Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 07:58 WIB | Kamis, 25 Juni 2020

Parlemen Desak Pemerintah Lebanon Nyatakan Keadaan Darurat Keuangan

Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri. (Foto: Reuters)

BEIRUT, SATUHARAPAN.COM-Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, mendesak pemerintah Lebanon, bank sentral dan bank komersial pada hari Rabu (24/6) untuk mendeklarasikan "keadaan darurat keuangan" dan meninjau semua langkah untuk melindungi mata uang yang runtuh.

Dia juga mengatakan Lebanon tidak akan mendapat satu sen pun dari Dana Moneter Internasional (IMF) atau negara donor mana pun kecuali negara itu melakukan reformasi, di garis depan mereka mempercepat perombakan sektor listriknya yang merugi.

Pound Lebanon telah kehilangan sekitar 75 persen dari nilainya sejak Oktober, ketika masalah ekonomi yang lama muncul dan menjamur menjadi krisis keuangan yang dianggap sebagai ancaman terbesar bagi Lebanon sejak perang saudara 1975-1990.

Pound Lebanon secara resmi dipatok pada tingkat 1.507,5 terhadap dolar AS sejak 1997, namun diperdagangkan pada tingkat 6.300 - 6.500 di pasar paralel pada hari Rabu, kata seorang pelaku pasar. Melemah lagi dari tingkat 6.000 - 6.200 yang dikutip oleh pelaku pasar pada hari Selasa (23/6).

Dengan dolar yang langka, krisis keuangan telah membekukan simpanan penabung mereka dan mendorong kenaikan harga dalam ekonomi yang bergantung pada impor. "Tidak bisa diterima bahwa Lebanon dijadikan sandera pasar gelap dalam mata uang, makanan, obat-obatan dan bahan bakar," kata Berri dalam pertemuan darurat Gerakan Amal, partai Muslim Syiah yang dipimpinnya.

Negara-negara donor yang telah memberikan bantuan kepada Lebanon di masa lalu mengatakan mereka tidak akan memberikan bantuan apa pun sampai negara itu melakukan reformasi untuk memperbaiki korupsi dan pemborosan negara yang merupakan akar dari krisis. Lebanon memulai pembicaraan dengan IMF pada bulan Mei.

"Setiap pejabat Lebanon akan keliru jika dia percaya IMF atau negara atau pihak donor mana pun dapat memberi kita satu sen bantuan jika kita tidak melaksanakan reformasi," kata Berri.

"Sejujurnya, dunia dan komunitas internasional percaya Lebanon adalah keranjang bolong (tanpa dasar), dan sebelum lubang  ini ditutup tidak akan ada bantuan." (Reuters)

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
LAI Got talent
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home