Loading...
HAM
Penulis: Reporter Satuharapan 09:34 WIB | Kamis, 19 Januari 2017

Pendeta Papua yang Mengaku Dipukuli Polisi Ubah Keterangan

Pendeta Anius Hilapok, S.Th, ketua Klasis Ibele Gereja Kingmi, Kab Jayawijaya, yang diduga dianiaya dan disiksa oknum polisi di Wamena, Jayawijaya (Foto: Dok Matius Murib)

JAYAWIJAYA, SATUHARAPAN.COM - Pendeta Gereja Kingmi Kabupaten Jayawijaya, Anius Hilapok, mengubah keterangannya setelah sebelumnya ia mengatakan dipukuli dan disiksa polisi pada 10 Januari lalu pasca kecelakaan lalu lintas berupa tabrakan sesama pengendara sepeda motor di Wamena. Yang terjadi, menurut dia, adalah seseorang memukuli dirinya setelah terjadinya tabrakan, tetapi ia tidak tahu siapa.

Hal ini dikatakan oleh Matius Murib, advokat dan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Papua yang juga menjadi anggota Tim Terpadu Penanganan Dugaan Pelanggaran HAM di Provinsi Papua dan Papua Barat yang dibentuk Menkopolhukam, ketika satuharapan.com mengkonfirmasi kelanjutan dari laporan adanya pemukulan dan penganiayaan tersebut.

"Badan Pengurus Gereja Kingmi, Klasis Ibele, melalui tim Pembela HAM, meminta maaf kepada Kapolda Papua, terkait korban Pdt Anius Hilapok S.Th. Saat terjadi kecelakaan lalu lintas lalu, dia mengaku anggota polisi yang memukulinya, di bagian lain di depan keluarga, polisi, pimpinan gereja dan HAM dia juga mengaku tidak tahu siapa yang memukul dirinya," kata Matius Murib, Rabu (18/01).

Sampai saat ini, menurut Matius Murib, belum jelas siapa pelaku pemukulan tersebut.

"Kami percayakan sepenuhnya untuk polisi yang berwewenang mengungkap pelaku dan diproses sesuai dengan hukum yang berlaku," lanjut Matius.

Sebelumnya, Matius Murib memberikan keterangan telah terjadi pemukulan dan penyiksaan terhadap Anius Hilapok, diawali oleh kecelakaan lalu lintas atau tabrakan sepeda motor dengan sepeda motor di jalan raya di Wamena.

Kecelakaan lalu lintas di Papua kerap memicu kecurigaan karena munculnya dugaan-dugaan dijadikan modus untuk membungkam mereka yang kritis di Papua.

Gereja Kingmi di Papua termasuk yang kritis menyuarakan aspirasi pelanggaran HAM dan penentuan nasib sendiri di Papua.

Editor : Eben E. Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home