Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 15:47 WIB | Minggu, 13 Februari 2022

Ketegangan di Ukraina Meningkat, AS Tarik Staf di OSCE di Donetsk

150 tentara AS yang membantu melatih pasukan Ukraina telah meninggalkan negara itu
Ketegangan di Ukraina Meningkat, AS Tarik Staf di OSCE di Donetsk
Tentara AS dari Divisi Lintas Udara ke-82 berjalan di dekat G2A Arena setelah kedatangan mereka di Bandara Rzeszow-Jasionka, di Jasionka, Polandia pada 8 Februari 2022. (Foto: Patryk Ogorzalek/Agencja Wyborcza.pl via Reuters)
Ketegangan di Ukraina Meningkat, AS Tarik Staf di OSCE di Donetsk
Seorang perempuan berjalan melewati patung Lenin di Donetsk pada 18 Januari 2022, ibu kota negara bagian Republik Rakyat Donetsk (DPR) di Ukraina timur. (Foto: dok. AFP)

DONETSK, SATUHARAPAN.COM-Staf Amerika Serikat di Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCE) mulai ditarik dengan mobil dari kota Donetsk yang dikuasai pemberontak di Ukraina timur pada Minggu (13/2), kata seorang saksi mata, dikutip Reuters, di tengah kekhawatiran kemungkinan invasi Rusia ke Ukraina.

Namun belum ada informasi OSCE tentang penarikan itu. Amerika Serikat dan sekutunya telah mendesak warganya untuk segera meninggalkan Ukraina untuk menghindari invasi, termasuk kemungkinan serangan udara, memperingatkan serangan dapat terjadi kapan saja.

Sementara itu, Rusia menuduh negara-negara Barat menyebarkan kebohongan.

Sementara itu, sekitar 150 tentara AS dari Garda Nasional Florida yang berada di Ukraina untuk membantu melatih pasukan Ukraina telah meninggalkan negara itu karena ancaman invasi Rusia meningkat, kata dua pejabat AS dikutip Reuters.

Para pejabat, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan keputusan itu dibuat setelah Departemen Luar Negeri memerintahkan beberapa staf kedutaan AS di Ukraina untuk meninggalkan negara itu.

Para pejabat mengatakan belum jelas di mana pasukan akan dipindahkan, dan belum jelas apa yang akan terjadi dengan sejumlah kecil pasukan operasi khusus AS di negara itu, kata salah satu pejabat. "Keputusan itu dibuat karena sangat berhati-hati," kata pejabat itu.

Australia, Selandia Baru, Jerman dan Belanda pada hari Sabtu (12/2) bergabung dengan negara-negara yang mendesak warganya untuk meninggalkan Ukraina. Washington mengatakan pada hari Jumat (11/2) bahwa invasi Rusia, kemungkinan dimulai dengan serangan udara, dapat terjadi kapan saja.

Moskow telah berulang kali membantah versi Washington, dengan mengatakan pihaknya telah mengumpulkan lebih dari 100.000 tentara di dekat perbatasan Ukraina untuk menjaga keamanannya sendiri terhadap agresi oleh sekutu NATO.

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home