Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Sotyati 15:04 WIB | Selasa, 19 Januari 2016

Seledri, Penyedap Sekaligus Penangkal Hipertensi

Seledri, yang memiliki nama ilmiah Apium graveolens. (Foto: fichesrecovegetaux.e-monsite.com)

SATUHARAPAN.COM – Seledri sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu sebagai tumbuhan serbaguna, sebagai sayuran dan obat-obatan. Penelitian berkelanjutan atas senyawa-senyawa potensial yang dikandungnya mengantar tanaman ini juga dilirik perusahaan produk makanan dan parfum.   

Sebagai sayuran, bagian daun, tangkai daun, dan umbinya dimanfaatkan sebagai campuran sup. Di Indonesia, tumbuhan yang diperkenalkan oleh penjajah Belanda ini, daunnya digunakan untuk menyedapkan sup atau sebagai lalap. Rajangan daunnya, ditaburkan di atas aneka sup, bakso, soto, atau bubur ayam.

Di negara-negara Jepang, Tiongkok, dan Korea, selain daun, tangkai daun juga dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Di Eropa, semua bagian tanaman seledri, yakni daun, tangkai daun, buah, dan umbi, dimanfaatkan.

Sebagai bahan obat, seledri, terutama buahnya, seperti dapat dibaca di Ensikopedia Tanaman Antikanker di situs resmi Cancer Chemoprevention Research Center Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, telah disebut-sebut oleh Dioskurides serta Theoprastus dari masa Yunani Klasik dan Romawi, sebagai "penyejuk perut". Namun, Veleslavin, pada 1596, memperingatkan agar tidak mengonsumsi seledri terlalu banyak karena dapat mengurangi air susu.

Sudarsono dkk dalam buku Tumbuhan Obat – Hasil Penelitian, Sifat-sifat dan Penggunaan (1996), yang diterbitkan Pusat Penelitian Obat Tradisional UGM, menyebutkan seledri sebagai sayuran antihipertensi. Secara tradisional, seledri dimanfaatkan sebagai peluruh (diuretika), anti reumatik, serta pembangkit nafsu makan (karminativa). Umbinya memiliki khasiat mirip dengan daun, tetapi digunakan pula sebagai afrodisiaka, pembangkit gairah seksual.

Namun, menurut CCRC FF-UGM, seledri juga berpotensi menimbulkan alergi pada sejumlah orang yang peka. Penderita radang ka'al tidak dianjurkan mengonsumsinya.

Carolus Linnaeus, ilmuwan Swedia yang disebut bapak taksonomi, mendeskripsikan seledri pertama kali dalam edisi pertama Species Plantarum. Ia memasukkan seledri dalam suku Umbelliferae, yang sekarang dinamakan Apiaceae, suku adas-adasan. Linnaeus memberikan nama ilmiah Apium graveolens L.

Wikipedia menyebutkan ada tiga kelompok seledri yang dibudidayakan. Pertama seledri daun atau seledri iris (Apium graveolens, Kelompok secalinum) yang biasa diambil daunnya dan banyak dipakai di masakan Indonesia.

Kedua, seledri tangkai (Apium graveolens Kelompok dulce) yang tangkai daunnya membesar dan beraroma segar, biasanya dipakai sebagai komponen salad.

Ketiga, seledri umbi (Apium graveolens Kelompok rapaceum), yang membentuk umbi di permukaan tanah, biasanya digunakan dalam sup, dibuat semur, atau schnitzel. Umbi ini kaya provitamin A dan K.

Aroma seledri yang khas berasal dari sejumlah komponen mudah menguap dari minyak atsiri yang dikandungnya, dan paling tinggi terdapat pada buahnya yang dikeringkan. Kandungan utamanya adalah butilftalida dan butilidftalida sebagai pembawa aroma utama.

Terdapat juga sejumlah flavonoid, serta senyawa golongan fenol. Komponen lainnya adalah apiin, isokuersitrin, furanokumarin, serta isoimperatorin. Kandungan asam lemak utama dalah asam petroselin. Daun dan tangkai daun mengandung steroid seperti stigmasterol dan sitosterol.

Seledri adalah terna kecil, tingginya kurang dari 1 meter. Daun tersusun gemuk dengan tangkai pendek. Tangkai ini pada kultivar tertentu dapat sangat besar dan dijual sebagai sayuran terpisah dari induknya. Pada kelompok budidaya tertentu batang membesar membentuk umbi, yang juga dapat dimakan. Bunganya tersusun majemuk berkarang. Buahnya kecil-kecil berwarna cokelat gelap.

Selain manfaat yang sudah dikenal di atas, tanaman yang berasal dari Eropa selatan dan di wilayah Sunda dinamakan saladri ini, belakangan di berbagai situs kesehatan, disebutkan memiliki khasiat menjaga kesehatan ginjal, mencegah pembentukan batu empedu pada kantung empedu, hingga mencegah kanker perut.

Kandungan minyat atsirinya yang tinggi, seperti dikutip dari science20.com, dimanfaatkan dalam produk parfum dan liqueur. Minyak dari biji seledri juga dimanfaatkan dalam aneka produk makanan. 

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home