Loading...
EDITORIAL
Penulis: Redaksi Editorial 12:06 WIB | Rabu, 08 Juni 2016

Pesan di Bulan Ramadhan

SATUHARAPAN.COM – Di tengah umat Muslim di seluruh dunia menjalankan ibadah puasa, bermunculan juga berbagai pesan tentang membangun relasi antar umat beragama yang saling menghormati.

Hal ini menandai bahwa Ramadhan bukan saja dimaknai secara spiritual dan religius bagi umat Muslim, tetapi juga disambut oleh umat lain sebagai momentum perbaikan relasi. Ini adalah pertanda yang melegakkan dalam merespons ketegangan relasi antar umat beragama yang meluas di dunia.

Sudah banyak diketahui bahwa di Eropa, aksi teror dan gelombang pengungsi akibat perang di Timur Tengah dan Afrika telah menimbulkan respons yang merisaukan, seperti munculnya nasionalime Eropa yang dikenal sebagai PEGIDA, dan kecenderungan antipati pada pengungsi yang umunya Muslim. Demikian juga tanda-tanda bangkitnya sayap kanan di sana.

Di Amerika Serikat, Donald Trump yang memperoleh cukup dukungan untuk maju dalam pemilihan presiden tahun ini, bersuara keras untuk menolak Muslim masuk AS. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah dukungan itu justru karena sikap keras Trump? Situasi yang kritis terhadap Muslim juga muncul di Australia

Di Timur Tengah sendiri perang terus berkecamuk, bahkan seruan gencatan senjata di bulan Ramadhan diabaikan. Latar belakang perang tak jauh dari masalah politik sektarian atau politik identitas. Konflik sektarian mengeras dengan kehadiran Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS atau ISIS).

Kelompok-kelompok ini antara lain Al-Qaeda juga menyebar ke banyak negara, tertutama di Yaman, Nigeria dengan adanya kelompok Boko Haram, Al Shabaab di Somalia dan Ethiopia, dan ISIS di Libya, serta taliban di Afganistan dan Pakistan. Belum lagi masalah sentimen antara Muslim Sunni dan Syiah.

Di Asia, masalah-masalah sektarian masih muncul di Myanmar, Bangladesh, Sri Langka, dan India. Indonesia juga terus menjadi target untuk perluasan paham-paham sektarian. Bahkan di awal puasa ini, terungkap adanya pemerasan di belakang aksi organisasi keagamaan yang mempermasalahkan pembangunan rumah ibadah.

Saling Menghormati dan Kerja Sama

Di Minnesota, AS, Dewan Gereja Minnesota (Minnesota Council Churches) sudah sepuluh tahun terakhir menyelenggarakan buka puasa berasa dengan umat Muslim di sana. Tahun ini dewan itu menyebarkan papan berisi pesan untuk sudara Muslim dalam kampanye ‘’Blessed Ramadhan.’’ Kampanye ini merupakan respons atas meningkatnya Islamophobia di AS, dan diperlukan niat baik untuk membangun relasi yang lebih baik.

Di Turki, negara dengan mayoritas Muslim dan pernah menjadi pusat kekhalifahan (Utsmaniyah) buka puasa dilakukan bersama dengan pemimpin umat beragama lain, baik dari Kristen maupun Yahudi. Perhelatan ini bertujuan menyampaikan pesan tentang membangun relasi yang sehat di antara umat dengan keyakinan berbeda.

Di Berlin, Jerman, ketika gelombang pengungsi dari Timur Tengah menerjang negara itu dan menimbulkan berbagai krisis, para pemimpin umat beragama bergabung untuk memberi respons kemanusiaan. Sebagai catatan, setidaknya ada satu juta pengungsi yang sekarang ada di Jerman.

Inisiatif bantuan bagi pengungsi itu merupakan kerja sama dari orang-orang Kristen, Yahudi dan Muslim yang didukung oleh Pemerintah Federal. Aksi yang dinamai "Weißt du, wer ich bin?" (Apakah Anda tahu siapa saya?) itu dimulai 31 Mei lalu.

Inisiatif itu lahir dari dialog antarumat beragama yang beberapa kali digelar. Dirasa masih sedikit projek kerja sama antaragama Kristen, Yahudi dan Muslim yang signifikan. Dan kali ini diharapkan menunjukkan manfaat bagi masyarakat atas dialog tersebut.

Sumber Rahmat, Bukan Petaka

Aksi untuk membangun relasi yang saling menghormati itu, hanyalah sebagian yang dijadikan contoh. Di Indonesia sendiri aksi-aksi serupa yang dilakukan secara lokal namun langsung menyentuh kebutuhan masyarakat, juga banyak dilakukan.

Yang diperlukan sekarang adalah menggemakan terus pesan tersebut untuk kemudian relasi yang saling menghormati menjadi realitas dalam kehidupan. Di negara-negara yang tengah dilanda perang, setidaknya bisa menjadi pendorong untuk melihat lebih jernih bahwa dialog adalah cara yang lebih bermartabat untuk menyelesaikan masalah, dan bukannya bom yang melukai tubuh dan relasi.

Di Indonesia, relasi seperti itu juga masih memerlukan upaya untuk diwujudkan melampaui lapisan retorika dan mewujudkan dalam  kerja sama, misalnya untuk mengatasi kemiskinan dan keterbelakangan. Ketegasan pemerintah menegakkan hukum sangat diperlukan. Sebab, telah muncul premanisme di balik protes pembangunan rumah ibadah; aksi yang justru menodai kehidupan iman.

Pesan-pesan seperti itu yang sering menggema di tengah momentum religius berbagai agama, dan sekarang di bulan Ramadhan, adalah pesan untuk memaknai iman dalam realitas kehidupan bagi setiap penganut agama dan keyakinan. Bahwa agama adalah sumber rahmat, bukan sumber konflik dan petaka bagi manusia.

Konflik-konflik berlatar belakang agama itulah yang membuat agama dicibir, dan orang memilih tidak mengidentifikasi diri dengan suatu agama, kalau tak hendak menyebutnya sebagai atheis. Sebaliknya kerja sama justru yang membuka pintu bagi keterlibatan orang dalam religiusitas.

Selamat menjalankan ibadah puasa untuk umat Muslim, dan semoga relasi dengan Sang Khalik dan sesama menjadi lebih baik bagi kita semua.


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home