Loading...
PARENTING
Penulis: Octavia Putri 13:10 WIB | Kamis, 23 Desember 2021

Kemampuan yang Perlu Dimiliki Anak Sekarang

“It is easier to build strong children than to repair broken adults.” ~ Frederick Douglas.
Ilustrasi. (Foto: pixabay)

SATUHARAPAN.COM - Era globalisasi saat ini dimana akses teknologi dimudahkan, maka pengetahuan pun mudah didapatkan. Menurut The Partenership for 21st century skills menyebutkan bahwa anak perlu memiliki kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Tetapi, selain pengetahuan dan kemampuan tersebut, anak-anak juga perlu memiliki kompetensi lainnya, misalnya pengembangan karakter, sehingga ia dapat bertahan di era persaingan global.

Kemampuan yang perlu dimiliki anak sekarang dirangkum menjadi 4C, yaitu critical thinking dan  creativity, communication skills, serta ability to work collaboratively

Berpikir kritis dan kemampuan menyelesaikan masalah dapat diasa oleh orangtua. Kemampuan ini pun berfokus pada analisa dan evaluasi informasi. Umumnya terlihat dari pertanyaan-pertanyaan sederhana hingga pertanyaan yang kompleks. Kita sebagai orangtua dapat mendengarkan dan berikan perhatian. Usahakan tidak menyepelekan pertanyaan anak, sehingga anak lebih antusias, jika bertanya. Kemudian, jawablah pertanyaan anak dengan kredibel dan jelaskan dengan Bahasa yang mudah dipahami anak. Hindari istilah yang sulit dipahami anak. 

Jika kita tidak tau jawabannya, ungkapkan bahwa kita tidak tau dan libatkan si kecil untuk mencari tahu jawabannya bersama. Dari sini, akan terbentuk juga diskusi bersama. Dengan hal ini, diharapkan dapat mengasa kemampuan berpikir kritis dan menyelesaikan masalah mereka.

Lalu, membahas tentang kreativitas, sebenarnya secara alami setiap anak sudah terlahir kreatif. Kreativitas diibaratkan sebagai pisau yang perlu diasa, sehingga semakin terlihat bakat mereka. Kreatif sendiri berarti kemampuan menggunakan imajinasi, sehingga dapat terciptakan sesuatu hal yang baru. Orangtua dapat mengasa kreativitas anak dengan memberikan kesempatan anak unuk bereksplorasi serta memberikan pengalaman baru. 

Dari sini, anak akan belajar banyak hal. Oh ya, tidak lupa kurangi larangan terhadap anak. Paling penting adalah perhatikan keselamatan anak. Jika berbahaya, orangtua jelas harus melarang dan jelaskan alasannya. Tetapi, jika masih bisa ditoleransi, maka berikan kesempatan. 

Contoh, anak bermain lumpur umumnya orangtua takut kotor, tetapi kotor dapat dicuci, jadi jelaskan kondisinya. Setelah main, harus cuci tangan atau pun mandi agar bersih. Bukan melarang, tapi ada kondisi dan aturan yang dapat diikuti anak. Ini dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar dan bermain. 

Selain itu, orangtua dapat memberikan kesempatan anak untuk eksplorasi minatnya, misalnya dengan meminta anak bercerita, main pura-pura, mengambar, atau pun bermain lego untuk mengasa kreativitasnya juga. Tidak lupa, anak juga perlu pendampingan saat mereka bereksplorasi ya.

Berkaitan dengan kemampuan berkomunikasi, bukan hanya berbicara atau malah mendengarkan, perlu dua arah. Bukan hanya menemani anak menghabiskan waktu, tetapi terlibat aktif dalam kegiatan mereka. Selain itu, komunikasi bukan hanya secara verbal, tetapi ada komunikasi non-verbal. 

Komunikasi non verbal dikenal dengan SLANT. Sit up straight, yaitu duduk dengan tegak, Listen berarti dengarkan, Answer and ask question yakni menjawab dan mengajukan pertanyaan, Nod to show interest berarti mengangguk sebagai tanda tertarik pada percakapan yang berlangsung, dan Track the speaker yakni memperhatikan pembicara. 

Dengan memahami komunikasi non verbal ini, maka anak akan membangun kesan baik sebagai jembatan percakapan. Nantinya, akan menjadi bekal anak bersosialisasi. Selain itu, kemampuan dasar lainnya, anak juga perlu diajarkan menunggu dan berbicara secara bergantian.

Kemampuan lain dari 4C adalah tentang ability to work collaboratively yakni kemampuan untuk bekerjasama, John Bleeke dan David Ernst menyatakan bahwa di masa depan akan terjadi peningkatan strategi kolaborasi dibandingkan kompetisi sebagai bentuk hubungan ekonomi dan bisnis lintas batas. Jika anak terbiasa berkolaborasi dan bekerjasama, maka ketika dewasa nanti, ia akan lebih dapat menyelesaikan masalah dengan cepat dan efisien serta saling belajar dari orang lain. Mereka juga akan memiliki empati yang lebih baik.


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Edu Fair
Back to Home