Loading...
BUDAYA
Penulis: Francisca Christy Rosana 09:49 WIB | Sabtu, 28 Februari 2015

Lagi, Bali Jadi Tuan Rumah International Women’s Conference

Patung Garuda Wisnu Kencana adalah ikon Pulau Bali. (Foto: Francisca Christy Rosana)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Acara tahunan International Women’s Conference (IWC) yang menghadirkan perempuan-perempuan hebat di dunia akan kembali digelar pada 5 hingga 6 April 2015 mendatang. Menariknya, Indonesia, tepatnya Pulau Bali akan kembali menjadi tuan rumah IWC.

Dewi A. Suryaningtyas, Fasilitator Program Art of Living Foundation menjelaskan dipilihnya kembali Bali sebagai lokasi IWC ialah karena Pulau Dewata ini mewakili eksotisme heterogenitas masyarakat di Indonesia.

“Orang-orang asing berdatangan ke Bali, tapi mereka tetap bertahan dengan tradisinya. Mereka dianggap memiliki toleransi paling tinggi,” kata Dewi saat ditemui di Kediaman Duta Besar India, Jalan Taman Suropati, Jakarta Pusat, Jumat (27/2) sore.

Lebih lanjut, Dewi menjelaskan IWC pertama kali diawali di India pada tahun 90-an. Digelarnya IWC beralasan karena di Indi, peran pemerintah kurang mendukung perempuan. Namun, setelah IWC digelar, komunitas perempuan di India mampu menggalang dana untuk membangun sekolah khusus anak perempuan. Selanjutnya, hampir setiap tahun acara ini diadakan di berbagai negara.

“IWC ini untuk advokasi internasional dan menunjukkan hasil yang sudah dicapai perempuan kepada dunia. Perempuan dianggap baik. Mereka mampu melakukan pencapaian di luar tugas rumah tangganya,” ujar Dewi.

Pokok yang akan dibahas dalam IWC nanti pun terkait persoalan lingkungan hidup, leadership, social media, dan perdamaian.  

“Social media adalah tema yang paling baru yang sebelumnya belum pernah dibicarakan. Social media ini kini tengah menjadi masalah besar, bisa berdampak positif dan bisa negatif,” ujar Dewi.

IWC tahun ini mengangkat the butterfly effect sebagai payung utamanya.

Menurut Dewi, kepakan kupu-kupu di Brasil menyebabkan badai di Amerika, artinya segala sesuatu itu saling memengaruhi. Kupu-kupu diibaratkan sebagai perempuan juga ternyata memberi pengaruh besar bagi sesamanya.

“Tak ada orang yang hidup tanpa dipengaruhi lingkungannya. Selalu ada interdependence. Apapun yang dilakukan, itu pasti ada dampaknya. Yang utama, kupu-kupu yang menyimbolkan perempuan itu akan lebih kuat mengepakkan sayap berkelompok daripada sendiri. Transformasi perempuan pun dilakukan secara berkelompok,” ujar Dewi.

Lebih lanjut, Dewi menjelaskan acara ini terbuka untuk umumdan tak membatasi hanya perempuan yang menjadi pesertanya. Laki-laki pun menurut Dewi akan diperbolehkan untuk ikut. 

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home