi Indonesia yang maju, bertumbuh dan bertoleransi, maka mau tidak mau pola ini kita tanamkan sejak dini, dan bersinergi serta kolaborasi dengan semua pihak. Semua pemangku kepentingan juga perlu sekaligus menjadi role model untuk mencontohkan dan memberikan teladan dalam hidup yang saling menghargai, menghormati, menyanyangi dalam keberagaman.

 

Dr Anil Dawan MTh

Dosen Prodi Manajemen UPJ dan Aktivis Sosial Kemanusiaan WVI


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home