Loading...
RELIGI
Penulis: Sabar Subekti 16:33 WIB | Senin, 13 Januari 2014

Remaja Israel Galang Bantuan untuk Pengungsi Suriah

Anak-anak Suriah di tenda pengungsi di Aarsal di pinggiran Bekaa, Libanon. (Foto: dari csmonitor.com)

JERUSALEM, SATUHARAPAN.COM – Sekelompok remaja Israel, Arab Muslim dan Arab Kristen menggalang bantuan bagi para pengungsi Suriah, khususnya untuk menghadapi musim dingin ini.

Mereka tergerak setelah badai musim dingin yang luar biasa parah bergerak melewati kawasan  Timur Tengah bulan lalu dan  menyebabkan kematian pada 27 anak Suriah.
  
Para remaja dari salah satu gerakan pemuda terbesar di negara ini telah dimobilisasi di 650 komunitas untuk mengumpulkan selimut, mantel, dan kantong tidur untuk  pengungsi  asal negara tetangga Suriah, meskipun ketegangan politik terjadi di antara kedua negara.

 Gal Lusky  dari Israel Flying Aid, adalah seorang pekerja kemanusiaan yang membantu mengatur kampanye. Dia mengatakan hal itu adalah upaya yang paling inspiratif di mana dia menjadi bagian.

"Saya melakukan beberapa pekerjaan di Pakistan, Irak,  dan Sudan, dan ini adalah pekerjaan yang paling menggerakan yang pernah saya lakukan,"  kata Lusky. Dia mengkoordinasikan kampanye yang  dinamainya “Operasi Kehangatan Kemanusiaan” (Operation Human Warmth ).

Wajib Militer

Dia melakukan bersama kelompok pemuda Hanoar Haoved Vehalomed dan berafiliasi dengan gerakan sosial Dror Israel. "Bagi saya, mengetahui bahwa anak-anak yang dalam satu tahun atau lebih mungkin akan memegang senjata  menghadapi  orang Suriah, tapi  bahwa hari ini mereka mengirimkan bantuan kepada  mereka. Ini bukan reaksi yang biasa,” kata dia.

Kebanyakan pemuda Israel bergabung dengan tentara pada usia 18 tahun untuk mengikuti wajib militer, meskipun ada pengecualian bagi orang Arab dan Yahudi dengan alasan agama. Namun beberapa tentara Israel muda yang mengetahui tentang kampanye tersebut bertanya apakah mereka bisa bergabung.

Mereka  tentu saja tidak bisa mengirim pakaian atau peralatan militer. Mereka memanfaatkan  akhir pekan untuk pulang dan mendapatkan barang untuk disumbangkan. Lusky  terpaksa memperpanjang batas waktu sumbangan hingga  15 Januari esok lusa.

Para remaja  yang terlibat memang tidak hanya Yahudi Israel. Sekitar 20 persen dari mereka adalah orang-orang Kristen Arab atau Muslim, bahkan juga dari kelompok Druze  dan Badui.

Memahami Konflik

Lusky belum tahu berapa banyak bantuan yang telah dikumpulkan, semuanya akan ditimbang dan dikemas setelah dibawa ke gudang antara 15 Januari dan 19. Kemudian mereka akan mengirim ke pengungsi Suriah atau ke kamp di mana orang-orang yang terpisah sekarang tinggal.

Namun demikian, operasi ini bukan sekadar mengumpulkan bantuan dan mengirimkan.  Dalam tiga fase kampanye, para remaja itu juga belajar lebih banyak tentang konflik dan bagaimana untuk meyakinkan pihak yang skeptis. Pertama di antara keluarga mereka  sendiri, kemudian di lingkungan mereka, dan akhirnya dalam masyarakat umum. Bantuan itu jelasnya ditujukan bagi warga sipil, khususnya perempuan dan anak-anak, yang tidak terlibat  dalam pertempuran.

"Minggu pertama operasi ini, mereka harus mengumpulkan barang-barang dari anggota keluarga mereka,  karena kami ingin mereka untuk berlatih dan mengetahui sedikit lebih banyak tentang konflik dan pertanyaan-pertanyaan sulit yang mungkin mereka akan hadapi  pada tahap berikutnya di  masyarakat," kata Lusky menjelaskan.

Di menjelaskan bahwa mereka juga merancang brosur bersama-sama untuk menjelaskan operasi tersebut. "Setidaknya generasi muda kita tidak menjadi bodoh dan mengabaikan tetangga sebelah yang menderita... Saya sangat bangga menjadi Israel pada saat-saat seperti itu," kata dia. (csmonitor.com)

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home