Loading...
EDITORIAL
Penulis: Redaksi Editorial 14:24 WIB | Rabu, 30 September 2015

Menejemen Pelayanan Ibadah Haji

Jemaah haji mengelilingi Kabah di Mekkah. (Foto: Ist)

SATUHARAPAN.COM - Tragedi mematikan kembali terjadi di kalangan umat Muslim ketika tengah menjalankan ibadah haji di Mina, di luar kota Mekkah, Arab Saudi. Kejadian pada hari Kamis (24/9) pekan lalu itu menyebabkan kematian sedikitnya 1.100 jemaah dari berbagai negara, dan ratusan lainnya terluka, serta masih ratusan yang belum diketahui keberadaannnya.  

Tragedi itu terjadi karena desak-desakan jemaah pada sebuah persimpangan jalan ketika menuju lokasi untuk menjalankan ibadah melempar jumrah. Disebutkan banyak yang meninggal karena terinjak-injak.

Tragedi ini bukan yang pertama dan dalam beberapa tahun lalu tragedi akibat desak-desakan juga pernah terjadi. Namun dalam kasus ibadah haji tahun 2015 ini penyebabnya masih simpang siur. Ada pihak yang menuduh seorang pangeran Arab Saudi yang juga berhaji menghentikan iring-iringan jemaah dan menyebabkan desak-desakan.

Sementarab itu, dari sejumlah negara, terutama pemerintah Irak, menuding pemerintah Arab saudi yang tidak memiliki kemampuan untuk mengelola pelayanan bagi jemaah yang beribadah. Namun pihak Arab Saudi menyatakan tragedi itu terjadi akibat jemaah yang tidak mengikuti petunjuk petugas di lapangan.

Dalam masalah ini, respons di Arab Saudi juga menunjukkan situasi yang cukup serius, antara lain Menteri Urusan Haji Arab Saudi, Wali Kota Mekkah, dan Kepala Polisi Kota Mekkah dipecat dari jabatannya. Namun terbetuik berita bahwa di kalangan keluarga kerjaan juga ada ketidakpuasan pada Raja Salman yang naik tahta pada Januari lalu.

Menejemen Pelayanan

Terlepas dari apa sebenarnya penyebab tragedi itu, ibadah haji memang merupakan salah satu peristiwa di mana ada begitu banyak manusia berkumpul dalam waktu yang sama di tempat yang sama. Hal ini memang membutuhkan menejeman yang besar dan kuat untuk mengelola secara baik.

Menurut situs berita A-Arabiya, jumlah jemaah haji tahun ini sekitar dua juta orang, dan mereka datang dari lebih 180 negara. Dan tampaknya ada rencana untuk meningkatkan daya tampung untuk lebih banyak Muslim bisa menunaikan ibadah ini.

Tentang bagaimana ibadah itu dijalankan, tentu saja itu merupakan wilayah keimanan umat Muslim, namun terkait pelayanan bagi jemaah agar bisa menjalankan ibadah dengan khusyuk tentu membutuhkan pengembangan dan perbaikan.

Mengelola pelayanan kegiatan ibadah ini tampaknya meliputi hal-hal dalam skala besar, karena menyangkut jutaan orang di tempat dan waktu yang bersamaan. Untuk melayani jemaah haji diperlukan banyak penerbangan yang membawa jemaah, termasuk transportasi lokal, penginapan dan penyediaan makanan, mengelolaan bagasi dan keperluan ibadah, juga penyediaan hewan kurban, dan proses penyembelihan dan pengelolaan daging kurban, pelayanan kesehatan dan rumah sakit.

Infrastruktur untuk menampung jemaah yang begitu banyak juga terkait dengan bangunan dalam skala yang besar. Dan tantangan-tantangan itu bisa terkait dengan masalah-masalah sosial lain pada jemaah, misalnya ada jemaah yang baru pertama kali melakukan perjalanan dengan penerbangan dan keluar negeri yang membutuhkan bimbingan.

Melihat kondisi yang seperti itu, sebagai konsekuensi dari meningkatnya gairah umat Muslim menjalankan ibadah haji, perbaikan dan peningkatan menejemen pelayanan bagi jemaah tampaknya menjadi penting, di samping perdebatan dan saling menyalahkan terkait tragedi Mina. Penyelidikan yang dilakukan atas tragedi itu dan diminta melibatkan sejumlah negara, hasilnya hanya akan bermakna jika itu didedikasikan untuk peningkatan pelayanan bagi jemaah, baik di Arab saudi maupun di negeri asal jemaah.

Tragedi ini memang memilukan, termasuk bagi keluarga jemaah dari Indonesia, dan kami menyampaikan turut berbela sungkawa. Dan harapan yang terutama adalah menejemen pelayanan menjadi lebih baik, agar umat Muslim bisa beribadah dengan lebih baik.


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home