Loading...
RELIGI
Penulis: Ignatius Dwiana 20:25 WIB | Kamis, 30 Januari 2014

Pegowes Muslim Syiah Sampang Surati Presiden SBY

Pegowes Muslim Syiah Sampang Surati Presiden SBY
Para pegowes Muslim Syiah Sampang yang menggelar aksi damai di depan istana negara pada 26 Juni 2013 lalu. (Foto-foto: Ignatius Dwiana)
Pegowes Muslim Syiah Sampang Surati Presiden SBY

SATUHARAPAN.COM – Sepuluh pegowes Muslim Syiah Sampang menyampaikan uneg-unegnya dengan mengirim surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Surat tertanggal 28 Januari 2014 itu diterima satuharapan.com pada Kamis (30/1).

Mereka adalah perwakilan Muslim Syiah Sampang, Madura, yang gowes selama 16 hari dan menempuh  perjalanan 850 kilometer untuk bertemu Presiden di Jakarta. Mereka tiba di Jakarta pada 17 Juni 2013 lalu.

Setelah diterima Presiden pada Juli 2013, para pegowes itu dijanjikan akan dipulangkan sebelum tahun 2014, bahkan sebelum Lebaran 2013. Tetapi sampai saat ini janji Presiden belum terwujud juga.

Berikut surat 10 pegowes kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Surat Pegowes Syiah Sampang Untuk Pak SBY

Bapak Presiden SBY Yang Terhormat,

Masih ingatkah dengan kami, Pak? Kami para pengungsi Syiah Sampang yang pernah dengan baik hati diterima Pak SBY di kediaman Pak SBY di Cikeas saat bulan Ramadan yang mulia pada bulan Juli 2013. Sebelumnya kamilah 10 orang perwakilan pengungsi yang jadi pegowes dari Surabaya ke Jakarta selama 16 hari lamanya semata-mata untuk bertemu Pak SBY.

Apakah Pak SBY sehat selalu? Semoga Pak SBY sehat selalu beserta keluarga. Kami pengungsi yang sudah hampir 18 bulan di pengungsian dalam keadaan baik-baik saja. Walau ada saja yang sakit dan lemah, anak-anak sering tidak bisa sekolah karena harus ditutup sementara. Tapi Insya Allah kami  selalu tabah dan bertawakal kepada Allah Swt sebagaimana nasihat Pak SBY.

Kami selalu memegang nasihat Pak SBY saat bertemu di Cikeas agar jangan mendengar siapa-siapa kecuali Pak SBY untuk menyelesaikan kasus kami dan membawa kami kembali pulang ke kampung halaman. Tak henti-hentinya kami berdoa untuk kesehatan Pak SBY agar selalu punya waktu  mengurus orang-orang terzalimi seperti kami. Surat ini kami kirimkan kepada Pak SBY karena kami terus terang semakin lelah menanti. Kami bingung apakah sebenarnya Pak SBY masih ingat dengan kami dan nasib kami.

Ketika kami dipilih sebagai tim pegowes, kami senang sekali meskipun ada yang sudah tua untuk mengayuh sepeda tapi kami senang dan semangat karena ini perjuangan demi teman-teman sependeritaan, sehingga kami tetap semangat mulai dari berangkat sampai ketemu Pak SBY. Meskipun panas, hujan, lelah mengganggu di jalan, kami tetap jalan, kami tetap semangat, hingga akhirnya Pak SBY mau menemui kami setelah beberapa hari kami mengelilingi istananya dengan sepeda ontel, termasuk senang kami ketika SBY mau menemui kami, dan ketika mendengarkan cerita dan janji dari SBY hati kami merasa sangat puas, karena kami kira janji SBY ini akan nyata dengan perbuatannya.

