Loading...
RELIGI
Penulis: Sabar Subekti 17:04 WIB | Kamis, 18 Februari 2016

Masjid Perempuan Dibuka di Denmark

Sherin Khankan, perempuan dibalik projek pembukaan masjid perempuan. (Foto: dari Politiken)

KOPENHAGEN, SATUHARAPAN.COM – Sebuah mesjid ‘’perempuan’’ pertama dibuka di Kopenhagen, Denmark, pekan lalu. Mesjid ini terutama untuk peremopuan dan dipimpin perempuan, termasuk imamnya yang memimpin shalat Jumat.

Perempuan di balik ‘’Projek Feminis’’ masjid bernama ‘’Masjid Mariam’’ ini adalah Sherin Khankan.

‘’Saya tidak pernah merasa ‘’kerasan’’ di masjid-masjid yang ada. Masjid besar, baru, luar biasa indah, tapi saya merasa asing ketika di sana. Kami perempuan berdiri di balkon dan melihat ke bawah pada apa yang terjadi,’’ kata Khankan seperti dikutip media Denmark, Politiken.

‘’Banyak perempuan dan kaum muda bahkan tidak pergi ke masjid yang didominasi laki-laki dan patriarki di mana disediakan lantai untuk pria, doa dipimpin seorang laki-laki, fokus pada laki-laki dan mendominasi laki-laki. Itulah sebabnya kami sekarang menyiapkan sebuah masjid dalam terminologi perempuan istilah,’’ kata Sherin Khankan.

Dua perempuan sebagai imam di Masjid Mariam adalah Sherin Khankan dan Saliha Marie Fetteh. Mereka berbicara kepada 12 orang anggota dewan, dua di antara mereka adalah laki-laki. Namun lokasi masjid di Kopenhagen tetap dirahasiakan, karena mereka takut adanya serangan pihak yang menolak.

Menurut Politiken, Waseem Hussein, Ketua Danish Islamic Centre, dan imam salah satu masjid besar di Denmark, menolak klaim bahwa tidak ada tempat bagi perempuan di sebagian besar masjid Denmark.

‘’Mereka dapat melakukan apa yang mereka ingin lakukan, tetapi referensi teologis mereka salah. Mengapa harus ada kebutuhan khusus hanya untuk perempuan? Apakah kita juga membuat masjid hanya untuk laki-laki? Itu yang akan menyebabkan protes di dalam masyarakat Denmark,’’ kata Imam Waseem Hussein.

Rekonstruksi dari Dalam

Menurut Mehmet Ümit Necef Ph.D, associate profesor pada Pusat Studi Timur Tengah di University of Southern Denmark, seperti dikutip situs Politiken, masjid perempuan adalah modernisasi konstruktif Islam.

Dia membandingkan beberapa gerakanperempuan Muslim di Amerika dan Turki yang keberatan dengan kenyataan bahwa anggota keluarga perempuan tidak dapat berdiri di baris yang sama seperti laki-laki, misalnya, pada ritual untuk orang mati.

‘’Kritik Eksternal Islam menyebabkan ketakutan dan membawa keluar mekanisme pertahanan di kalangan umat Islam. Tapi fakta bahwa kritik dan inovasi berasal dari dalam sangat konstruktif. Tidak ada keraguan bahwa para perempuan itu akan dituduh terlalu kebarat-baratan dan untuk membelah Islam, atau karena tidak mengikuti perintah Islam,’’ kata Mehmet Ümit Necef.

Menolak Pemisahan

Sherin Khankan adalah seorang penulis terkenal dan komentator politik di Denmark. Dia memulai projek itu pada Februari.

Dikatakan bahwa di masjid umumnya pria dan perempuan duduk secara terpisah selama ibadah, sering dengan garis pembatas antara mereka. Beberapa perempuan merasa merasa bahwa kondisi terpisah itu mempengaruhi pengalaman ibadah mereka dengan menghalangi pandangan mereka pada imam.

"Kita telah dinormalkan dalam struktur patriarkal di lembaga keagamaan kita. Tidak hanya di Islam, tetapi juga dalam Yudaisme dan Kristen, dan agama-agama lain. Dan kami ingin menentang itu," kata Khankan kepada AFP.

Namun demikian, masjid ini akan terbuka untuk kaum laki-laki pada hampir setiap hari, kecuali pada saat shalat Jumat, kata laporan AFP.

Di Tempat Lain

Menurut situs Huffington Post, masjid perempuan telah ada di Tiongkok sejak beberapa ratus tahun lalu, namun sudah mulai ada di bagian lain dunia baru-baru ini.

Sebuah masjid khusus perempuan juga dibuka di Los Angeles pada tahun 2015 dengan harapan meningkatkan akses perempuan terhadap pengetahuan Islam, dan mendorong partisipasi perempuan di masjid-masjid yang ada untuk mengembangkan kepemimpinan dan memberi beasiswa, termasuk untuk di luar komunitas Muslim.

Meskipun perempuan biasanya ibadah di masjid tersebut, masih ada perdebatan seputar apakah perempuan boleh menjadi imam.

Pada tahun 2006, Maroko menjadi negara Arab pertama yang menyelenggarakan pelatihan pemimpin agama perempuan. Ini langkah "percobaan dan langka di dunia Muslim," kata  Merieme Addou, associate producer untuk film dokumenter tentang generasi baru imam perempuan.

"Banyak yang berpikir Islam menindas perempuan dan membatasi kebebasan mereka, tetapi ini adalah karena tradisi yang tidak ada hubungannya dengan Islam," kata Addou kepada Reuters di tahun 2015. "Laki-laki dan perempuan sama dalam agama kita. Tidak ada perbedaan."

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home