Loading...
DUNIA
Penulis: Eben E. Siadari 14:03 WIB | Rabu, 30 September 2015

Jurnalis Nigeria Pemersatu Kristen dan Muslim Wafat di Tragedi Mina

Bilkisu Yusuf (kanan) bersama mantan Ibu Negara AS, Laura Bush di National Center for Women's Development di Abuja, Nigeria, Januari 2006. (Foto: pri.org)

ABUJA, SATUHARAPAN.COM - Salah seorang korban meninggal dalam Tragedi Mina, Mekkah, adalah Hajjah Bilkisu Yusuf dari Nigeria. Ia termasuk dalam lebih dari 800 jemaah yang berpulang akibat terinjak-injak saat akan menjalankan ritual lempar jumrah pada Kamis (24/9).

Di negaranya, ia sangat dicintai, demikian juga di luar negaranya. Ia dipuji berkat peranannya mendobrak hambatan sosial. Dia bekerja sebagai pemimpin redaksi di tiga surat kabar nasional Nigeria sejak 1980-an, di era ketika negara yang sangat patriarkal itu sangat mencurigai pencapaian perempuan.

"Dia seperti role model," kata Aisha, seorang kolumnis koran yang, seperti Bilkisu, berasal dari negara bagian Kano, Nigeria. "Dia adalah bagian dari gerakan yang benar-benar menangkap imajinasi saya," kata dia, sebagaimana dikutip oleh Public Radio International (PRI), pri.org.

Aisha bukan satu-satunya wanita Muslim muda yang terinspirasi oleh Yusuf. Dia mendirikan sebuah kelompok LSM yang didedikasikan untuk memajukan kesetaraan, terutama di wilayah utara Nigeria yang sebagian besar berpenduduk Muslim.

"Anda dipaksa untuk mendengarkan dia," kata Aisha. "Ini adalah sebuah pertanyaan yang dapat mendefinisikan diri sendiri tanpa terkotak pada stereotip apa pun yang mudah disisihkan atau dikesampingkan. Dia mematahkan hambatan sosial dan agama."

Darren Kew dari University of Massachusetts, Boston, juga  mengenal Bilkisu.

"Begitu dia mulai berbicara Anda mengerti Anda berada di hadapan seseorang yang benar-benar kuat, yang benar-benar bisa menggerakkan orang dan membuat mereka melihat ke depan ketika jalan itu masih samar," kata Darren, yang memimpin lembaga Pusat Perdamaian, Demokrasi dan pembangunan.

Bilkisu membela gadis-gadis Chibok yang - para remaja yang diculik oleh Boko Haram pada 2014. Puluhan tahun sebelumnya, ia mendirikan salah satu kelompok perempuan pertama Nigeria bagian utara dan memimpin sebuah asosiasi perempuan Muslim Nigeria yang menurut Darren, "membuka pintu bagi mobilisasi politik perempuan di Nigeria utara. "

Dia juga dikenal sebagai pemersatu Kristen dan Muslim.

"Dia merasa bahwa Islam menuntut seseorang untuk melintasi batas agama dan membangun jembatan antara Muslim dan Kristen," kata dia.

Bukan berarti Bilkisu selalu menentang tradisi. Seperti kalangan Muslim lainnya yang taat di Nigeria utara, ia mengikuti aturan untuk tidak bersalaman dengan pria. Tetapi seorang kenalan menggambarkannya, sebagai "seseorang yang bisa menolak bersalaman dengan seorang pria tanpa menyakiti hatinya."

"Hajjah Bilkisu memiliki cara melakukannya dan Anda masih tetap merasa sangat dihormati," kenang Aisha. "Dia akan  menganggukkan kepalanya dan hampir tunduk kepada Anda seraya berkata, 'Anda tahu saya sangat berterima kasih bahwa Anda ingin menjabat tangan saya, tapi itu bukan sesuatu yang dimungkinkan oleh agama saya."

Editor : Eben E. Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home