Loading...
INSPIRASI
Penulis: Daniel Santoso 01:00 WIB | Kamis, 03 April 2014

Membuka Pintu Komunikasi

Konflik (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Beberapa waktu lalu, tanpa disangka saya terlibat adu argumen dengan rekan kerja. Sangat singkat, tidak lebih dari dua menit. Namun, diakhiri dengan kedua belah pihak meninggalkan ruangan dengan hati panas membara. Sebenarnya hanya masalah yang dapat dibicarakan baik-baik seandainya saja setiap pihak tidak berprasangka terlebih dahulu.

Mengapa konflik dapat terjadi? Biasanya friksi yang terjadi dalam relasi terjadi akibat adanya perbedaan kepentingan, harapan, cara bertindak, proses berpikir, kedewasaan, dan seterusnya. Walaupun penting untuk mengetahui penyebabnya, jauh lebih berguna dan membangun untuk dapat menyelesaikannya dengan tuntas. Meminimalkan hasil negatif dan memaksimalkan dampak positifnya.

Sudah lebih dari dua puluh tahun saya bekerja sama dengannya. Sesungguhnya saya merasa sudah cukup mengenalnya hingga merasa bahwa ia akan cukup sabar menghadapi keegoisan saya. Tapi apa hendak dikata, rupanya ia sedang stres berat akibat banyak masalah sehingga ia dengan segera melampiaskan emosinya bagaikan rentetan tembakan senapan otomatis. Tretetetetetetetetetetet!

Ouch! Saya terhenyak. Belum pernah hal seburuk ini terjadi. Walaupun saat itu ubun-ubun saya juga sedang berasap, saya berhasil untuk menahan kata. Agar kegaduhan tidak bertambah ruwet, saya segera memutuskan untuk pergi meninggalkan ruangan. Dengan risiko akan dianggap kekanak-kanakkan. Tetapi, toh sudah telanjur karena di awal pertemuan saya sudah sembarangan menumpahkan kekesalan saya.

Banyak cara tersedia untuk menyelesaikan kekacauan komunikasi. Win-win solution merupakan salah satu yang terkenal. Namun, cara mendominasi atau menghindari masalah juga sering dipraktikkan. Menurut saya, hal yang paling penting untuk dapat menyelesaikan kebuntuan komunikasi adalah dengan membuka pintu komunikasi dengan bersedia membuka hati:  mengakui kesalahan, memberi pengampunan, dan memahami perbedaan.

Berita baiknya: pada pukul 10 malam pada hari itu juga, teman saya berbesar hati untuk mengirim SMS berisi permintaan maaf kepada saya. Salut! Bersyukur, Tuhan juga sudah bekerja dalam hati saya sebelum pesan itu diterima sehingga kami pun dapat memadamkan amarah sebelum matahari terbenam. Atau lebih tepatnya: sebelum hari berganti.

 

Editor: ymindrasmoro

Email: inspirasi@satuharapan.com


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home