Loading...
EKONOMI
Penulis: Prasasta Widiadi 02:35 WIB | Sabtu, 18 Juli 2015

Mempertahankan BI-Rate Tinggi Kontra Produktif Saat Resesi

Ilustrasi: Seorang warga menunjukkan uang pecahan kecil atau receh dari salah satu mobil bank yang berada di lapangan Lenggang Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Selasa (7/7). Ratusan warga mulai memadati outlet penukaran uang di sejumlah mobil bank baik pemerintah maupun swasta menjelang dua pekan Lebaran dengan total mencapai Rp 125,2 triliun di seluruh Indonesia. (Foto: Dok.satuharapan.com/Dedy Istanto).

MANADO, SATUHARAPAN.COM –  Pengamat Ekonomi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Agus Tony Poputra mengatakan kebijakan BI mempertahankan BI rate pada level yang tinggi, kontra produktif dengan upaya keluar dari resesi.

"Kondisi resesi membutuhkan stimulus bagi dunia usaha untuk mengakselerasi perekonomian agar tidak terjebak dalam lingkaran setan resesi," kata Agus di Manado, Jumat (17/7).

Suku bunga kredit yang lebih murah merupakan salah satu stimulus yang menjadi kompensasi atas kenaikan biaya produksi yang terimbas oleh pelemahan Rupiah. Namun manakala BI rate ditahan pada level yang tinggi, tidak ada insentif bagi perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit dan meningkat pertumbuhan kredit. Bahkan banyak bank saat ini menurunkan target pertumbuhan kredit untuk mengantisipasi peningkatan kredit macet dalam kondisi suku bunga tinggi.

Kebijakan BI rate tinggi juga akan menimbulkan masalah bila bank sentral Amerika Serikat (the Fed) menaikan suku bunga acuannya.

Pada situasi ini, katanya, BI secara psikologis akan terdorong untuk menaikan BI rate untuk mencegah aliran dana keluar. Akibatnya, dunia usaha akan semakin tertekan dengan suku bunga yang lebih tinggi.

Alasan utama BI mempertahankan BI Rate adalah menjaga inflasi dan rupiah di tengah kecenderungan ekonomi global yang bias. Akan tetapi, penggunaan BI rate untuk mengendalikan inflasi tidak selalu tepat untuk semua situasi.

Apabila inflasi berasal dari sisi kelebihan permintaan (excess demand), maka kebijakan menaikan ataupun mempertahankan BI rate yang relatif tinggi cukup tepat. Walaupun terjadi penurunan output nasional dari kebijakan tersebut namun masih lebih tinggi dari posisi output awal.

Di sisi lain, apabila inflasi berasal dari sisi Penawaran karena tekanan biaya (cost push inflation), maka kebijakan BI tersebut menciptakan dampak yang tidak diinginkan. Meskipun dapat mengendalikan inflasi, BI rate yang tinggi akan menurunkan output nasional lebih rendah dari posisi keseimbangan awal.

Fakta yang ada memperlihatkan inflasi Indonesia saat ini lebih dipicu dari sisi Penawaran sebab dalam keadaan resesi Permintaan cenderung turun.

Kenaikan harga BBM subsidi beberapa bulan lalu serta pelemahan Rupiah telah meningkatkan biaya produsen. Oleh sebab itu, kebijakan BI mempertahankan BI rate yang tinggi kontra produktif dengan upaya mendorong Indonesia keluar dari kondisi resesi.

“Saat inflasi didominasi sisi Penawaran, maka pemerintah yang seharusnya lebih banyak berperan untuk menurunkan ekonomi berbiaya tinggi,” kata dia.

Pertama, katanya, dapat mengurangi titik-titik pungutan liar. Kedua, membenahi simpul-simpul distribusi barang terutama terkait dengan transportasi dan kegiatan bongkar muatan sebab biaya transportasi terutama antar pulau saat ini relatif tinggi. Beberapa pihak mengklaim bahwa porsi biaya transportasi sekitar 25 persen dari harga barang.

Ketiga, membenahi produksi tanaman pangan yang selama ini menjadi penyebab inflasi musiman yang tinggi. Pembenahan tersebut menyangkut perataan produksi antar waktu dan peningkatan efisiensi produksi. (Ant).

Ikuti berita kami di Facebook

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home