Loading...
DUNIA
Penulis: Eben Ezer Siadari 10:25 WIB | Senin, 19 Januari 2015

Mahathir Mundur dari Organisasi Penganjur Pembakaran Alkitab

Mahahtir Mohammad (kanan) dengan Ibrahim Ali, Ketua Persatuan Pribumi Perkasa (Perkasa) (Foto:dinmerican.wordpress.com)

KUALALUMPUR, SATUHARAPAN.COM - Mantan Perdana Menteri Malaysia, Dr Mahathir Mohammad, dikabarkan merasa tidak puas dengan haluan politik yang dijalankan oleh Persatuan Pribumi Perkasa (Perkasa), organisasi yang dua tahun lalu menganjurkan pembakaran Alkitab di Malaysia, karena memakai kata "Allah" dari bahasa Melayu di dalamnya.

Jika dulu Mahathir membela seruan partai yang kontroversial tersebut, kini mantan Perdana Menteri Malaysia itu dikabarkan merasa kurang puas dengan langkah-langkah Perkasa dalam menangani isu-isu sensitif, termasuk isu pembakaran Alkitab yang menimbulkan kemarahan dari umat Kristen Malaysia.

Hal itu dikatakan oleh sebuah sumber Perkasa yang tidak mau disebutkan namanya, namun cukup banyak dikutip oleh sejumlah media Malaysia, termasuk oleh The Malaysian Insider dan Malaysia Chronicle hari ini, Senin (19/1).

Sumber yang merupakan pemimpin Perkasa itu kepada The Malaysian Insider mengatakan Dr Mahathir tidak gembira dengan cara Perkasa mencetuskan dan mengurus isu-isu sensitif dan kontroversial. Pada sisi lain, ia menambahkan, Perkasa juga tidak mau diidentikkan dengan Dr Mahathir walaupun mereka sangat menghormati bekas perdana menteri itu.

"Kami harap jangan kaitkan pandangan Tun M (Dr Mahathir, Red) dengan Perkasa dan jangan kaitkan tindakan Perkasa dengan Tun M," katanya.

"Kedua belah pihak tiada ikatan apa-apa kecuali kami menghormati Tun M dan kami percaya Tun M menyokong banyak perkara yang Perkasa perjuangkan,” demikian The Malaysian Insider melaporkan.

Kali terakhir Dr Mahathir bertemu dengan Perkasa terjadi pada November tahun lalu. Namun, bekas Presiden UMNO itu tidak hadir pada pertemuan akbar tahunan ke-5 Perkasa atau Mesyuarat Agung Tahunan ke-5 pada bulan Desember, dengan alasan kesehatan.

Sumber itu mengatakan sebab utama Dr Mahathir tidak hadir sesungguhnya bukan karena alasan kesehatan melainkan karena tidak puas dengan Perkasa. Mahathir juga sudah mengemukakan kekecewaannya pada pertemuan November.

"Dr Mahathir semasa pertemuan dengan Perkasa memberikan teguran yang agak tegas kepada mereka (Perkasa)," kata sumber yang juga turut berada dalam pertemuan tersebut.

Meskipun demikian, sumber tersebut menganggap  teguran Dr Mahathir itu merupakan perkara biasa.

"Pastinya mungkin ada juga yang Perkasa buat Tun M (Dr Mahathir) tidak selesa tetapi jarang beliau menegur kami kerana Tun M tahu beliau tiada hak menentukan hala tuju Perkasa,” kata sumber itu dalam bahasa Melayu.

Sumber itu menepis anggapan Dr Mahathir merupakan pelindung Perkasa walaupun bekas perdana menteri itu sering kali menghadiri program dan merupakan tokoh berpengaruh dalam Perkasa.

"Tun M tidak pernah menjadi patron, penasihat, dan penaung kepada Perkasa. Yang kami tahu Tun menyokong perjuangan Perkasa sebab itu beliau selalu hadir di program Perkasa," katanya.

"Kami juga melihat Tun M adalah seorang pemimpin yang perlu didengari apa sahaja pandangannya sebab beliau seorang pemimpin hebat yang tiada tolok banding dalam sejarah negara mahu pun dunia Islam sejak beliau menjadi Perdana Menteri ke-4 Malaysia,” tulis The Malaysian Insider dalam bahasa Melayu.

Perkasa didirikan Ibrahim Ali, mantan anggota parlemen wilayah Pasir Mas, dua tahun selepas Pemilu 2008. Tujuannya adalah untuk mempertahankan hak keistimewaan Melayu dan kesucian agama Islam. Organisasi ini mengklaim memiliki anggota 400.000 dan 60 persen di antaranya disebut-sebut sebagai anggota UMNO. Selama ini Mahathir Mohammad selalu dianggap sebagai penasihat dan pelindung organisasi ini.

Sepanjang berdirinya, Perkasa tidak pernah lepas dari kontroversi yang mengundang kritik dan kecaman karena dianggap tidak menjaga sensitivitas masyarakat Malaysia yang beragam.

Semasa awal pendiriannya, Dr Mahathir banyak memainkan peranan dalam menyokong serta menjadikan Perkasa sebagai sebuah organisasi yang berpengaruh.

Tahun lalu, Dr Mahathir membela seruan Ibrahim untuk membakar Alkitab berbahasa Melayu yang memuat kata Allah di dalamnya, dan Mahathir mengatakan hal itu bukan satu masalah asalkan berniat baik.

Editor : Eben Ezer Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home