Loading...
INSPIRASI
Penulis: Katherina Tedja 05:45 WIB | Minggu, 13 Desember 2015

Lilin Merah Muda Sukacita

Sukacita menjadi milik kita seketika pada saat kita menyandarkan hidup kepada Sang Sukacita itu sendiri!
Foto: istimewa

SATUHARAPAN.COM – Secara tradisional lilin merah muda dinyalakan pada minggu ketiga Adven. Tetapi belakangan ini, beberapa keluarga menyalakannya pada minggu keempat. Hal ini mudah dimengerti karena lilin merah muda menandakan sukacita. Semakin dekat kita pada pengujung penantian… semakin tepat rasanya memperingati sukacita yang melimpah ruah. Sukacita yang sekali melimpah tidak akan menjadi kosong lagi…

Bukankah sukacita adalah emosi sesaat? Bukan! Untuk sebuah emosi, kita memiliki kata-kata lain yang memiliki arti hampir serupa: senang, gembira, riang, bahagia. Namun, tidak satu pun dari ungkapan itu yang maknanya benar-benar sama dengan sukacita.

Kita merasa senang (dan gembira), ketika kita mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Es krim kesukaan kita… gaun atau tuksedo mewah… mobil keluaran muktahir.

Kita gembira (juga senang) karena bertemu orang-orang yang kita kagumi atau kita kasihi… Sahabat lama, mantan bos, dosen yang dahulu membimbing kita… orang tua… kekasih atau pasangan atau anak yang baru tiba setelah bepergian jauh.

Keriangan suasana pesta… dapat kita rasakan dan perbincangkan sampai berhari-hari lamanya. Kemeriahannya yang gegap gempita… kegembiraan bertemu teman… kesenangan memanjakan lidah dengan makanan beraneka rupa. Apalagi kalau pulangnya membawa door prize pula!

Dari semua yang baru saja disebutkan… kebahagiaan tampaknya bertahan lebih lama… Kenyamanan bersama-sama orang yang kita kasihi… kepercayaan bahwa ada orang yang mencintai kita tanpa syarat… ketenteraman sebuah keluarga.

Tetapi, semua emosi itu bergantung pada keadaan di luar kita… dan apa-apa yang di luar kita tidak bertahan lama… rasa senang kita dapat berakhir bersama es krim kesukaan yang meleleh di lidah… hadiah door prize bisa rusak lebih cepat dari yang kita perkirakan… dan pepatah bilang tidak ada perjumpaan yang tidak usai…

Itu benar bahkan untuk sebuah perkawinan paling berbahagia sekalipun. Tentunya jika pernikahan berhasil mengatasi perbedaan, pertengkaran, rasa curiga, badai cemburu, dan egoism. Berbahagialah jika seseorang dapat merayakan peringatan pernikahan emas (50 tahun) dan masih bersama-sama… mungkin kita dapat mengantisipasi perayaan pernikahan berliannya (75 tahun) juga… meskipun kemungkinannya kecil sekali. Namun, zaman sekarang… bukankah banyak pernikahan yang berjalan hanya sampai perayaan pernikahan kayu (5 tahun), atau bahkan kertas (1 tahun)….

Namun sukacita… tidak bergantung kepada apa pun yang di luar kita, sukacita diberikan kepada kita dan berdiam di dalam kita selamanya. Itu adalah kesukaan besar, rasa berkecukupan, damai, tenteram, dan teguh… meski keadaan dan segala sesuatu di luar kita berkecamuk bagaikan gila… Sukacita menjadi milik kita seketika pada saat kita menyandarkan hidup kepada Dia yang pernah datang sebagai Bayi Kudus… Sang Sukacita itu sendiri!

 

Editor: Yoel M Indrasmoro

Email: inspirasi@satuharapan.com

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home