Loading...
LAYANAN PUBLIK
Penulis: Francisca Christy Rosana 17:34 WIB | Rabu, 30 September 2015

Mobil Dinas Pemda DKI Harus Berbahan Bakar Gas

Ilustrasi: Mobil Toyota Altis terparkir di basement DPRD, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat pada September 2015. (Foto: Dok. Satuharapan.com/Francisca Christy Rosana)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), menginginkan seluruh mobil dinas yang dilimpahkan kepada pejabat Pemerintah Provinsi DKI kelak harus berbahan bakar gas (BBG). Saat ini, mobil-mobil di DKI masih berbahan bakar minyak (BBM).

Mantan Bupati Belitung Timur ini berencana menganggarkan dana untuk pembelian sejumlah unit mobil berstatus Compressed Natural Gas (CNG). Upaya ini diduga dapat mengurangi polusi yang ditimbulkan dari kendaraan berbahan bakar minyak.

Kendalanya, saat ini masyarakat masih takut menggunakan kendaraan BBG. Dari segi keamanan, banyak orang masih menyangsikannya. Namun, Ahok yakin bila gubernur dan wakil gubernur saja menggunakan mobil CNG, warga tak ragu dengan keamanan mobil berbahan gas tersebut.

“Yang melimpah di Tanah Air ini adalah gas. Jadi, kami mau dorong, mulai dari pemerintah menggunakan mobil berbahan bakar gas,” ujar Ahok di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Rabu (30/9), dalam acara penandatanganan nota kesepahaman Mobil Prototype CNG dalam rangka Studi Kelayakan CNG antara Pemprov DKI Jakarta, Dewan Energi Nasional, PT Blue Bird, dan PT Express.

Selain mobil dinas, Ahok ingin taksi-taksi yang beredar di Jakarta juga berbahan bakar gas. Taksi berbahan gas nantinya boleh melewati jalur Transjakarta secara gratis.

Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta, Andri Yansyah menyatakan akan merevisi peraturan kendaraan yang boleh dan tak boleh melewati jalur Transjakarta. Aturan ini diakui bersifat dinamis, menyesuaikan kondisi sekitar.

“Kita ganti saja aturannya. Pak Gubernur minta kita jangan dikurung aturan yang justru membatasi,” ujarnya saat ditemui satuharapan.com.

Sementara itu, Dewan Energi Nasional, Abadi Poernomo, menyatakan peran gas bumi hingga 2025 nanti harus mencapai 22 persen.

“Untuk itu, perlu optimalisasi gas bumi sebagai substitusi peran minyak bumi. Penggunaan BBG berfungsi untuk menunjang energi nasional,” ujar dia. 

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home