Loading...
INDONESIA
Penulis: Prasasta Widiadi 07:36 WIB | Rabu, 23 September 2015

Parkindo Berubah Jadi Partai Politik Gagasan Mubazir

Parkindo Berubah Jadi Partai Politik Gagasan Mubazir
Mantan Sekretaris Jenderal Partisipasi Kristen Indonesia, Supardan saat menjadi pemateri di Diskusi Antar Lembaga Keumatan Kristen “Parkindo Menuju Partai?”, hari Selasa (22/9) di Lantai 6, Gedung Sinar Kasih, Jalan Dewi Sartika 136 D, Jakarta. (Foto-foto:: Prasasta Widiadi).
Parkindo Berubah Jadi Partai Politik Gagasan Mubazir
Politikus senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Sabam Sirait (kemeja putih) dan Mantan Sekretaris Jenderal Partisipasi Kristen Indonesia, Supardan saat menjadi pemateri di Diskusi Antar Lembaga Keumatan Kristen “Parkindo Menuju Partai?”, hari Selasa (22/9) di Lantai 6, Gedung Sinar Kasih, Jalan Dewi Sartika 136 D, Jakarta.
Parkindo Berubah Jadi Partai Politik Gagasan Mubazir
Politikus senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Sabam Sirait (kemeja putih) dan Mantan Sekretaris Jenderal Partisipasi Kristen Indonesia, Supardan saat menjadi pemateri di Diskusi Antar Lembaga Keumatan Kristen “Parkindo Menuju Partai?”, hari Selasa (22/9) di Lantai 6, Gedung Sinar Kasih, Jalan Dewi Sartika 136 D, Jakarta.

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Ide perubahan Parkindo (organisasi kemasyarakatan Partisipasi Kristen Indonesia) menjadi Partai Kristen Indonesia merupakan ide sia-sia karena fokus kegiatan Parkindo sebagai partai politik sesungguhnya sudah terwadahi dalam Yayasan Komunikasi.

“Menghidupkan Parkindo (partai politik, red) yang sudah berfusi menjadi parpol baru pada hemat saya merupakan usaha yang tidak bermanfaat karena fokus kegiatan Parkindo seperti pada masa lalu sudah terwadahi di Partisipasi Kristen Indoensia dan Yayasan Komunikasi Indonesia,” kata mantan Sekretaris Jenderal Partisipasi Kristen Indonesia, Supardan, saat menjadi pemateri di Diskusi Antar Lembaga Keumatan Kristen “Parkindo Menuju Partai?”, hari Selasa (22/9) di Lantai 6, Gedung Sinar Kasih, Jalan Dewi Sartika 136 D, Jakarta.

Supardan mengatakan berdasar pengalaman empiris umat kristen di masa lalu, umat Kristen cenderung akan terpecah-pecah  dan terkotak-kotak dalam segi politik. “Karena dikhawatirkan akan ada perbedaan pandangan antara umat Kristen dalam jemaat dan umat Kristen yang ingin berpolitik,” kata dia.  

Menurut dia, gagasan Parkindo menjadi partai politik akan menimbulkan resistensi dari para pemangku kepentingan Partisipasi Kristen Indonesia dan organisasi bentukannya (Yayasan Komunikasi).

“Di dalam kondisi sosial ekonomi politik dan budaya yang majemuk dan kompleks memperjuangkan aspirasi politik berdasar pada keyakinan formal keagamaan akan lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya,” dia menambahkan.

“Mengapa? Karena akan menimbulkan perdebatan teologis yang tak akan ada habis-habisnya di kalangan umat Kristen mengenai pemisahan politik dan agama,” kata mantan Sekretaris Umum Lembaga Alkitab Indonesia tersebut.

Supardan memberi nasihat agar Partisipasi Kristen Indonesia semakin mendapat tempat di tengah-tengah umat Kristen dan masyarakat umum, dan dirasakan pengambil kebijakan, ia perlu mengefektifkan Yayasan Komunikasi sebagai organisasi sosial kemasayarakatan yang berfungsi sebagai kekuatan penekan.

“Parkindo (Partisipasi Kristen Indonesia, red) harus  berupaya agar kebijakan publik oleh penguasa sejalan dengan atau dilandasi oleh aspirasi masyarakat. Dengan kata lain, ormas ini adalah bentuk konkrit atau organisasi aksi yang sekaligus mencerminkan karakteristik dari partai Kristen indonesia namun tanpa berusaha meraih kekuasaan kecuali mengawasi di luar struktur formal,” dia menambahkan.

Ide Partisipasi Kristen Indonesia Kembali ke “Partai” Kristen Indonesia

Supardan menekankan tentang Partisipasi Kristen Indonesia tetap menjadi organisasi kemasyarakatan bersama dengan Yayasan Komunikasi  dalam kaitannya dengan ide dari para pengurus Parkindo (Partisipasi Kristen Indonesia) yang ingin kembali ke bentuk awalnya yakni sebagai partai politik.

Partisipasi Kristen Indonesia (Parkindo) merupakan salah satu organisasi kemasyarakatan di bawah bentukan Yayasan Komunikasi yang memiliki tanggung jawab melaksanakan pengkaderan di bidang politik dengan berlandaskan iman Kristen dan cinta kasih.

Yayasan Komunikasi terbentuk setelah  Partai Kristen Indonesia (juga disingkat Parkindo) melebur bersama beberapa partai politik lainnya (Partai Nasional Indonesia, Partai Katolik, Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indoensia, Partai Musyawarah Rakyat Banyak) menjadi Partai Demokrasi Indonesia pada 1973.

Partai Kristen Indonesia awalnya berdiri pada 1945, dan berpartisipasi pada pemilihan umum pada 1950 sampai dengan 1973.   

Ide awal kembali Partisipasi Kristen Indonesia kembali ke Partai Kristen Indonesia digagas oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partisipasi Kristen Indonesia, Alida Handau Lampe Guyer, yang menyatakan pengalaman sejarah dan tanggung jawab sebagai orang Kristen menuntut Orientasi Millenaris Parkindo (Partisipasi Kristen Indonesia) kembali ke “roh” Parkindo yang semula yakni sebagai partai politik yang berfungsi sebagai “utusan” dalam menyampaikan kebenaran.

“Menginterpretasikan kembali struktur, institusi, undang undan serta berbagai praktik sosial, ekonomi dan politik dalam masyarakat,” kata dia kepada audiens di Diskusi Antar Lembaga Keumatan Kristen “Parkindo Menuju Partai?”, hari Selasa (22/9) di Lantai 6, Gedung Sinar Kasih, Jalan Dewi Sartika 136 D, Jakarta.

Editor : Eben E. Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home