Loading...
OPINI
Penulis: Tia Sastrina 06:00 WIB | Sabtu, 09 April 2022

Menyemai Kerukunan dan Menjaga Keajegan Budaya Bali

prasasti puja mandala. (Foto: dok. Humas Kemenag)

SATUHARAPAN.COM-Bali merupakan salah satu daerah populer yang menarik para wisatawan asing maupun lokal karena keindahan kotanya. Bali juga terkenal karena keragaman budaya dan adat istiadat yang masih melekat pada setiap masyarakatnya. Mereka sangat menjaga adat istiadat yang diwariskan oleh leluhurnya.

Masyarakat Bali juga memiliki sosialisasi yang tinggi dan didukung oleh perkembangan zaman, yaitu teknologi canggih dan globalisasi. Pengaruh tersebut sangat berpotensi untuk memperkenalkan dan mengembangkan budaya-budaya Bali dan keberagamaan yang masih kurang dikenal oleh masyarakat Indonesia.

Bali memiliki beberapa nilai kearifan lokal yang menjadi panutan untuk masyarakatnya. Dalam menjaga dan merawat adat istiadat dan keberagamaan, masyarakat Bali merealisasikan beberapa budaya lokal yang masih relevan dan diterapkan dalam praktik kehidupan sosial sehari-harinya. Salah satu budaya yang berkembang di Bali adalah Tri Hita Karana dan Menyama Braya.

Tri Hita Karana

Tri Hita Karana merupakan tiga jalan kebahagiaan yang menjadi sebuah filosofi dan menekankan pada tiga aspek hubungan manusia dalam kehidupan di dunia. Tiga aspek ini melingkupi hubungan manusia dengan Tuhan sebagai sumber kehidupan, hubungan dengan sesama manusia, dan hubungan dengan alam.

Setiap hubungan memiliki rasa takzim yang tinggi untuk menghormati aspek di sekitarnya dengan prinsip keselarasan antar umat untuk menciptakan hubungan yang harmonis, kedamaian, dan kesejahteraan.

Tri Hita Karana memiliki beberapa unsur yang terkait di dalamnya. Pertama, unsur parahyangan sebagai nilai keseimbangan dan keserasian antara manusia dengan Tuhan, diimplementasikan dengan menjaga kawasan suci, memberikan ruang dan hak untuk beribadah sesuai dengan ajaran agamanya masing-masing secara aman dan nyaman.

Kedua, unsur pawongan sebagai nilai keseimbangan dan keserasian dalam hubungan antar manusia dilakukan melalui pengaturan kependudukan dengan tetap mempertahankan kewenangan Desa Adat dalam pengaturan masyarakat, menanamkan nilai-nilai moderasi beragama, toleransi, sehingga masyarakat bisa hidup dalam keselarasan dan harmoni.

Ketiga, unsur palemahan sebagai nilai keseimbangan dan keserasian hubungan antara manusia dengan alam lingkungan dilakukan melalui upaya mempertahankan arsitektur Bali pada setiap bangunan di Bali, memperhatikan konsep hulu teben sebagai hirarki tata ruang di Bali, mempertahankan lingkungan hidup untuk mendukung keharmonisan lingkungan hidup masyarakat Bali.

Menyama Braya

Menyama Braya merupakan tradisi masyarakat Bali yang sudah direalisasikan sejak zaman dahulu. Tradisi ini bukan diterapkan oleh umat Hindu saja, melainkan seluruh umat beragama di Bali, mereka menerapkan tradisi Menyama Braya.

Menyama Braya merupakan perpaduan dari konsep kebudayaan lokal Tri Hita Karana pada unsur Pawongan (menjaga hubungan baik antar manusia) yang diterapkan dengan tradisi lokal, yaitu Tat Twam Asi (aku adalah kamu dan kamu adalah aku), Wasudewa Khutumbhakam (kita semua bersaudara), segilik seguluk selulung sebayantaka, paras paros sarpanaya, saling asah, asih, asuh (bersatu padu, menghargai pendapat orang lain, saling mengingatkan, menyayangi, dan tolong menolong).

Seluruh konsep inilah yang melandasi cara berpikir dan cara bersikap masyarakat Bali, sehingga mampu hidup harmonis dalam keberagaman. Masyarakat Bali mempercayai bahwa tradisi Menyama Braya ini akan tetap selalu diterapkan oleh masyarakat Bali karena melihat bahwa manusia merupakan mahluk sosial yang seharusnya menjaga hubungan baik antar sesama umat beragama dan tidak menjadikan perbedaan sebagai penghalang untuk tetap menciptakan masyarakat yang rukun, harmonis, dan saling menghormati.

Dalam menjaga kerukunan dan keharmonisan antar umat beragama, penerapan Menyama Braya bisa dilihat dari masyarakat Bali yang saling menolong dan saling melengkapi. Di antaranya adalah: Pertama, keterlibatan Pecalang (penjaga ketertiban dan keamanan adat Bali) dalam pengamanan pelaksanaan acara/upacara keagamaan, maupun peribadatan seluruh masyarakat Bali (Hindu maupun non Hindu), sehingga umat bisa melaksanakan aktifitas dengan aman dan nyaman.

Kedua, Metetulung (saling membantu), saat ada warga yang perlu bantuan, baik dalam kondisi suka maupun duka. Ketiga, budaya tradisi Ngejot (saling menghantarkan makanan saat upacara agama/keagamaan). Misalnya saat Idul Fitri, umat muslim mengantarkan makanan kepada kerabat maupun tetangga di sekitarnya. Pada saat perayaan natal, umat Kristiani mengantarkan makanan kepada kerabat maupun tetangganya, demikian sebaliknya.

Keempat, kesenian Burcek, seni Burdah dan Cekepung dari Kabupaten Karangasem, yang merupakan kolaborasi seni Burdah dari unsur Islam Melayu digabungkan dengan seni Cekepung dari unsur Hindu Bali yang telah lama dikembangkan di Karangasem. Kelima, adanya tempat ibadah yang letaknya berdampingan, seperti di Kawasan Puja Mandala, Kongco Batur yang berada di area Pura Batur, Masjid Nurul Amin Jembrana yang letaknya berdekatan dengan Pura Majapahit Jembrana.

Tri Hita Karana dan Menyama Braya adalah tradisi yang sangat menarik untuk direalisasikan di masyarakat Indonesia. Hal tersebut juga bisa mempengaruhi masyarakat turis maupun lokal yang berkunjung ke Bali. Dengan melihat tradisi tersebut masyarakat bisa tersadar bahwa setiap daerah terutama Bali banyak mengajarkan tentang sikap toleransi yang tinggi dan hal ini sangat penting untuk diterapkan di masyarakat Indonesia.

Kedua tradisi ini juga sangat menginspirasi dan direspon baik oleh Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali. Hal ini didukung dengan dibangunnya Taman Moderasi dengan keberadaan patung 6 (enam) umat beragama. Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali berkomitmen untuk dapat memberikan pelayanan yang terbaik kepada seluruh umat beragama di Provinsi Bali. (diambil dari laman Kemenag)

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home