Loading...
LAYANAN PUBLIK
Penulis: Prasasta Widiadi 07:40 WIB | Senin, 16 Juni 2014

PRJ Awalnya Merupakan Konsep Industri Kerakyatan

PRJ Awalnya Merupakan Konsep Industri Kerakyatan
Ondel-ondel adalah bentuk pertunjukan rakyat Betawi yang sering ditampilkan dalam pesta-pesta rakyat. Nampaknya ondel-ondel memerankan leluhur atau nenek moyang yang senantiasa menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa. Ondel-ondel yang berupa boneka besar itu tingginya sekitar 2,5 meter dengan garis tengah ± 80 cm, dibuat dari anyaman bambu yang disiapkan begitu rupa sehingga mudah dipikul dari dalamnya. (Foto-foto: Prasasta Widiadi.)
PRJ Awalnya Merupakan Konsep Industri Kerakyatan
Monumen Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas atau Tugu Monas adalah monumen peringatan setinggi 132 meter (433 kaki) yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Pembangunan monumen ini dimulai pada tanggal 17 Agustus 1961 di bawah perintah presiden Sukarno, dan dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975.

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Pekan Rakyat Jakarta (PRJ) yang digelar di Monumen Nasional mulai dari Senin (9/6) telah resmi ditutup pada Minggu (15/6), tetapi tahukah anda bahwa ide awal penyelenggaraan PRJ yang kini “terbagi dua” ini merupakan sebuah penjabaran dari niat pemerintah daerah guna menunjang sektor industri atau usaha kecil menengah (UKM) agar terwadahi dan terpromosikan.Hal ini dikatakan sejarawan dan budayawan Betawi, JJ Rizal.

Rizal menceritakan saat Gubernur DKI terdahulu, Ali Sadikin memimpin Jakarta rumusan Djakarta Fair adalah wadah bagi industri rakyat agar keberhasilan usaha mereka dirayakan dan dinikmati warga Jakarta. Selain itu para pelaku sektor UKM mendapat kesempatan promosi produknya ke luar daerah, atau bahkan manca negara.

Dari tahun ke tahun, JJ Rizal menganalisis bahwa ada ide dan pelaksanaan yang berbeda dari PRJ yang saat itu hanya ada di Kemayoran. 

“Kalau melihat sejarah itu, maka PRJ yang diadakan di Kemayoran sangat bertolak belakang. Wajah yang tampil adalah wajah asing dan industrial besar, bahkan makanannya pun asing, ada sih kerak telor tapi itu juga di pinggir selokan," kata JJ Rizal dikutip beritajakarta.com Minggu (15/6). 

Ide atau gagasan Jakarta Fair pertama kali dikemukakan oleh Syamsudin Mangan yang saat itu menjabat sebagai ketua Kadin (Kamar Dagang dan Industri Provinsi DKI Jakarta). Syamsudin mengusulkan suatu ajang atau pameran untuk meningkatkan pemasaran produksi dalam negeri yang sedang mulai bangkit, Gubernur DKI Jakarta saat itu Ali Sadikin, menyambut baik gagasan tersebut.

Rizal mengatakan meskipun jauh dari konsep awal yakni memberikan ruang kepada industri rakyat, hal tersebut tidak mengurangi antusias warga Jakarta untuk datang ke PRJ Kemayoran. Salah satunya lantaran masyarakat Indonesia dikenal cukup konsumtif.

Kemudian setelah Joko Widodo terpilih sebagai gubernur pada 15 Oktober 2012, bersama wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama menggelar Pekan Produk Kreatif Daerah (PPKD) DKI Jakarta alias Pesta Rakyat Jakarta (PRJ) Monas pada 14-16 Juni 2013. Harga tiket yang dipatok lebih murah dari Jakarta Fair.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama pada Selasa (10/6) lalu meresmikan pembukaan Pekan Rakyat Jakarta Monas di kawasan wisata Monas, Jakarta Pusat.

“Bedanya dengan Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau Jakarta Fair Kemayoran yaitu PRJ Monas lingkupnya Jakarta, sedangkan PRJ Kemayoran itu lingkupnya internasional,” kata Basuki.

Menurut pria yang saat ini juga menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI itu, perbedaan lainnya yakni pemberlakuan tiket masuk untuk kegiatan Jakarta Fair Kemayoran.

“Bedanya lagi, yaitu kalau mau masuk ke Jakarta Fair Kemayoran harus pakai tiket masuk seharga Rp 20.000 sampai Rp 30.000. Sedangkan, PRJ Monas tidak pakai tiket masuk, gratis kok," ujar Basuki.

Ia menuturkan di dalam kegiatan tersebut, pihak penyelenggara menyediakan sekitar 2.780 stan gratis bagi Usaha Kecil Menengah (UKM) yang ada di enam wilayah Provinsi DKI Jakarta, termasuk Kepulauan Seribu.

"Pelaksanaan kegiatan ini juga ditanggung oleh 91 perusahaan swasta sebagai subsidi silang penyandang dana. Sponsor pun terbagi menjadi dua, yakni sponsor dari perusahaan besar dan sponsor dari perusahaan kecil," tutur Basuki.

Oleh sebab itu, dia mengungkapkan pembiayaan kegiatan tersebut tidak bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI, melainkan sponsorship dari BUMD, BUMN dan perusahaan swasta sebagai subsidi silang.

Selama enam hari pelaksanaannya, PRJ Monas mengangkat tema yang berbeda-beda, yaitu Jakarta Punya Cerita pada hari pertama, Jakarta Cantik hari kedua, Jakarta Sehat hari ketiga, Jakarta Pintar hari keempat, Jakarta Kreatif hari kelima dan Jakarta Performances hari keenam.

Kepala Dinas Perindustrian dan Energi DKI Jakarta Mochamad Haris Pidratno menyatakan pada saat pembukaan PRJ Monas, bahwa kegiatan ini tidak diadakan untuk menyaingi Jakarta Fair yang digelar di Kemayoran, akan tetapi guna memeriahkan HUT Jakarta ke-487.
Pekan Raya Jakarta Monas diadakan secara langsung oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, untuk memfasilitasi warga yang kurang mampu yang tidak bisa mendatangi Jakarta Fair Kemayoran. (beritajakarta.com/wikipedia.org/jakarta.go.id).

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home