Kalau kami pribadi jujur sangat senang bertemu dengan Pak SBY, karena janji Pak SBY waktu itu kan positif. Waktu itu Pak SBY janji akan ke Jawa Timur dan semua rumah akan dibangun kembali sebelum akhir tahun, tapi sampai sekarang belum ada buktinya. Ya, kalau awalnya hati kami senang sekali mendengar janji dari Pak SBY karena ini bapaknya orang se-Indonesia telah janji mau menyelesaikan masalah kami, bahkan Pak SBY janji akan membangun rumah orang-orang kampung bukan hanya milik orang Syiah dan jalan akan diperbaiki, dan sekolahan juga akan dibangun. Pak SBY juga bilang Syiah-Sunni itu sama-sama Islam. Kalau ingat kembali dari kata-kata Pak SBY sungguh sangat positif apalagi Pak SBY sempat mengeluarkan air mata. Kami langsung berharap kepada Pak SBY, karena siapa lagi yang bisa menyelesaikan masalah ini.

Pak SBY yang baik, kami bersepeda ontel dari Surabaya menuju Jakarta dengat tujuan dan harapan besar terhadap Pak SBY yang kami anggap seorang bapak yang bisa mengadilkan dan merangkul anak-anaknya. Ketika kami menceritakan kondisi pengungsi Pak SBY saat itu menangis. Mungkin Pak SBY tidak tega. Kami pun terharu sekali. Setelah itu kami tak lupa, Pak SBY juga berkirim salam ke pengungsi. Melihat itu semua kami sangat senang sekali, karena Pak SBY terlihat sangat serius bakal menyelesaikan masalah ini.

Saat di Cikeas, Pak SBY berjanji akan segera menyelesaikan kasus Syiah Sampang dan akan segera memulangkan pengungsi sebelum tahun 2014 bahkan sebelum lebaran, karena saat Pak SBY bertanya pada kami “Kapan kalian mau pulang?” Ust Iklil bilang “Pengennya kami lebaran di kampung halaman” terus Pak SBY bilang “Iya Insya Allah kami usahakan akan pulangkan  sebelum lebaran, kami akan ke Jawa Timur untuk mengatur permasalahan-permasalahan  yang ada di Jawa Timur dan melihat langsung situasi di sana, dan kami akan tetap usaha”.

Tapi sampai sekarang belum ada yang terbukti janjinya, bahkan ketika Pak SBY ke Jatim untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada di Jatim, mengapa Pak SBY malah menyerahkan penyelesaian kasus ini ke pemerintah daerah? Lupakah Pak SBY ketika mewanti-wanti kami agar jangan mendengar siapa-siapa, cukup Pak SBY saja yang didengar untuk akan menyelesaikan masalah kami? Kami sedih karena Pak SBY mampir kepengungsian saja tidak, kami cuma dilewati. Tapi sudahlah, sampai sekarang kami masih tetap menunggu janjinya Pak SBY, kami masih berharap kepada Pak SBY dan tak pernah kehilangan keyakinan kepada Allah Swt dan keadilan-Nya.

Pak SBY juga masih ingat kan saat bilang sangat prihatin atas derita yang menimpa warga Syiah Sampang dan kirim salam ke pengungsi. Tambah senang hati kami saat mendengar itu, karena  dalam perasaan kami, Pak SBY masih menganggap kami sebagai anaknya, dan Pak SBY kelihatan sangat serius dengan janjinya waktu itu. Apalagi Pak SBY siap membangun kampung kami dengan kucuran dana 1 triliun, tambah senang lagi kami karena kampung kami mau dibangun. Bukan hanya rumah orang Syiah katanya yang mau dibangun tapi semua akan dibangun dan diperbaiki. Tapi ditunggu-tunggu sampai sekarang belum ada satu pun janji Pak SBY yang terbukti. Anggapannya sekarang ini, apakah Pak SBY ingin membohongi anaknya sendiri. Sekarang kami kecewa dan ragu terhadap jani Pak SBY. Kami ini nggak tahu mau ngomong apa sekarang. Apakah benar kami sebenarnya sedang dibohongi oleh bapak negara sendiri? 

Demikian.

Rusunawa Jemundo, Sidoarjo, 28 Januari 2014

 

Hormat kami,

Nurhalimah, Bujadin, Mualli, Mahrus, Rohman, M. Rosyid, Abdul Muis, Abdul Basit, Samsuri, Anwar.

 

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home