Loading...
INSPIRASI
Penulis: Endang Hoyaranda 03:00 WIB | Senin, 05 Januari 2015

Jangan Menjadi Mediocre!

Penjajahan selama 3,5 abad melahirkan mental jajahan, bawahan, tak punya kuasa, bahkan atas diri sendiri. Bangsa kita menjadi bersikap pasif dan reaktif.
Unik dan berbeda (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Mediocre, biasa-biasa saja, itu konon ciri bangsa Indonesia. Setidaknya demikianlah anggapan seorang panelis asing pada pertemuan kesehatan bulan lalu di Jakarta. Dingin tidak, panas pun tidak.

Sekilas terkesan tak salah  karena budaya Indonesia (mayoritas) pun mengajarkan:  rendah hatilah, jangan ambisius, jangan seperti Pungguk merindukan Bulan. Paham yang membuat orang menerima keadaan apa adanya, yang sungguh baik secara hakikat, tetapi tentu bisa kebablasan: tidak berupaya mengubah keadaan. Kebablasan itu harus dicegah karena sesungguhnya founding fathers Indonesia mengajarkan untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit. Keadaan harus bisa berubah menjadi lebih baik, dan kitalah agent of change itu.

Indonesia tidak akan pernah merdeka tanpa keyakinan di benak para pejuang kemerdekaan bahwa perubahan menuju perbaikan merupakan keniscayaan. Lalu mengapa saat ini bisa muncul cap oleh bangsa lain bahwa kita terjebak dalam mediocrity?  Ada beberapa alasan, dan untuk kepentingan tulisan ini diangkat beberapa hal saja.

Pertama, penjajahan selama 3,5 abad melahirkan mental jajahan, bawahan, tak punya kuasa, bahkan atas diri sendiri. Bangsa kita menjadi bersikap pasif dan reaktif. Kedua, masih terlihat warisan sistem dan pola pikir orde baru, yang sedikit banyak merupakan penjajahan model lain: baru berani melangkah atau berpendapat setelah ada ”tuntunan dari atas”, menunggu perintah. Itu juga melahirkan mental pasif karena perubahan datangnya dari luar sana dan bukan dari diri sendiri.  Buat apa berubah, kalau perubahan itu belum tentu menghasilkan? Berubah ’kan mengandung risiko, lagi pula mengubah situasi ’kan berarti keluar dari zona nyaman? Lebih baik diam saja, dan akibatnya dicap mediocre.

Ketika sekarang kita sudah lama merdeka, sudah jauh meninggalkan masa orde baru, bahkan dipimpin seseorang yang memicu revolusi mental, mengapa kita masih saja berkubang dalam mediocrity? Karena kita belum menyadari kemampuan kita yang luar biasa untuk mengubah situasi. Sekalipun sejumlah putera bangsa sudah membuktikan bahwa bangsa kita bukan sekedar ”bangsa tempe”, mediocrity tetap menjadi masalah besar. Tidak menyadari risiko yang bakal timbul jika tidak berubah, itu juga masalah.

Saat ini kekuatan ekonomi Indonesia berada pada 16 besar dunia! Teman-teman negara tetangga sudah tak sabar menunggu berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN akhir tahun ini karena mereka ingin menikmati juga kebesaran ekonomi kita. Masakan kita biarkan mereka yang menikmati ekonomi Indonesia ketimbang putera bangsa kita sendiri?

Pada tahun-tahun ke depan Indonesia akan mengalami demographic bonus, di mana lapisan masyarakat usia produktif berada dalam jumlah yang sangat besar. Jika kelompok itu tidak mandiri, tidak produktif melainkan bergantung pada orang lain, maka Indonesia akan terjebak dalam middle class trapkelompok usia produktif yang tidak kreatif-inovatif sehingga tidak banyak berkontribusi bagi perkembangan sosial-ekonomi bangsa. Dalam beberapa puluh tahun ke depan mereka akan menjadi beban bagi generasi berikutnya karena masih harus diurus oleh generasi penerus.

Risiko memang besar dan perlu keberanian keluar dari zona nyaman. Tetapi risiko itu layak diperjuangkan dan harus diperjuangkan demi kemajuan dan kejayaan bangsa, demi kebaikan keluarg, dan diri sendiri.

Menjadi mediocre memang nyaman, tetapi berbahaya karena menurunkan kewaspadaan terhadap ancaman dari luar. Jangan tunggu! Mulailah dengan enggan menjadi sekedar mediocre! Galilah talenta Anda, upayakan dengan sungguh-sungguh untuk mengembangkan talenta itu bagi orang banyak, dan mohonlah dukungan Tuhan. Tuhan pasti akan mendukung ketulusan yang bukan hanya bagi diri sendiri. Jika Anda saat ini sudah menemukan talenta itu, bangunlah dan lakukan yang terbaik dengan talenta pemberian Tuhan itu. Inilah yang Ia inginkan dari Anda: melipatgandakan talenta!

 

Editor: ymindrasmoro

Email: inspirasi@satuharapan.com


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home