Loading...
BUDAYA
Penulis: Sotyati 19:53 WIB | Senin, 01 Desember 2014

Lego, Penghasilan Naik 4 Kali Lipat dalam 10 Tahun Terakhir

Lego, permainan sepanjang zaman, membidik pasar Asia. Berkembangnya era digital malah menciptakan kesempatan bagi perusahaan permainan asal Denmark itu untuk membangun pangsa pasarnya semakin besar. (Foto: theyoungfolks.com)

LONDON, SATUHARAPAN.COM - Lego, yang berkantor pusat di Kota Billund, Denmark, membuka kantor pusatnya yang kelima di London, 28 November lalu. Perusahaan permainan itu terus berkembang di seluruh penjuru dunia.

Joergen Vig Knudstorp, pemimpin perusahaan Lego kepada kantor berita AFP pada 30 November, mengatakan salah satu target utama perusahaan permainan itu adalah Asia. Selain kantor di Shanghai dan Singapura, perusahaan Lego juga membangun pabrik di Kota Jianxing, sebelah selatan Shanghai, awal tahun ini, untuk membuat produk Lego bagi pasar Asia.

Banyak generasi kanak-kanak di seluruh dunia tumbuh dewasa dengan menyukai permainan Lego. Dan, ketenaran permainan tablet komputer serta permainan video ternyata tidak mengubah ketenarannya.

Knudstorp berpendapat, plastik kotak warna-warni, dengan nama yang merupakan singkatan dari kata bahasa Denmark "leg godt" yang artinya "bermain dengan baik" itu akan tetap ada untuk “berabad-abad lamanya”.

Ia mengakui perusahaan itu mengalami kemunduran satu dasawarsa lalu, namun sekarang merupakan pembuat mainan terbesar dunia dalam hal penjualan, dengan penghasilan yang meningkat empat kali dalam 10 tahun terakhir.

Alih-alih mengancam ketenaran Lego, Knudstorp mengatakan era digital malah menciptakan kesempatan bagi perusahaan untuk membangun pangsa pasarnya semakin besar.

"Kami merupakan salah satu permaina video yang paling digemari, kami juga meraih semakin banyak pelanggan melalui media sosial, para penggemar Lego berkumpul dalam jumlah yang tidak pernah terjadi sebelumnya," katanya.

Dulu, anak-anak menonton televisi lalu bermain Lego, sekarang mereka bermain di komputer tablet lalu bermain Lego, tambahnya.

"Alasan mengapa mereka melakukannya, adalah karena banyak anak-anak dan orang dewasa, ingin bermain dengan benda nyata dan ingin mendapatkan pengalaman secara fisik. Walaupun kita suka nonton permainan sepakbola atau memainkannya dengan PlayStation, hal ini tidak sama dengan berlari di lapangan dan menendang bola," ujar Knudstorp. (voaindonesia/AFP)

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home