Loading...
DUNIA
Penulis: Eben E. Siadari 19:02 WIB | Jumat, 14 Agustus 2015

Menu Daging Babi di Sekolah-sekolah Prancis Jadi Kontroversi

Makanan halal dalam kemasan di rak sebuah toko di Paris, Perancis.(Foto: Reuters)

PARIS, SATUHARAPAN.COM – Sekolah-sekolah negeri Prancis, menurut kebijakan yang berlaku, menawarkan alternatif pengganti daging babi bila menu dengan daging babi disajikan dalam menu makan siang kafetaria sekolah-sekolah. Namun, sebuah keputusan pengadilan di Prancis dapat mengancam keberadaan kebijakan yang sudah lama diberlakukan ini.

Keluarnya keputusan tersebut mengundang kritik dari pemimpin majelis ulama Prancis.

Abdullah Zekri dari Dewan Muslim Prancis mengatakan, Kamis (13/8) ia khawatir bahwa keputusan oleh pengadilan di wilayah Dijon bagian timur dapat memicu ketidakharmonisan di Prancis - negara yang dalam beberapa tahun terakhir berusaha menemukan keseimbangan antara prinsip-prinsip sekuler dan penghormatan terhadap keyakinan agama.

Tim pembela hukum bagi kelompok Muslim telah berupaya memblokir pemberlakuan perintah yang dikeluarkan oleh Gilles Platret, seorang wali kota konservatif dari kota Chalons-sur-Saone, untuk menghapuskan alternatif daging bagi dari menu sekolah-sekolah. Alternatif pengganti daging babi ini ditawarkan di seluruh Prancis, seperti halnya menu alternatif bagi vegetarian.

Para pengacara dari kedua pihak mengatakan keputusan tersebut belum final, dan berdasarkan lebih pada langkah-langkah prosedural, tanpa perdebatan mengenai isunya sendiri.

Namun di Twitter, Platret menyebut keputusan tersebut sebuah kemenangan bagi sekularisme di Perancis. Banyak warga Prancis berkeyakinan perlunya pemisahan antara pemerintahan dan agama seperti dijabarkan dalam hukum tahun 1905 yang menjamin sekularisme. Hukum tersebut menjadi dasar langkah pemerintah Perancis belum lama ini untuk melarang hijab yang menutup muka bagi Muslim, penutup kepala bagi kaum Yahudi dan penggunaan salib yang mencolok di sekolah-sekolah negeri.

Prancis memiliki populasi Muslim terbesar di Eropa Barat, diperkirakan lebih dari 5 juta orang - sebagian besar berasal dari bekas koloni Prancis di Afrika. Kaum Yahudi, seperti orang Muslim, juga tidak makan daging babi.

Zekri, yang memimpin Observatorium Nasional Menentang Islamophobia, menyebut perintah dari wali kota Chalons-sur-Saone sebagai provokasi yang dapat menimbulkan konflik antar para siswa di sekolah-sekolah.

Philippe Petit, seorang pengacara bagi Chalons-sur-Saone, menyebut dalam sebuah wawancara televisi di BFM-TV bahwa agama "berhenti di pintu depan sekolah." (voaindonesia.com)

Editor : Eben E. Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home