Loading...
RELIGI
Penulis: Trisno S Sutanto 20:28 WIB | Senin, 12 Mei 2014

Pembukaan KGM ke-IX PGI: Keadilan Sosial Tuntutan Utama

Pembukaan KGM ke-IX PGI: Keadilan Sosial Tuntutan Utama
Sri Sultan Hamengku Buwono IX memberi pidato kunci di KGM (Konferensi Gereja dan Masyarakat) ke-IX PGI di Yogyakarta (12/05).(Foto-foto: Trisno S. Sutanto)
Pembukaan KGM ke-IX PGI: Keadilan Sosial Tuntutan Utama
Pendeta. Dr. A.A. Yewangoe membuka resmi KGM ke-IX PGI.
Pembukaan KGM ke-IX PGI: Keadilan Sosial Tuntutan Utama
Pendeta. Dr. A.A. Yewangoe menyalami Sri Sultan.
Pembukaan KGM ke-IX PGI: Keadilan Sosial Tuntutan Utama
Suasana peserta KGM ke-IX PGI di Yogyakarta.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Keadilan Sosial merupakan tuntutan fundamental masyarakat sekarang. Hal itu ditegaskan Sultan Hamengku Buwono IX, Gubernur DI Yogyakarta, saat memberi pidato kunci yang membuka KGM (Konferensi Gereja dan Masyarakat) ke-IX PGI di Yogyakarta Senin (12/05) sore.

Karena itu, Sultan mengusulkan, dalam membangun peradaban Pancasila kita bisa mulai dari sila terakhir, yakni bagaimana menciptakan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia.

“Tidak mungkin nilai-nilai demokratis dipertahankan jika perut lapar,” ujar Sultan. “Demokrasi politik dan demokrasi ekonomi itu dua sisi yang saling berkelindan. Di atas keduanya persatuan kita sebagai bangsa akan makin kokoh, nilai-nilai kemanusiaan dapat dijunjung tinggi, dan sila ketuhanan menjadi makin mantap,” 

Uraian Sultan memperoleh sambutan hangat dari sekitar 200 peserta yang memadati aula hotel Sahid the Rich, Yogyakarta.

Bertolak dari krisis multidimensional yang sekarang melanda, Sultan menengarai bahwa agama-agama dapat mengalami insignifikansi internal dan irrelevansi eksternal jika tidak mampu membarui dirinya.

Menurut Sultan, sekarang ini agama sudah memasuki masa post-dogmatic religion. “Kalau hanya menekankan kebenaran ajaran atau dogma agama, maka agama justru akan mengalami insignifikansi dan irrelevansi itu,” katanya. “Agama harus kembali menjadi cerita yang dapat menyemangati kehidupan sehari-hari.”

Sementara itu Pendeta Dr. A.A Yewangoe, ketua umum PGI, dalam sambutannya saat membuka secara resmi KGM, mengingatkan agar orang jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Sebab mereka yang melupakan sejarah, justru akan dilindas oleh sejarah.

“Saat ini banyak orang meremehkan dan bahkan melecehkan Pancasila. Itu yang saya maksud dengan melupakan sejarah,” ujarnya. “Padahal Pancasila merupakan nilai-nilai dasar yang selama ini telah mempersatukan kita semua. Jika dilupakan, maka kita akan dilindas sejarah, yakni tidak mampu mempertahankan kesatuan kita sebagai bangsa.”

KGM sendiri, yang secara resmi dibuka mulai Senin sampai Kamis (15/05) nanti, merupakan forum rutin PGI guna merumuskan pikiran-pikiran pokok yang akan mewarnai Sidang Raya XVI di Nias, pada November nanti.

Tercatat lebih dari 200 peserta dari sinode-sinode di seluruh pelosok Indonesia akan mengikuti KGM kali ini, yang secara khusus akan mendalami upaya-upaya untuk mengembangkan spiritualitas ugahari dan bentuk-bentuk ekonomi alternatif guna melawan globalisasi keserakahan.


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home