Loading...
INDONESIA
Penulis: Bayu Probo 21:23 WIB | Senin, 15 September 2014

Kapolda: Pengirim Surat Ancaman ISIS Orang Iseng

Satuan polisi elite antiteror Indonesia dari Densus 88 menjaga empat warga Turki saat tiba di bandara Jakarta pada 14 September 2014. Keempat warga Turki tersebut ditangkap di Sulawesi dan dicurigai terlibat dengan jihadis ISIS, ujar juru bicara kepolisian. Detasemen 88 menangkap mereka bersama dengan tiga warga Indonesia, setelah membuntuti mobil mereka pada 13 September 2014 di Poso, Sulawesi Tengah, tempat yang terkenal rawan oleh aktivitas militan, ujar juru bicara kepolisian. (Foto: AFP)

BATAM, SATUHARAPAN.COM – Kapolda Kepulauan Riau Brigjend Pol Arman Depari memastikan pengirim surat ancaman dari jaringan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang ditemukan Petugas Kantor Pos Batam hanyalah orang iseng.

“Itu hanya orang iseng,” kata Kapolda usai menghadiri peresmian Politeknik Pariwisata Batam (Batam Tourism Polytechnic/BTP) di Batam Kepri, Senin (15/9).

Ia mengatakan Polri belum mengetahui identitas pengirim surat yang isinya mengancam akan mengebom ibu kota Jakarta itu.

“Identitas asli belum, kalau identitas yang palsu ada,” kata Kapolda.

Aparat kepolisian juga belum memeriksa petugas Kantor Pos Batam untuk menyelidiki pengirim surat ancaman itu.

Ia mengatakan sampai saat ini Polda Kepri juga belum membuat operasi pengamanan khusus untuk mengawasi pergerakan warga negara asing di provinsi kepulauan itu dalam mengantisipasi penyebaran gerakan ISIS.

Meskipun Kepri adalah pintu masuk WNA ke tiga terbesar di Indonesia setelah Jakarta dan Bali, namun menurut Kapolda, kondisi di Kepri masih terkendali.

“Pengawasan kami lakukan terus, tidak perlu terkait ISIS, kami lakukan,” kata pria yang baru menjabat Kapolda Kepri beberapa pekan.

Sementara itu, di Palu, polisi menangkap empat orang WNA karena diduga terlibat jaringan ISIS.

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Kepolisian Indonesia, Komisaris Besar Polisi Agus Riyanto mengatakan empat WNA itu ditangkap Polda Sulawesi Tengah dan Detasemen Khusus 88 Anti Teror di Desa Marantale, Kecamatan Siniu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Dari identitas yang didapat, mereka adalah A Basyit, A Bozoghlan, A Bayram, A Zubaidan, yang awalnya diduga sebagai warga negara Turki.

Riyanto mengaku sejauh ini pihaknya menduga keempat warga asing itu berencana ke Poso untuk bergabung dengan kelompok Santoso yang difasilitasi terduga teroris, Mochtar, yang berada di Poso, yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang. (Ant)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home