Loading...
INDONESIA
Penulis: Francisca Christy Rosana 21:17 WIB | Minggu, 16 Agustus 2015

Menguak Makna Kemerdekaan Wakil Gubernur DKI

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat menaiki mobil perjuangan dari Gedung Joang menuju Museum Naskah Proklamasi, Minggu (16/8). (Foto: Francisca Christy Rosana)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Kemerdekaan Republik Indonesia dimaknai Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat sebagai hasil keringat, tetesan darah, dan nyawa perjuangan. Kemerdekaan menurut politikus PDIP itu tak semerta-merta merupakan hadiah dari Jepang. 

"Kita ingin masyarakat Indonesia memahami bahwa kemerdekaan tidak turun dari langit begitu saja. Bukan hadiah Jepang," ujar Djarot di Museum Naskah Proklamasi, Jakarta Pusat, Minggu (16/8). 

Di Naskah Proklamasi yang didirikan sekitar tahun 1920-an dengan arsitektur Eropa di atas lahan seluas tanah 3.914 meter persegi itu, Djarot menguak cerita bahwa gedung ini bukanlah semerta-merta hadiah dari Jepang. 

Pada tahun 1931, yang awalnya milik PT Asuransi Jiwasraya uni dipakai British Consul General sampai Jepang menduduki Indonesia. Pada masa Pendudukan Jepang, gedung ini menjadi tempat kediaman Laksamana Tadashi Maeda Kepala Kantor Penghubung antara Angkatan Laut dengan Angkatan Darat Jepang, sampai Sekutu mendarat di Indonesia September 1945. 

Setelah kekalahan Jepang, gedung ini menjadi Markas tentara Inggris. Gedung diserahkan kepada Departemen Keuangan dan pengelolaannya oleh Perusahaan Asuransi Jiwasraya. Gedung sempat digunakan oleh Perpustakaan Nasional sebagai perkantoran.

Akhirnya berdasarkan surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0476/0/1992 tanggal 24 November 1992, gedung yang terletak di Jalan Imam Bonjol Nomor 1 ditetapkan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi, sebagai Unit Pelaksana Teknis di bidang kebudayaan berada di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Dari cerita gedung inilah Djarot menganalogikan kemerdekaan diperoleh atas kemandirian bangsa. 

"Meskipun tempat ini rumah laksamana Maeda, tapi Jepang tidak begitu saja menyerahkan kemerdekaan ke Indonesia. Laksamana Maeda hanyalah satu orang Jepang yang bersimpati terhadap perjuangan bangsa Indonesia," kata Djarot.

Untuk menghargai perjuangan perebut Kemerdekaan kala itu, Djarot mengajak pelajar ke depan setiap hari Sabtu atau Minggu mengunjungi museum ini agar dapat menumbuhkan semangat juang dan inspirasi. 

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home